*Tema Tokoh Teladan Umat*
Judul : Pendidikan bertaraf Jagat Raya
Musim
kemarau tahun ini walaupun terlambat tapi membuat hari-hari semakin panas
menggelorakan emosi, ah, melelahkan, menjemukan dan mengesalkan. Kesalku makin
menjadi-jadi. Bagaimana tidak, jangkrik-jangkrik yang susah-susahnya kucari dan
berlarut-larut malam kuberanikan diri meletakan jangkrik-jangkrik itu ke sawah
dan menyusupkkannya ke semak-semak bawah padi dekat kuburan datu-datu, juga kuburan abahku[1], tetap tidak mampu
mengusir tikus-tikus sawah. Belum lagi hama-hama yang lain yang sulit dibasmi.
Akhirnya tanaman padi kami tetap rusak. Tanah ladang sawah juga tidak
bersahabat tahun ini. Sulit ditanami. Musim kemarau, membuat tanah menjadi
kering dan rumput liar semakin menjadi-jadi. Tanaman cabe, singkong, tebu,
terong dan tomatku kurus dan layu seseumpama terkena isap buyu[2], kurang vitamin.
Itik-itik[3] malas bertelur di musim
ini. Semakin cerewet dan meninggi seleraMereka tak akan mau makan kalau gabuk[4] dan umpan campuran iwak
karing[5] itu berganti-ganti, tidak
teratur dan jika campurannya itu terlalu amis. Itik yang suka berenang dan
mencucur juga semakin malas melihat kondisi tanah yang kering. Mereka lebih
suka berada di kandang bermalas-malasan ketimbang kulepas ke padang[6].
Panas menggelora, hari-hariku di samping
setiap hari mengayuh sepeda laki merk pollygon dari Alabio sekitar 10 km menuju
pengajian Muallim Rahmat yang digelari guru Amat di Amuntai, karena aku di sana
sebagai murid tetap dan mengabdi padanya. Juga yang menjadi rutinitas di musim
kemarau yang sungguh menebalkan dekil di leher dan sikuku yaitu di hamparan
sawah, pahumaanku[7],
disinilah kantorku, kampusku dan tempat kerja lapanganku saat orang-orang yang
berseragam berkerja dan memperoleh kantor atau kampus mereka di tempat yang
berpetak-petak, bertembok, tertutup, terlindung dari panas, nyaman dan begitu
berkelas. Maka disinilah tempatku. Sebagai petani yang mempunyai ladang yang
cukup luas tapi apa daya sebagai anak tertua yang mempunyai 2 adik laki-laki
dan 4 adik perempuan. 2 tahun yang lalu ayahku meninggal dunia. Sehingga 6 adik
yang racap-racap[8]
dan ibu yang makin beruban Sungguh membuatku membatalkan janji-janjiku dengan
masa depan. Menepis dan mengubur impian-impian masa lalu. impianku menjadi
pegawai apa saja tapi yang digajih tiap tahun, berseragam dan mempunyai jaminan
pensiun. Bagiku, hebat nian impianku itu dan keren.
Adik-adikku harus lah menjadi pegawai.
Mereka harus tamat sekolah, jangan sepertiku setelah 6 tahun di pesantren, tapi
sedikit banyaknya aku merasa dipandang sebelah mata. Mungkin karena aku
tersinggung dengan pernyataan orang kampung sini. Hidup itu perlu uang, ilmu
saja mana cukup. Dan yang lebih parahnya, masyarakat kampung ini, sungguh
gemar memperhatikan orang lain. Akhirnya mereka akan sambung-menyambung mulut
menggosip si bujang, si pecundang, si tukang melamun, si tukang pacaran dan
lain-lain. Padahal anak gadis meraka sendiri tak mengerti untuk menutup
auratnya dan anak laki-laki mereka hanya tukang rayu gombal anak gadis kampung.
Termasuk juga umurku yang mulai bertambah matang ini menjadi sorotan gadis
ndeso, mungkin kalau aku menilai di depan cermin sendiri wajahku mempunyai
garis dan bentuk yang berkarakter India dan lesung pipit yang dalam di pipi
kiri. Oleh karena itu gadis di sini lumayan juga genitnya. Mandi di batang[9] dengan beralaskan sarung
yang menempel di badan mereka, dada mereka terbuka dan semakin jelas lekukan
tubuh mereka dengan sarung yang telah basah oleh air. Batang-batang itu
berjejaran di pinggir-pinggir jalan. Untung aku berangkat ke pengajian sudah
agak siang, jadi jarang-jarang di batang tapi sering juga aku melihat
pemandangan syetan itu. Ah, andai aku jadi pembakal[10] kampung ini, ah tanggung.
Pembakal sekarang juga masih lemah menghadapi orang kampung. Mungkin lebih
baiknya menjadi bupati langsung, sudah pasti dengan tanganku sendiri ku hancur
batang-batang ini atau ku buat batang yang tertutup dan ada spesial untuk
laki-laki dan untuk perempuan. Ah suka mengandai-andai aku ini. Nanti yang
kutemui juga kantor pahumaan.
Untuk tugasku selanjutnya adalah menjadi
kaum[11] di Mesjid kampung ini,
sekitar 5 meter dari rumahku. Oleh karena itu julukan untukku dari nama
Syamsudin menjadi Udin ditambah kaum, jadinya Udin Kaum. Memang banyak nama
Udin di kampung ini, parahnya lagi ada lagu Udin Sedunia yang lagi popular
dinyanyikan penyanyi baru yang asalnya hanya iseng saja membawakannya, liriknya
demikian membuatku tak kepalang menanggung malu, “Udin…Udin namamu norak
tapi terkenal”. Betapa gemarnya
anak-anak dan pemuda yang brandal dan suka kekonyolan menyanyikan lagu
ini. Dan penyanyi aslinya sama mengerikannya dengan lagunya.
Alhamdulillah untuk yang lima waktu itu
selalu kulaksanakan di mesjid Al-Bayan, tempat aku mengumandangkan azan.
Sebagai orang NU[12]
banyaklah macam-macam amalan yang bermuluk-muluk kubaca dari shalawat, dzikir,
syair dan lain-lain. Berbeda dengan kampung seberang, ibadah mereka sederhana
dan praktis. Sebenarnya aku lebih tertarik untuk mengamalkan tadarus quran,
menghafalnya dan mempelajarinya. Aku tergugah dengan kata-kata al-quran,
makna-maknanya dan menjadi lebih indah dan memelodi saat lidah melantunkannya.
Yang kuhapal baru juz 30, tapi harapanku adalah 30 juz. Pandai nian aku
berharap. Tapi inilah diriku, saat ku rebahkan diri ini di sebidang tanah yang
kering mati, ku bentangkan tangan, ku tatap awan yang menyilaukan, ku biarkan
alam mengenaliku dan membacaku, aku pun membaca alam. Seakan alam adalah kitab
yang terbentang. Kutantang dan kuresapi sengit panas matahari, ku hurip udara
yang berbau rumput kering dan untuk kesekalian kalinya. Ku tegaskan kepada
diriku sendiri, kepada hidupku, kepada takdirku. Aku atas nama Syamsudin akan
tetap bertahan menghadapi hidup yang tak tentu arah ini. Aku akan tetap
berjuang untuk meningkatkan kehidupan yang layak bagiku. Aku meyakini doa dan
seperti kata orang bijak, hidup adalah pilihan.
Seusai dari sawah, biasanya aku langsung
menyiapkan dan membagi-bagi umpan itik untuk makan pagi, siang dan sore mereka.
Bau kotoran itik sudah membaur alami di kampung kami. Rata-rata masyarakat
kampung ini di samping bertani juga berternak itik. Dan rata-rata tempat di
bawah rumah mereka yang tinggi itu yang dijadikan sebagai kandang itik. Hampir
bisa dikatakan kami serumah dengan itik. Setiap senin pagi aku pergi ke pasar Senin untuk membeli bici
atau lipis[13]
untuk umpan itik. Di pasar ini juga aku tidak lupa untuk singgah di samping
pelabuhan kapal pasar hanya demi melihat seorang gadis penjual ikan sepat asin
dengan pakaian yang sempurna, jilbabnya menjuntai dan bergerak-gerik karena
geraknya ke sana kemari. Kian minggu kian membanyak pelanggan yang menyinggahi
tumpukan ikan sepat asin dagangannya. Gadis itu manis walau matahari telah
melibaskan cahaya eloknya. Tapi parasnya tetap alami, seandainya gadis ini
sedikit dipoles sungguh tak kalah dengan gadis norak dengan bedak lebay dan
parfum murahan di kampungku. Tapi gadis ini memang berbeda. Aku berharap dia
juga memperhatikanku walau sedikit pun aku tak berani mendekatinya. Hanya dua
tiga kali berlalu di hadapan dagangannya.
Aku tak mengalami pengalaman cinta
seheboh, setragis, seromantis dan sedahsyat pengalaman cinta kawan-kawanku.
Buktinya aku tak pernah berani menyatakan perasaan kepada gadis penjual ikan
sepat asin itu maupun kepada gadis manapun yang pernah kusukai. Hanya kupendam,
tapi sungguh dipendam itu mengasyikkan. Faktor lain karena aku juga tak
memiliki HP, alat canggih yang mampu menyambungkan suara ke suara dari tempat
sejauh manapun, alat ini bisa juga untuk menemukan jodoh seperti kebanyakan
pemuda pemudi kampung ini yang menemukan jodoh atau pasangan mereka berawal
dari nomor hape, lalu surat menyurat lewat aplikasi yang disediakan hp, lalu
telpon telponan. Lalu mereka menjalin hubungan istilah akrabnya pacaran, Selanjutnya
waktu yang menyatukan mereka di pelaminan. Tapi barang yang bernama handpone
itu hanya sering kulihat, tak ingin kumiliki. Prinsibku sangat kuat mengenai
hape ini, saat kuyakini punya hp lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya,
apalagi harus dimasukkan kartu yang menarik biaya berupa pulsa. Aku tak ingin
tersentuh dengan barang modern ini. Lagipula selama ini aku tidak perlu hape
dan mampu bertahan tanpa hape. Yang kebanyakan orang terjangkit virus
tehnologi, sulit untuk tidak memiliki hape, bahkan katanya tukang sayur pun
kudu punya hape. Ah, aku tak peduli, yang berani kulakukan hanya lalu lalang di
depan dagangan gadis penjual ikan sepat asin yang namanya tak kutahu,
meliriknya sesekali. Hanya itu saja.
Jika setiap aku berangkat ke pengajian
Muallim Rahmat, jalanan 10 meter dari Alabio ke Amuntai dengan sepeda bergigi
ini akan semakin dramatis bagiku, demi menuntut ilmu, belajar kitab gundul,
kitab berbahasa Arab tanba baris dan tulisannya kecil dan rapat. Setelah tamat
6 tahun pesantren di Martapura kusambung pendidikanku lewat pengajian guru Amat
yang sangat kuhormati ini. Hanya demi ilmu, setiap tanjakan sepeda yang
kukayuh, setiap butir keringat kian mengalir membasahi bajuku, dan setiap aku
membelok dan menghindari lubang-lubang yang menganga di jalanan. Aku terpukau
dengan kalimat-kalimat ilmu, terpukau dengan pengorbanan Salman al Farisi,
dengan semangat Imam Ghazali, kegigihan imam Bukhari, perjuangan imam Nawawi.
Ilmulah yang memberikan efek dahsyat itu. Mereka menghabiskan umur mereka untuk
ilmu.
Setiba di majlis, biasanya akulah murid
yang paling awal datang, terkadang bisa juga Ijai temanku yang gendut itu yang
paling awal datang, rumah Ijai memang juga di Amuntai sekampung dengan muallim
Rahmat. Ijai adalah temanku yang teramat istemewa, cerdas dan mempunyai
semangat menuntut ilmu yang tinggi. Pemuda sepertinyalah yang ingin kujadikan
sebagai teman, andai pemuda-pemudi sekarang mempunyai semangat sepertinya,
semangat yang positif. Tetapi kebanyakan pemuda sekarang lebih memilih untuk
menghabiskan waktu emas mereka untuk main-main, bercanda, suka ikut-ikutan dan
narsisme yang tinggi. Aku dan Ijailah yang menghidupkan suasana santri di
majlis guru kami ini. Tapi Ijai lebih beruntung dariku. Ijai sudah beristri dan
mempunyai 2 anak.
Saat orang-orang memilih pendidikan
mereka di suatu lembaga bernama, bertampat di gedung-gedung bertingkat,
mempunyai absent kehadiran, didatangi oleh pengajar-pengajar, ditest, dipilih,
disediakan kursi-kursi, duduk dengan terhormat, pakaian yang licin dan rapi,
serta bersepatu. Mereka menikmati penjelasan pengajar yang bervariasi, ada yang
menggunakan papan tulis, ada juga dengan alat proyektor dengan gambar, music
dan pemutaran movie, mereka tunduk dengan aturan-aturan formalitas. Maka di
majlis ini, aku duduk di lantai, di depan meja kecil untuk kitab-kitabku yang
usang, papan tulis hitam yang buram menggunakan kapur, di tempat bersudut empat
yang pengap tanpa kipas angin, bersandal dan tanpa absent, setiap penjelasan
Muallim kusimak dengan khidmat, tidak ada diskusi, konseling dan tugas makalah
maupun persentasi. Hanya duduk dan tenang, syahdu.
Tapi aku tidak pernah membatasi
pendidikanku di tempat bersudut empat, dan terpaku hanya dengan huruf-huruf di
kitab, Aku menganggap apa-apa yang kuperoleh di tempat bersudut empat itu hanya
sebagai pengenalan teori ilmiah. Lebih dari itu, aku memilih pendidikan
berstandar jagat raya, menyatu dengan alam, menyelami kehidupan. Dari sinilah
aku memperoleh pendidikan akan lika-liku kehidupan, hakikat segala sesuatu,
teori akhir zaman, perubahan, dunia hanya permainan dan senda gurau. Madu,
semanis itulah pendidikan yang kudapat dari alam.
Walau kenyataannya aku tetap iri dengan
gaya mereka yang sedia diatur oleh formalitas kedisiplinan, digajih dan
berseragam. Seakan kehidupan lebih memihak mereka yang berseragam. Aku merasa
seperti bintang yang kalah sinar dan ditutupi oleh awan hitam dalam kegelapan.
Tapi senandungku tetap sama, untuk selalu bertahan.
Hari-hari tetap berlalu, mengalir
setenang air, kadang ada beriak-beriak masalah, dan buih-buih kejadian yang
akhirnya berakhir juga. Masa depan masih menjadi misteri yang tak bisa
diramalkan, apalagi untuk meramal surgakah yang menjadi akhir pilihanku atau
neraka yang akhirnya menjadi takdirku. Aku menikmati dan memposisikan diriku
sebagai makhluk yang biasa, bukan siapa-siapa dan tak tercatat di daftar
manusia-manusia hebat dunia. Hanya petani dan peternak itik yang suka menyelami
sari kehidupan dari pendidikan alam. Keinginanku untuk menjadi pegawai yang
berseragam hanya keinginan tak bermakna, pikirku yang polos, jika aku
berseragam dan digajih, aku akan lebih mudah mendekati gadis penjual ikan sepat
asin di pasar senin yang tak kutahu namanya, dan akhirnya melamarnya dengan
jujuran[14] melebihi standar kampung.
Dan jika aku berseragam dan digajih aku akan bisa mendapat senyum bangga ibu
dan adik-adikku, mereka tak perlu khawatir lagi aku akan menjadi si tukang
khayal, si bujang atau sipecundang kampung. Tapi cukup menjadi Udin Kaum pun
aku sudah bersyukur. Kehidupan tak selalu seperti yang diterka. Ada rahasia
dibalik rahasia.
Akhir kemarau berlalu sampai
keakar-akarnya, langit menjadi sendu, dan hujan mengguyur bertubi-tubi
menjatuhi bubungan atap rumbia[15]. Dua tiga wadah air
ditanai[16] untuk menampung air yang
mentetes dari atap yang bocor. Listrik lebih sering padam pada musim hujan ini,
ituk-itik berpesta pora dengan cucuran-cucuran yang menggelikan. Jalanan becek
bercampur dengan kotoran itik yang memadukan aroma yang menusuk penciuman.
Semangatku tak pernah luntur walau usia semakin berlalu dan musim seakan tak
pernah mendukung semangatku. Aku akan tetap bertahan.
TAMAT
[1] ayah
[2] Penyakit kurang gizi
[3] Bebek ternak
[4] Makanan bebek
[5] Ikan asin
[6] Tanah yang ditumbuhi
rumput liar tapi masih bisa ditanami sayur-sayuran
[7] ladang
[8] Banyak dan berdekatan
[9] Tempat mandi terbuka di
sungai
[10] Kepala desa
[11] Bilal atau muadzin
[12] Nahdhatul Ulama, suatu
kelompok persatuan ulama Indonesia untuk membidangi hukum syariah sesuai keyakinannya
[13] Jenis ikan laut, ketika
kering dan menjadi ikan asin bisa dijadikan umpan itik
[14] Pemberian calon penganten
pria untuk mempelai wanita sebelum akad, dapat disamakan dengan mahar atau
maharnya ditentukan secara khusus sesuai kesepakatan
[15] Atap yang terbuat dari
daun rumbia kering dan diayam
