Powered By Blogger

Minggu, 25 September 2011

cerpen : Pendidikan Bertaraf Jagat Raya



*Tema Tokoh Teladan Umat*
Judul : Pendidikan bertaraf Jagat Raya
            Musim kemarau tahun ini walaupun terlambat tapi membuat hari-hari semakin panas menggelorakan emosi, ah, melelahkan, menjemukan dan mengesalkan. Kesalku makin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, jangkrik-jangkrik yang susah-susahnya kucari dan berlarut-larut malam kuberanikan diri meletakan jangkrik-jangkrik itu ke sawah dan menyusupkkannya ke semak-semak bawah padi  dekat kuburan datu-datu, juga kuburan abahku[1], tetap tidak mampu mengusir tikus-tikus sawah. Belum lagi hama-hama yang lain yang sulit dibasmi. Akhirnya tanaman padi kami tetap rusak. Tanah ladang sawah juga tidak bersahabat tahun ini. Sulit ditanami. Musim kemarau, membuat tanah menjadi kering dan rumput liar semakin menjadi-jadi. Tanaman cabe, singkong, tebu, terong dan tomatku kurus dan layu seseumpama terkena isap buyu[2], kurang vitamin.
            Itik-itik[3] malas bertelur di musim ini. Semakin cerewet dan meninggi seleraMereka tak akan mau makan kalau gabuk[4] dan umpan campuran iwak karing[5] itu berganti-ganti, tidak teratur dan jika campurannya itu terlalu amis. Itik yang suka berenang dan mencucur juga semakin malas melihat kondisi tanah yang kering. Mereka lebih suka berada di kandang bermalas-malasan ketimbang kulepas ke padang[6].
Panas menggelora, hari-hariku di samping setiap hari mengayuh sepeda laki merk pollygon dari Alabio sekitar 10 km menuju pengajian Muallim Rahmat yang digelari guru Amat di Amuntai, karena aku di sana sebagai murid tetap dan mengabdi padanya. Juga yang menjadi rutinitas di musim kemarau yang sungguh menebalkan dekil di leher dan sikuku yaitu di hamparan sawah, pahumaanku[7], disinilah kantorku, kampusku dan tempat kerja lapanganku saat orang-orang yang berseragam berkerja dan memperoleh kantor atau kampus mereka di tempat yang berpetak-petak, bertembok, tertutup, terlindung dari panas, nyaman dan begitu berkelas. Maka disinilah tempatku. Sebagai petani yang mempunyai ladang yang cukup luas tapi apa daya sebagai anak tertua yang mempunyai 2 adik laki-laki dan 4 adik perempuan. 2 tahun yang lalu ayahku meninggal dunia. Sehingga 6 adik yang racap-racap[8] dan ibu yang makin beruban Sungguh membuatku membatalkan janji-janjiku dengan masa depan. Menepis dan mengubur impian-impian masa lalu. impianku menjadi pegawai apa saja tapi yang digajih tiap tahun, berseragam dan mempunyai jaminan pensiun. Bagiku, hebat nian impianku itu dan keren.
Adik-adikku harus lah menjadi pegawai. Mereka harus tamat sekolah, jangan sepertiku setelah 6 tahun di pesantren, tapi sedikit banyaknya aku merasa dipandang sebelah mata. Mungkin karena aku tersinggung dengan pernyataan orang kampung sini. Hidup itu perlu uang, ilmu saja mana cukup. Dan yang lebih parahnya, masyarakat kampung ini, sungguh gemar memperhatikan orang lain. Akhirnya mereka akan sambung-menyambung mulut menggosip si bujang, si pecundang, si tukang melamun, si tukang pacaran dan lain-lain. Padahal anak gadis meraka sendiri tak mengerti untuk menutup auratnya dan anak laki-laki mereka hanya tukang rayu gombal anak gadis kampung. Termasuk juga umurku yang mulai bertambah matang ini menjadi sorotan gadis ndeso, mungkin kalau aku menilai di depan cermin sendiri wajahku mempunyai garis dan bentuk yang berkarakter India dan lesung pipit yang dalam di pipi kiri. Oleh karena itu gadis di sini lumayan juga genitnya. Mandi di batang[9] dengan beralaskan sarung yang menempel di badan mereka, dada mereka terbuka dan semakin jelas lekukan tubuh mereka dengan sarung yang telah basah oleh air. Batang-batang itu berjejaran di pinggir-pinggir jalan. Untung aku berangkat ke pengajian sudah agak siang, jadi jarang-jarang di batang tapi sering juga aku melihat pemandangan syetan itu. Ah, andai aku jadi pembakal[10] kampung ini, ah tanggung. Pembakal sekarang juga masih lemah menghadapi orang kampung. Mungkin lebih baiknya menjadi bupati langsung, sudah pasti dengan tanganku sendiri ku hancur batang-batang ini atau ku buat batang yang tertutup dan ada spesial untuk laki-laki dan untuk perempuan. Ah suka mengandai-andai aku ini. Nanti yang kutemui juga kantor pahumaan.
Untuk tugasku selanjutnya adalah menjadi kaum[11] di Mesjid kampung ini, sekitar 5 meter dari rumahku. Oleh karena itu julukan untukku dari nama Syamsudin menjadi Udin ditambah kaum, jadinya Udin Kaum. Memang banyak nama Udin di kampung ini, parahnya lagi ada lagu Udin Sedunia yang lagi popular dinyanyikan penyanyi baru yang asalnya hanya iseng saja membawakannya, liriknya demikian membuatku tak kepalang menanggung malu, “Udin…Udin namamu norak tapi terkenal”. Betapa gemarnya  anak-anak dan pemuda yang brandal dan suka kekonyolan menyanyikan lagu ini. Dan penyanyi aslinya sama mengerikannya dengan lagunya.
 Alhamdulillah untuk yang lima waktu itu selalu kulaksanakan di mesjid Al-Bayan, tempat aku mengumandangkan azan. Sebagai orang NU[12] banyaklah macam-macam amalan yang bermuluk-muluk kubaca dari shalawat, dzikir, syair dan lain-lain. Berbeda dengan kampung seberang, ibadah mereka sederhana dan praktis. Sebenarnya aku lebih tertarik untuk mengamalkan tadarus quran, menghafalnya dan mempelajarinya. Aku tergugah dengan kata-kata al-quran, makna-maknanya dan menjadi lebih indah dan memelodi saat lidah melantunkannya. Yang kuhapal baru juz 30, tapi harapanku adalah 30 juz. Pandai nian aku berharap. Tapi inilah diriku, saat ku rebahkan diri ini di sebidang tanah yang kering mati, ku bentangkan tangan, ku tatap awan yang menyilaukan, ku biarkan alam mengenaliku dan membacaku, aku pun membaca alam. Seakan alam adalah kitab yang terbentang. Kutantang dan kuresapi sengit panas matahari, ku hurip udara yang berbau rumput kering dan untuk kesekalian kalinya. Ku tegaskan kepada diriku sendiri, kepada hidupku, kepada takdirku. Aku atas nama Syamsudin akan tetap bertahan menghadapi hidup yang tak tentu arah ini. Aku akan tetap berjuang untuk meningkatkan kehidupan yang layak bagiku. Aku meyakini doa dan seperti kata orang bijak, hidup adalah pilihan.
Seusai dari sawah, biasanya aku langsung menyiapkan dan membagi-bagi umpan itik untuk makan pagi, siang dan sore mereka. Bau kotoran itik sudah membaur alami di kampung kami. Rata-rata masyarakat kampung ini di samping bertani juga berternak itik. Dan rata-rata tempat di bawah rumah mereka yang tinggi itu yang dijadikan sebagai kandang itik. Hampir bisa dikatakan kami serumah dengan itik. Setiap senin pagi  aku pergi ke pasar Senin untuk membeli bici atau lipis[13] untuk umpan itik. Di pasar ini juga aku tidak lupa untuk singgah di samping pelabuhan kapal pasar hanya demi melihat seorang gadis penjual ikan sepat asin dengan pakaian yang sempurna, jilbabnya menjuntai dan bergerak-gerik karena geraknya ke sana kemari. Kian minggu kian membanyak pelanggan yang menyinggahi tumpukan ikan sepat asin dagangannya. Gadis itu manis walau matahari telah melibaskan cahaya eloknya. Tapi parasnya tetap alami, seandainya gadis ini sedikit dipoles sungguh tak kalah dengan gadis norak dengan bedak lebay dan parfum murahan di kampungku. Tapi gadis ini memang berbeda. Aku berharap dia juga memperhatikanku walau sedikit pun aku tak berani mendekatinya. Hanya dua tiga kali berlalu di hadapan dagangannya.
Aku tak mengalami pengalaman cinta seheboh, setragis, seromantis dan sedahsyat pengalaman cinta kawan-kawanku. Buktinya aku tak pernah berani menyatakan perasaan kepada gadis penjual ikan sepat asin itu maupun kepada gadis manapun yang pernah kusukai. Hanya kupendam, tapi sungguh dipendam itu mengasyikkan. Faktor lain karena aku juga tak memiliki HP, alat canggih yang mampu menyambungkan suara ke suara dari tempat sejauh manapun, alat ini bisa juga untuk menemukan jodoh seperti kebanyakan pemuda pemudi kampung ini yang menemukan jodoh atau pasangan mereka berawal dari nomor hape, lalu surat menyurat lewat aplikasi yang disediakan hp, lalu telpon telponan. Lalu mereka menjalin hubungan istilah akrabnya pacaran, Selanjutnya waktu yang menyatukan mereka di pelaminan. Tapi barang yang bernama handpone itu hanya sering kulihat, tak ingin kumiliki. Prinsibku sangat kuat mengenai hape ini, saat kuyakini punya hp lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, apalagi harus dimasukkan kartu yang menarik biaya berupa pulsa. Aku tak ingin tersentuh dengan barang modern ini. Lagipula selama ini aku tidak perlu hape dan mampu bertahan tanpa hape. Yang kebanyakan orang terjangkit virus tehnologi, sulit untuk tidak memiliki hape, bahkan katanya tukang sayur pun kudu punya hape. Ah, aku tak peduli, yang berani kulakukan hanya lalu lalang di depan dagangan gadis penjual ikan sepat asin yang namanya tak kutahu, meliriknya sesekali. Hanya itu saja.
Jika setiap aku berangkat ke pengajian Muallim Rahmat, jalanan 10 meter dari Alabio ke Amuntai dengan sepeda bergigi ini akan semakin dramatis bagiku, demi menuntut ilmu, belajar kitab gundul, kitab berbahasa Arab tanba baris dan tulisannya kecil dan rapat. Setelah tamat 6 tahun pesantren di Martapura kusambung pendidikanku lewat pengajian guru Amat yang sangat kuhormati ini. Hanya demi ilmu, setiap tanjakan sepeda yang kukayuh, setiap butir keringat kian mengalir membasahi bajuku, dan setiap aku membelok dan menghindari lubang-lubang yang menganga di jalanan. Aku terpukau dengan kalimat-kalimat ilmu, terpukau dengan pengorbanan Salman al Farisi, dengan semangat Imam Ghazali, kegigihan imam Bukhari, perjuangan imam Nawawi. Ilmulah yang memberikan efek dahsyat itu. Mereka menghabiskan umur mereka untuk ilmu.
Setiba di majlis, biasanya akulah murid yang paling awal datang, terkadang bisa juga Ijai temanku yang gendut itu yang paling awal datang, rumah Ijai memang juga di Amuntai sekampung dengan muallim Rahmat. Ijai adalah temanku yang teramat istemewa, cerdas dan mempunyai semangat menuntut ilmu yang tinggi. Pemuda sepertinyalah yang ingin kujadikan sebagai teman, andai pemuda-pemudi sekarang mempunyai semangat sepertinya, semangat yang positif. Tetapi kebanyakan pemuda sekarang lebih memilih untuk menghabiskan waktu emas mereka untuk main-main, bercanda, suka ikut-ikutan dan narsisme yang tinggi. Aku dan Ijailah yang menghidupkan suasana santri di majlis guru kami ini. Tapi Ijai lebih beruntung dariku. Ijai sudah beristri dan mempunyai 2 anak.
Saat orang-orang memilih pendidikan mereka di suatu lembaga bernama, bertampat di gedung-gedung bertingkat, mempunyai absent kehadiran, didatangi oleh pengajar-pengajar, ditest, dipilih, disediakan kursi-kursi, duduk dengan terhormat, pakaian yang licin dan rapi, serta bersepatu. Mereka menikmati penjelasan pengajar yang bervariasi, ada yang menggunakan papan tulis, ada juga dengan alat proyektor dengan gambar, music dan pemutaran movie, mereka tunduk dengan aturan-aturan formalitas. Maka di majlis ini, aku duduk di lantai, di depan meja kecil untuk kitab-kitabku yang usang, papan tulis hitam yang buram menggunakan kapur, di tempat bersudut empat yang pengap tanpa kipas angin, bersandal dan tanpa absent, setiap penjelasan Muallim kusimak dengan khidmat, tidak ada diskusi, konseling dan tugas makalah maupun persentasi. Hanya duduk dan tenang, syahdu.
Tapi aku tidak pernah membatasi pendidikanku di tempat bersudut empat, dan terpaku hanya dengan huruf-huruf di kitab, Aku menganggap apa-apa yang kuperoleh di tempat bersudut empat itu hanya sebagai pengenalan teori ilmiah. Lebih dari itu, aku memilih pendidikan berstandar jagat raya, menyatu dengan alam, menyelami kehidupan. Dari sinilah aku memperoleh pendidikan akan lika-liku kehidupan, hakikat segala sesuatu, teori akhir zaman, perubahan, dunia hanya permainan dan senda gurau. Madu, semanis itulah pendidikan yang kudapat dari alam.
Walau kenyataannya aku tetap iri dengan gaya mereka yang sedia diatur oleh formalitas kedisiplinan, digajih dan berseragam. Seakan kehidupan lebih memihak mereka yang berseragam. Aku merasa seperti bintang yang kalah sinar dan ditutupi oleh awan hitam dalam kegelapan. Tapi senandungku tetap sama, untuk selalu bertahan.
Hari-hari tetap berlalu, mengalir setenang air, kadang ada beriak-beriak masalah, dan buih-buih kejadian yang akhirnya berakhir juga. Masa depan masih menjadi misteri yang tak bisa diramalkan, apalagi untuk meramal surgakah yang menjadi akhir pilihanku atau neraka yang akhirnya menjadi takdirku. Aku menikmati dan memposisikan diriku sebagai makhluk yang biasa, bukan siapa-siapa dan tak tercatat di daftar manusia-manusia hebat dunia. Hanya petani dan peternak itik yang suka menyelami sari kehidupan dari pendidikan alam. Keinginanku untuk menjadi pegawai yang berseragam hanya keinginan tak bermakna, pikirku yang polos, jika aku berseragam dan digajih, aku akan lebih mudah mendekati gadis penjual ikan sepat asin di pasar senin yang tak kutahu namanya, dan akhirnya melamarnya dengan jujuran[14] melebihi standar kampung. Dan jika aku berseragam dan digajih aku akan bisa mendapat senyum bangga ibu dan adik-adikku, mereka tak perlu khawatir lagi aku akan menjadi si tukang khayal, si bujang atau sipecundang kampung. Tapi cukup menjadi Udin Kaum pun aku sudah bersyukur. Kehidupan tak selalu seperti yang diterka. Ada rahasia dibalik rahasia.
Akhir kemarau berlalu sampai keakar-akarnya, langit menjadi sendu, dan hujan mengguyur bertubi-tubi menjatuhi bubungan atap rumbia[15]. Dua tiga wadah air ditanai[16] untuk menampung air yang mentetes dari atap yang bocor. Listrik lebih sering padam pada musim hujan ini, ituk-itik berpesta pora dengan cucuran-cucuran yang menggelikan. Jalanan becek bercampur dengan kotoran itik yang memadukan aroma yang menusuk penciuman. Semangatku tak pernah luntur walau usia semakin berlalu dan musim seakan tak pernah mendukung semangatku. Aku akan tetap bertahan.
TAMAT



[1] ayah
[2] Penyakit kurang gizi
[3] Bebek ternak
[4] Makanan bebek
[5] Ikan asin
[6] Tanah yang ditumbuhi rumput liar tapi masih bisa ditanami sayur-sayuran
[7] ladang
[8] Banyak dan berdekatan
[9] Tempat mandi terbuka di sungai
[10] Kepala desa
[11] Bilal atau muadzin
[12] Nahdhatul Ulama, suatu kelompok persatuan ulama Indonesia untuk membidangi hukum syariah sesuai keyakinannya
[13] Jenis ikan laut, ketika kering dan menjadi ikan asin bisa dijadikan umpan itik
[14] Pemberian calon penganten pria untuk mempelai wanita sebelum akad, dapat disamakan dengan mahar atau maharnya ditentukan secara khusus sesuai kesepakatan
[15] Atap yang terbuat dari daun rumbia kering dan diayam
[16] ditadah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar