Jumat, 26 Agustus 2011
sambungan cerpen
Sesampai di ruangan yang begitu berantakan dengan catatan-catatan seluruh pasiennya, dokter itu menyuruhku duduk dan menatapku manis. Seakan mengerti dan tahu lugunya gadis kecil di depannya ini. Tapi dia menyebutku mbak, aku sedikit sunkan juga.
“mbak, kami sangat minta maaf , mungkin mbak sangat tidak puas dengan pelayanan kami di rumah sakit ini”
Aku diam dan menatapnya santun, padahal hatiku begitu malu dengan keadaanku yang mengharukan. Nanti akan kuceritakan bagaimana memalukannya diriku saat itu.
“Mbak, faham ga seberapa ganasnya kanker paman mbak itu?”
“kemarin perawat sedikit bercerita kanker beliau itu sudah mengakar sampai ke organ tubuh beliau yang lain, setahu saya itu dok”
Aku berbicara dengan sangat berhati-hati karena di samping dokter sudah tau statusku sebagai mahasiswa, juga karena pengaruh dari sebutannya terhadapku yaitu seorang gadis berumur 20 tahun yang terjebak dalam tubuh yang begitu mungil “mbak”.
“gini mbak, penyakit paman mbak itu udah sangat parah, kami ga bisa memberikan pertolongan lebih karena usaha kami hanya sebatas memberikan obat-obat untuk keluhan-keluhan beliau. Untuk kanker itu sendiri kami hanya bisa membiarkannya dan memberikan beberapa faksin untuk memperlambat perkembangannya. Sekali lagi kami mohon pengertian dari mbak.”
Aku memberanikan diri menatap mata dokter ini,
“sebenarnya saya paham aja dok, saya tau kesempatan paman bertahan sangat sedikit, saya tau juga usaha rumah sakit hanya sekedar merawat dan ga bisa berbuat lebih lagi, sebenarnya kemo itu pun sangat berakhir fatal bagi paman saya, bagi ketahanan tubuh beliau, tapi satu yang kami harapkan dari dokter dan pihak rumah sakit yang lain dok.”
Aku lebih memfokuskan arah tatapanku ke matanya, artinya aku bersungguh-sungguh wahai dokter. Dokter pun lebih tajam lagi menatapku yang artinya, silahkan ungkapkan saja..
“Tolong jangan perparah keadaan kami dengan kesembuhan semu…”
Aku sendiri terkejut dengan perkataanku barusan.
“Maksud mbak?”
“paman saya sendiri lebih tahu dok seberapa ganas penyakit beliau, beliau lebih tahu dan lebih tahu seberapa banyak kesempatan yang beliau punya. Beliau bisa mengukurnya sendiri, Yang bisa kita sama-sama lakukan adalah berusaha sekuat dan semaksimal mungkin dengan tidak mematahkan semangat beliau untuk sembuh, lihat positifnya dok, beliau tetap berjuang, walau fisik beliau saja sudah menyerah, tapi jiwa beliau tak ubahnya seteguh karang. Semua orang ingin bertahan hidup dok.”
Entahlah, aku mengujari dokter yang bertampang India ini dengan kata-kata yang aneh dan angkuh dengan keyakinannya.
“kami tak bilang kami putus asa, kami hanya ingin mbak tahu, seginilah usaha kami, jangan berharap lebih, karena kami lihat mbak antusias dan sering mengomentari pelayanan di sini, jadi kami tak ingin mbak kecewa dengan berharap lebih, ingat lo mbak, pelayanan ini pun sudah gratis.”
“Maaf dok kalo kesan sikap saya seperti itu, saya sangat paham.. maafkan saya…”
Setelah obrolan itu, aku pamit kembali ke ruangan paman dengan hati yang sedikit mengutuki diri. Ada hal yang tak mampu ku sampaikan di depan dokter tadi, Kesembuhan semu, aku memutar otakku untuk dua kata itu, ah, bingung… tak mampu kujelaskan dengan kata saat itu, sungguh aku sendiri berat memahaminya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar