Powered By Blogger

Kamis, 25 Agustus 2011

cerpen : Makhluk yang Ganas


Gemerisik daun sayup tidak terhiraukan, sembari bersama canda tawa. Masing-masing kami saling memendam duka. pun semua itu, tak juga mampu mengusik kerinduanku kepada orang tua. Suasana yang begitu mencekam di dalam ruangan rumah sakit bersama mereka  yang berjuang dalam penyakit yang merenggut separuh masa depan mereka.
Ada kalanya di antara pasien-pasien itu berteriak-teriak, mengaduh-ngaduh, menyumpah-nyumpah, dan terasa dekatnya ajal menjemput mereka. Ada juga yang berusaha memuaskan batuknya, membiarkan dadanya terguncang, seluruh tubuhnya terhempas, nyaris terbayang jantungnya copot akibat batuknya yang mengguncangkan tubuhnya. Dan pasien-pasien lain ada yang perutnya buncit, leher bengkak, kaki buruk, segala macam penyakit mengerikan terkumpul di ruangan zaal ini.Dan pamanku sendiri salah satu pasien dengan sosok tengkorak akibat beberapa kali kemoterapi  kanker nashoparing yang dideritanya. hasil dari kemo itu paman terlihat lebih parah.
Seorang laki-laki dengan umur sudah mencapai 40 tahun lebih, laki-laki itu belum juga berkeluarga. Perjuangan hidupnya dari masa muda mengejar materi kehidupan tak kunjung juga selesai. Masa mudanya dia habiskan untuk mengejar dan mengejar. Namun ketika masa muda pergi menghilang bersama-sama mimpinya dan meninggalkan penderitaan-penderitaan baru, laki-laki itu pun menjadi pecundang, penyakit lah yang setia padanya ketika semua meninggalkannya. Itulah gambaran untuk pamanku yang sekarang terbaring, penyakit itu membuatnya seakan tertarik. Mata,hidung dan mulutnya terlihat lebih menonjol karena daging yang berada di bawah kulitnya telah terisap kurus badannya. Hanya tengkorak yang terbungkus kulit tipis.
Paman laki-laki yang terjebak dalam tubuh yang berpenyakit, tubuhnya begitu kecil dan seluruh tulangnya kini dari segi manapun selalu terlihat menonjol. Namun dia tidak pernah mengeluh atas penyakitnya tersebut, dialah yang memperingatkan kami keluarganya bahwa penyakit yang dideritanya itu ujian baginya dan bagi keluarga yang merawatnya. Kulihat beberapa kali mata paman berlinang dan terlihat dia pun meratapi malang nasibnya. Aku menduga bukan hanya penyakit itu yang membuatnya murung tapi murungnya itu lebih kepada malangnya nasibnya hingga berakhir dalam balutan menyakit yang mencekik umurnya. Kami semua sadar bahwa penyakit paman ini sangat parah dan kemungkinan sisa umur paman semakin jelas akan berakhir. Namun jiwa pamanku sekuat baja dan seteguh karang, dial ah yang menyemangati kami atas penyakitnya itu walaupun semakin hari penyakit itu semakin mengganas.
Pamanku yang malang, namun jiwanya tak rapuh saat penyakit semakin mengikis sisa kekuatannya. Sebenarnya ada hal yang kurasa tidak sesuai, entahlah apa karena aku yang berfikir dangkal atau ini salah satu rahasia tuhan untuk sebuah ujian yang hampir mematikan kesadaran kami?
Paman menjadi lebih sering kejang, terkadang sangat panas, terkadang sangat dingin sampai dia memintaku menindihinya, Pamanku bersidekap dalam selimut tebal alas tidur kami. Aku kalang kabut dan memanggil-manggil suster yang ada di ruangan. Dokter segera datang. Paman diberi sinar lampu untuk menstabilkan temperatur tubuhnya. Aku masih ingat bagaimana tubuhnya gemetaran menggigil dan gemeletuk giginya tak dapat ditahannya. Akhirnya pamanku tetap bertahan. Aku bertanya-tanya kepada dokter kenapa kejadian seperti itu sering terjadi, aku menduga-duga ini efek obat yang diberikan kepadanya yang berdosis tinggi. Dokter yang cantik itu hanya menatapku yang begitu lugu. Dia mengajakku untuk bicara di ruangannya.

2 komentar:

  1. he, cerpen ini belum selesai dibuat, insya Allah secepatnya ana tulis lagi... maklumlah blogger pemula. oia,, tlg bimbingan, saran dllx y.. syukran

    BalasHapus