Gemerisik
daun sayup tidak terhiraukan, sembari bersama canda tawa. Masing-masing kami
saling memendam duka. pun semua itu, tak juga mampu mengusik kerinduanku kepada
orang tua. Suasana yang begitu mencekam di dalam ruangan rumah sakit bersama
mereka yang berjuang dalam penyakit yang
merenggut separuh masa depan mereka.
Ada
kalanya di antara pasien-pasien itu berteriak-teriak, mengaduh-ngaduh,
menyumpah-nyumpah, dan terasa dekatnya ajal menjemput mereka. Ada juga yang
berusaha memuaskan batuknya, membiarkan dadanya terguncang, seluruh tubuhnya
terhempas, nyaris terbayang jantungnya copot akibat batuknya yang mengguncangkan
tubuhnya. Dan pasien-pasien lain ada yang perutnya buncit, leher bengkak, kaki
buruk, segala macam penyakit mengerikan terkumpul di ruangan zaal ini.Dan
pamanku sendiri salah satu pasien dengan sosok tengkorak akibat beberapa kali
kemoterapi kanker nashoparing yang
dideritanya. hasil dari kemo itu paman terlihat lebih parah.
Seorang
laki-laki dengan umur sudah mencapai 40 tahun lebih, laki-laki itu belum juga
berkeluarga. Perjuangan hidupnya dari masa muda mengejar materi kehidupan tak
kunjung juga selesai. Masa mudanya dia habiskan untuk mengejar dan mengejar.
Namun ketika masa muda pergi menghilang bersama-sama mimpinya dan meninggalkan penderitaan-penderitaan
baru, laki-laki itu pun menjadi pecundang, penyakit lah yang setia padanya
ketika semua meninggalkannya. Itulah gambaran untuk pamanku yang sekarang
terbaring, penyakit itu membuatnya seakan tertarik. Mata,hidung dan mulutnya
terlihat lebih menonjol karena daging yang berada di bawah kulitnya telah
terisap kurus badannya. Hanya tengkorak yang terbungkus kulit tipis.
Paman
laki-laki yang terjebak dalam tubuh yang berpenyakit, tubuhnya begitu kecil dan
seluruh tulangnya kini dari segi manapun selalu terlihat menonjol. Namun dia
tidak pernah mengeluh atas penyakitnya tersebut, dialah yang memperingatkan
kami keluarganya bahwa penyakit yang dideritanya itu ujian baginya dan bagi
keluarga yang merawatnya. Kulihat beberapa kali mata paman berlinang dan
terlihat dia pun meratapi malang nasibnya. Aku menduga bukan hanya penyakit itu
yang membuatnya murung tapi murungnya itu lebih kepada malangnya nasibnya
hingga berakhir dalam balutan menyakit yang mencekik umurnya. Kami semua sadar
bahwa penyakit paman ini sangat parah dan kemungkinan sisa umur paman semakin
jelas akan berakhir. Namun jiwa pamanku sekuat baja dan seteguh karang, dial ah
yang menyemangati kami atas penyakitnya itu walaupun semakin hari penyakit itu
semakin mengganas.
Pamanku
yang malang, namun jiwanya tak rapuh saat penyakit semakin mengikis sisa
kekuatannya. Sebenarnya ada hal yang kurasa tidak sesuai, entahlah apa karena
aku yang berfikir dangkal atau ini salah satu rahasia tuhan untuk sebuah ujian
yang hampir mematikan kesadaran kami?
Paman
menjadi lebih sering kejang, terkadang sangat panas, terkadang sangat dingin
sampai dia memintaku menindihinya, Pamanku bersidekap dalam selimut tebal alas
tidur kami. Aku kalang kabut dan memanggil-manggil suster yang ada di ruangan.
Dokter segera datang. Paman diberi sinar lampu untuk menstabilkan temperatur
tubuhnya. Aku masih ingat bagaimana tubuhnya gemetaran menggigil dan gemeletuk
giginya tak dapat ditahannya. Akhirnya pamanku tetap bertahan. Aku
bertanya-tanya kepada dokter kenapa kejadian seperti itu sering terjadi, aku
menduga-duga ini efek obat yang diberikan kepadanya yang berdosis tinggi.
Dokter yang cantik itu hanya menatapku yang begitu lugu. Dia mengajakku untuk
bicara di ruangannya.

he, cerpen ini belum selesai dibuat, insya Allah secepatnya ana tulis lagi... maklumlah blogger pemula. oia,, tlg bimbingan, saran dllx y.. syukran
BalasHapusSemoga cepat diselesaikan..
BalasHapus