Powered By Blogger

Minggu, 09 Oktober 2011

sebuah artikel



Generasi Qur’ani, Pahlawan untuk Memberantas Kemusyrikan Umat
(Analisis Singkat)
                Sebagai Negara yang mayoritas berpenduduk muslim, tidak nihil dari berbagai perselisihan pemahaman keagamaan. Islam yang dikenal memiliki berbagai macam aspek untuk menempuh kesempurnaan beragama, yaitu aspek syariat, thariqat dan hakikat, maka dari ke tiga aspek ini masing-masingnya melahirkan sendi pengaplikasian yaitu amaliah fiqh, ketauhidan dan tashawuf. Semua cabang ini memiliki sumber tuntunan dari Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam. Karena segala macam bentuk ajaran haruslah sesuai tuntunan yang diajarkan Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam. Yang menjadi permasalahan, berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam, pemahaman tentang ajaran maupun tuntunan beliau semakin meluas, sebab lain, islam menyebar pesat ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
                Awal masuk dan berkembangnya islam di Indonesia menempuh berbagai macam cara, melihat kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih erat dengan pengaruh hindu dan budha, oleh karenanya para muballigh islam mengakali semua itu dengan tetap menyampaikan dakwah kepada mereka dan  tetap menoleransi kegiatan berbau pengaruh hindu budha tersebut. Namun disayangkan, ritual-ritual itu begitu kental membudaya keibadahan mereka, sehingga mereka yang telah memeluk islam tetap saja mengerjakan ritual itu di samping melaksanakan  ajaran islam, bahkan mereka lebih suka mencampur adukan ritual ke duanya, antara kepercayaan mereka terdahulu dengan agama islam yang telah mereka anut. Hasilnya, turun temurun pencampur adukan itu masih mewarnai sifat-sifat keagamaan islam di Indonesia, bahkan mengakar menjadi kepercayaan yang wajib dilaksanakan walau sama sekali tidak bersumber dari islam sendiri.
                Menengok kembali sejarah perkembangan islam di Indonesia ini memang sangat mengagumkan, Para muballigh begitu cerdas dalam memasukkan islam ke tengah masyarakat yang sarat ritual mistik, mengingat islam adalah agama yang rasional dan melarang segala bau kemusyrikan, tapi para muballigh tetap tampil kreatif menuguhkan agama islam di hadapan masyarakat Indonesia. Namun masalah yang terjadi, nilai-nilai kemusyrikan itu masih menjamur di kegiatan islam sendiri akibat toleransi muballigh pada awalnya. Kesulitan ulama sekarang adalah dalam perdebatan antara ulama sendiri. Ada yang menerimanya dan mengakui keabsahan praktek relegi berbau budaya hindu budha ini, ulama jenis ini tetap menoleransi masyarakat untuk mempraktekannya. Sedangkan ulama selanjutnya begitu ekstrim dengan nilai-nilai pencampur adukan ini. Menjauh, menghina dan membentuk kelompok baru yang fanatisme terhadap golongan mereka sendiri.
                Sebagai penengah dari ke dua golongan tersebut, perlulah adanya pemikir-pemikir yang tetap bisa menyatukan umat namun menyingkirkan benang kusut. Permasalahn yang terjadi bukan harus dihindari maupun dibiarkan tetapi yang perlu dilakukan pemikir itu adalah mencari solusi, bukan juga ikut mengikuti salah satu dari dua pihak. Karena ke dua pihak tidak dapat disatukan selama adanya pemikiran yang tepat untuk suatu solusi jitu. Bukanlah perbedaan menjadi rahmat selama persatuan masih dapat dicapai.
                Untuk para penggelut Quran, baik penghafal, pengajar maupun pelajarnya. Merekalah pahlawan yang diharapkan mampu mengatasi dan menjawab solusi permasalahan ini. Jawaban bukan dari ucapan atau retorika dakwah saja, tetapi lebih mengarah kepada adanya aksi dakwah nyata melalui teladan konkrit untuk umat ini. Karena mungkin umat begitu haus dan mendambakan pengikut Rasulullah yang nyata. Dakwah aksi inilah yang diharapkan menjadi solusi permasalahan umat di antara celah perdebatan ulama. Umat tidak perlu banyak kata-kata, tetapi umat perlu amal nyata. Aplikasi.
                Generasi qurani harus mampu berpikir matang dalam pengarahkan umat kepada tuntunan sunah yang benar, di samping generasi qurani harus pandai untuk sedikit demi sedikit menghilangkan pengaruh-pengaruh yang berbau bidah dan syirik dari ritual umat. Bukan langsung menghalang-halangi atau mencemooh mereka, tetapi perlahan membelokkan mereka ke arah yang tepat. Kalau saja senantiasa terus menoleransi amaliah mereka yang berbau syirik itu, maka tidak aka nada perubahan dan selamanya dalam kesesatan yang diislamisasikan tersebut. Namun kalau saja langsung dirubah sepenuhnya gaya ritual mereka ke rtual tuntunan islam sebenarnya, maka akan memperbesar kobaran perselisihan  dan tangga kecongkakan akan semakin meninggi. Karena masyarakt tidak mudah menerima dan merubah, perlu proses namun tetap dalam tahapan perubahan.
Sebagai perbandingan bagi para penggelut quran yang hanya berani melihat dan menghindar, sungguh memilukan dan sangat memalukan bagi mereka yang hanya mencemooh tanpa memberikan solusi. Atau mereka hanya orang-orang yang pura-pura tidak tahu, menutup mata, hati, telinga dan mulut mereka untuk sebuah kenyataan yang Untuk itu, generasi quran harus berani dan merasa terpanggil untuk bergerak menyelamatkan umat ini, pandai bersikap, atur strategi, bulatkan tekad dan satukan niat. Sebagai pahlawan umat dan bertanggung jawab untuk mengemban misi dakwah menyelamatkan umat, menuntun kea rah yang tepat.menjadi tanggung jawab mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar