Generasi Qur’ani, Pahlawan untuk Memberantas
Kemusyrikan Umat
(Analisis Singkat)
Sebagai
Negara yang mayoritas berpenduduk muslim, tidak nihil dari berbagai
perselisihan pemahaman keagamaan. Islam yang dikenal memiliki berbagai macam
aspek untuk menempuh kesempurnaan beragama, yaitu aspek syariat, thariqat dan
hakikat, maka dari ke tiga aspek ini masing-masingnya melahirkan sendi
pengaplikasian yaitu amaliah fiqh, ketauhidan dan tashawuf. Semua cabang ini
memiliki sumber tuntunan dari Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam. Karena
segala macam bentuk ajaran haruslah sesuai tuntunan yang diajarkan Rasulullah sallallaahu
alaihi wa sallam. Yang menjadi permasalahan, berabad-abad setelah wafatnya
Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam, pemahaman tentang ajaran maupun
tuntunan beliau semakin meluas, sebab lain, islam menyebar pesat ke seluruh
penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Awal
masuk dan berkembangnya islam di Indonesia menempuh berbagai macam cara,
melihat kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih erat dengan
pengaruh hindu dan budha, oleh karenanya para muballigh islam mengakali semua
itu dengan tetap menyampaikan dakwah kepada mereka dan tetap menoleransi kegiatan berbau pengaruh
hindu budha tersebut. Namun disayangkan, ritual-ritual itu begitu kental
membudaya keibadahan mereka, sehingga mereka yang telah memeluk islam tetap saja
mengerjakan ritual itu di samping melaksanakan
ajaran islam, bahkan mereka lebih suka mencampur adukan ritual ke
duanya, antara kepercayaan mereka terdahulu dengan agama islam yang telah
mereka anut. Hasilnya, turun temurun pencampur adukan itu masih mewarnai
sifat-sifat keagamaan islam di Indonesia, bahkan mengakar menjadi kepercayaan
yang wajib dilaksanakan walau sama sekali tidak bersumber dari islam sendiri.
Menengok
kembali sejarah perkembangan islam di Indonesia ini memang sangat mengagumkan,
Para muballigh begitu cerdas dalam memasukkan islam ke tengah masyarakat yang
sarat ritual mistik, mengingat islam adalah agama yang rasional dan melarang
segala bau kemusyrikan, tapi para muballigh tetap tampil kreatif menuguhkan
agama islam di hadapan masyarakat Indonesia. Namun masalah yang terjadi,
nilai-nilai kemusyrikan itu masih menjamur di kegiatan islam sendiri akibat toleransi
muballigh pada awalnya. Kesulitan ulama sekarang adalah dalam perdebatan antara
ulama sendiri. Ada yang menerimanya dan mengakui keabsahan praktek relegi
berbau budaya hindu budha ini, ulama jenis ini tetap menoleransi masyarakat
untuk mempraktekannya. Sedangkan ulama selanjutnya begitu ekstrim dengan
nilai-nilai pencampur adukan ini. Menjauh, menghina dan membentuk kelompok baru
yang fanatisme terhadap golongan mereka sendiri.
Sebagai
penengah dari ke dua golongan tersebut, perlulah adanya pemikir-pemikir yang
tetap bisa menyatukan umat namun menyingkirkan benang kusut. Permasalahn yang
terjadi bukan harus dihindari maupun dibiarkan tetapi yang perlu dilakukan
pemikir itu adalah mencari solusi, bukan juga ikut mengikuti salah satu dari
dua pihak. Karena ke dua pihak tidak dapat disatukan selama adanya pemikiran
yang tepat untuk suatu solusi jitu. Bukanlah perbedaan menjadi rahmat selama
persatuan masih dapat dicapai.
Untuk
para penggelut Quran, baik penghafal, pengajar maupun pelajarnya. Merekalah
pahlawan yang diharapkan mampu mengatasi dan menjawab solusi permasalahan ini.
Jawaban bukan dari ucapan atau retorika dakwah saja, tetapi lebih mengarah
kepada adanya aksi dakwah nyata melalui teladan konkrit untuk umat ini. Karena
mungkin umat begitu haus dan mendambakan pengikut Rasulullah yang nyata. Dakwah
aksi inilah yang diharapkan menjadi solusi permasalahan umat di antara celah
perdebatan ulama. Umat tidak perlu banyak kata-kata, tetapi umat perlu amal
nyata. Aplikasi.
Generasi
qurani harus mampu berpikir matang dalam pengarahkan umat kepada tuntunan sunah
yang benar, di samping generasi qurani harus pandai untuk sedikit demi sedikit
menghilangkan pengaruh-pengaruh yang berbau bidah dan syirik dari ritual umat. Bukan
langsung menghalang-halangi atau mencemooh mereka, tetapi perlahan membelokkan
mereka ke arah yang tepat. Kalau saja senantiasa terus menoleransi amaliah
mereka yang berbau syirik itu, maka tidak aka nada perubahan dan selamanya
dalam kesesatan yang diislamisasikan tersebut. Namun kalau saja langsung
dirubah sepenuhnya gaya ritual mereka ke rtual tuntunan islam sebenarnya, maka
akan memperbesar kobaran perselisihan dan tangga kecongkakan akan semakin meninggi.
Karena masyarakt tidak mudah menerima dan merubah, perlu proses namun tetap
dalam tahapan perubahan.
Sebagai
perbandingan bagi para penggelut quran yang hanya berani melihat dan
menghindar, sungguh memilukan dan sangat memalukan bagi mereka yang hanya
mencemooh tanpa memberikan solusi. Atau mereka hanya orang-orang yang pura-pura
tidak tahu, menutup mata, hati, telinga dan mulut mereka untuk sebuah kenyataan
yang Untuk itu, generasi quran harus berani dan merasa terpanggil untuk
bergerak menyelamatkan umat ini, pandai bersikap, atur strategi, bulatkan tekad
dan satukan niat. Sebagai pahlawan umat dan bertanggung jawab untuk mengemban
misi dakwah menyelamatkan umat, menuntun kea rah yang tepat.menjadi tanggung
jawab mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar