Generasi Qur’ani, Pahlawan untuk Memberantas
Kemusyrikan Umat
(Analisis Singkat)
Sebagai
Negara yang mayoritas berpenduduk muslim, tidak nihil dari berbagai
perselisihan pemahaman keagamaan. Islam yang dikenal memiliki berbagai macam
aspek untuk menempuh kesempurnaan beragama, yaitu aspek syariat, thariqat dan
hakikat, maka dari ke tiga aspek ini masing-masingnya melahirkan sendi
pengaplikasian yaitu amaliah fiqh, ketauhidan dan tashawuf. Semua cabang ini
memiliki sumber tuntunan dari Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam. Karena
segala macam bentuk ajaran haruslah sesuai tuntunan yang diajarkan Rasulullah sallallaahu
alaihi wa sallam. Yang menjadi permasalahan, berabad-abad setelah wafatnya
Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam, pemahaman tentang ajaran maupun
tuntunan beliau semakin meluas, sebab lain, islam menyebar pesat ke seluruh
penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Awal
masuk dan berkembangnya islam di Indonesia menempuh berbagai macam cara,
melihat kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih erat dengan
pengaruh hindu dan budha, oleh karenanya para muballigh islam mengakali semua
itu dengan tetap menyampaikan dakwah kepada mereka dan tetap menoleransi kegiatan berbau pengaruh
hindu budha tersebut. Namun disayangkan, ritual-ritual itu begitu kental
membudaya keibadahan mereka, sehingga mereka yang telah memeluk islam tetap saja
mengerjakan ritual itu di samping melaksanakanajaran islam, bahkan mereka lebih suka mencampur adukan ritual ke
duanya, antara kepercayaan mereka terdahulu dengan agama islam yang telah
mereka anut. Hasilnya, turun temurun pencampur adukan itu masih mewarnai
sifat-sifat keagamaan islam di Indonesia, bahkan mengakar menjadi kepercayaan
yang wajib dilaksanakan walau sama sekali tidak bersumber dari islam sendiri.
Menengok
kembali sejarah perkembangan islam di Indonesia ini memang sangat mengagumkan,
Para muballigh begitu cerdas dalam memasukkan islam ke tengah masyarakat yang
sarat ritual mistik, mengingat islam adalah agama yang rasional dan melarang
segala bau kemusyrikan, tapi para muballigh tetap tampil kreatif menuguhkan
agama islam di hadapan masyarakat Indonesia. Namun masalah yang terjadi,
nilai-nilai kemusyrikan itu masih menjamur di kegiatan islam sendiri akibat toleransi
muballigh pada awalnya. Kesulitan ulama sekarang adalah dalam perdebatan antara
ulama sendiri. Ada yang menerimanya dan mengakui keabsahan praktek relegi
berbau budaya hindu budha ini, ulama jenis ini tetap menoleransi masyarakat
untuk mempraktekannya. Sedangkan ulama selanjutnya begitu ekstrim dengan
nilai-nilai pencampur adukan ini. Menjauh, menghina dan membentuk kelompok baru
yang fanatisme terhadap golongan mereka sendiri.
Sebagai
penengah dari ke dua golongan tersebut, perlulah adanya pemikir-pemikir yang
tetap bisa menyatukan umat namun menyingkirkan benang kusut. Permasalahn yang
terjadi bukan harus dihindari maupun dibiarkan tetapi yang perlu dilakukan
pemikir itu adalah mencari solusi, bukan juga ikut mengikuti salah satu dari
dua pihak. Karena ke dua pihak tidak dapat disatukan selama adanya pemikiran
yang tepat untuk suatu solusi jitu. Bukanlah perbedaan menjadi rahmat selama
persatuan masih dapat dicapai.
Untuk
para penggelut Quran, baik penghafal, pengajar maupun pelajarnya. Merekalah
pahlawan yang diharapkan mampu mengatasi dan menjawab solusi permasalahan ini.
Jawaban bukan dari ucapan atau retorika dakwah saja, tetapi lebih mengarah
kepada adanya aksi dakwah nyata melalui teladan konkrit untuk umat ini. Karena
mungkin umat begitu haus dan mendambakan pengikut Rasulullah yang nyata. Dakwah
aksi inilah yang diharapkan menjadi solusi permasalahan umat di antara celah
perdebatan ulama. Umat tidak perlu banyak kata-kata, tetapi umat perlu amal
nyata. Aplikasi.
Generasi
qurani harus mampu berpikir matang dalam pengarahkan umat kepada tuntunan sunah
yang benar, di samping generasi qurani harus pandai untuk sedikit demi sedikit
menghilangkan pengaruh-pengaruh yang berbau bidah dan syirik dari ritual umat. Bukan
langsung menghalang-halangi atau mencemooh mereka, tetapi perlahan membelokkan
mereka ke arah yang tepat. Kalau saja senantiasa terus menoleransi amaliah
mereka yang berbau syirik itu, maka tidak aka nada perubahan dan selamanya
dalam kesesatan yang diislamisasikan tersebut. Namun kalau saja langsung
dirubah sepenuhnya gaya ritual mereka ke rtual tuntunan islam sebenarnya, maka
akan memperbesar kobaran perselisihan dan tangga kecongkakan akan semakin meninggi.
Karena masyarakt tidak mudah menerima dan merubah, perlu proses namun tetap
dalam tahapan perubahan.
Sebagai
perbandingan bagi para penggelut quran yang hanya berani melihat dan
menghindar, sungguh memilukan dan sangat memalukan bagi mereka yang hanya
mencemooh tanpa memberikan solusi. Atau mereka hanya orang-orang yang pura-pura
tidak tahu, menutup mata, hati, telinga dan mulut mereka untuk sebuah kenyataan
yang Untuk itu, generasi quran harus berani dan merasa terpanggil untuk
bergerak menyelamatkan umat ini, pandai bersikap, atur strategi, bulatkan tekad
dan satukan niat. Sebagai pahlawan umat dan bertanggung jawab untuk mengemban
misi dakwah menyelamatkan umat, menuntun kea rah yang tepat.menjadi tanggung
jawab mereka.
Debar jantung yang semakin kencang, tinggal beberapa
langkah lagi. Namun kaki seakan tak peduli dengan kerisauan hati bercampur rasa
gugup yang keterlaluan. Panas dingin tubuhnya saat itu. Sedangkan mahasiswa-mahasiswi
yang lain kian berlalu dan tak mempedulikannya, semuanya sibuk hanya untuk
tujuan belajar. Zulfa kalut namun tetap berusaha tenang. Sekarang yang ada di
hadapannya adalah sebuah bangunan yang fenomenal, angkuh namun sungguh
berkharisma, di ujung atapnya terbentuk sebuah mushaf al-Quran yang terbentang
menghadap langit dan alam sekitarnya. Sebuah gedung bertingkat tujuh, besar dan
megah. Begitu kokoh dan gagah untuk sebuah
fakultas ternama, terkenal dengan Pencetak seribu Hafizh, STIQ, siapakah
yang tak kenal dengan STIQ ini, pahlawan dan dambaan umat. Yang telah
melahirkan tokoh-tokoh hebat bangsa. Decak kagum, pengakuan dan penghargaan
dari berbagai cabang-cabang pendidikan internasional.
Di
sinilah Zulfa memilih untuk meneruskan pendidikannya, impiannya untuk kuliah di
sini tercapai, walau STIQ tidak menuntut mahasiswa-mahasiswinya untuk
mengeluarkan biaya yang tinggi untuk pendidikan mereka, STIQ malah tidak
memungut biaya apapun. STIQ cukup menerima mahasiswa-mahasiswi yang berkualitas
dan siap mental untuk berjuang meraih gelar hafizh Al-Quran dan alim ulama yang
siap memimpin bangsa dan umat. Oleh karena itu seleksi masuk STIQ sungguh
ketat, baik mahasiswa maupun dosen pengajarnya merupakan orang-orang pilihan.
Seleksi yang diterapkan STIQ bukan hanya bertumpu pada kemampuan intelektual
ataupun kecerdasan calon mahasiswa tapi lebih kepada seleksi spiritual mereka,
STIQ mengukur kesungguhan, niat, tekad juang dan ibadah mereka.Seleksi itu
hanya bisa dilakukan oleh pakar-pakar pilihan dan terpercaya yang mampu
melaksanakannya, akhirnya yang mampu lulus tes seleksi gelombang pertama itu
hanya 200 orang saja dari seribu peserta tes yang berasal dari berbagai penjuru
Indonesia, bahkan banyak juga yang berasal dari negara-negara tetangga, seperti
Malaysia dan Thailand. Namun bagi peserta yang tidak lulus mendapat bimbingan
intensif selama 6 bulan di mahad an-Najah yang diadakan oleh STIQ sendiri. Yang
Zulfa bisa lakukan kemarin dengan mengikuti pelatihan singkat fisik dan
rohani prakuliah STIQ selama enam bulan yang diadakan oleh sebuah ponpes dekat
fakultas STIQ khusus untuk membina bagi santri yang ingin melanjutkan studinya
ke STIQ. Tapi bagi Zulfa pelatihan itu saja tidak cukup, karena seleksi lebih
membebankan tes bathin, spritualisme dan kesungguhan. Itu suatu yang sangat
berat bagi Zulfa, karena masa lalunya selalu mebayang-bayanginya, masa lalu
yang penuh aib. Ingin dia mengubur masa lalunya itu, tapi selalu saja
menghantuinya. Itulah yang membuatnya merasa malu STIQ mengetahui masa lalunya,
Zulfa merasa begitu kerdil dan tak pantas untuk menjadi mahasiswi STIQ. Walau
beberapa pihak dan tokoh penting STIQ juga yang berjasa menyelamatkannya dari
mimpi buruk masa lalu, STIQ telah bersedia memberinya kesempatan untuk ikut
pelatihan dan bimbingan intensif 6 bulan untuk persiapan seleksi selanjutnya.
Awalnya Zulfa sudah hampir menyerah dan pasrah bahwa
dirinya hanya bisa bertahan sampai pelatihan itu saja. Namun kenyataannya Zulfa
mampu lulus tes di antara ribuan peserta itu, Dan sekarang merupakan hari
pertamanya duduk di kursi di lokalnya sebagai mahasiswi STIQ. Orang-orang di
sekelilingnya tidak mengetahui Zulfa dan masa lalunya. Zulfa semakin tertutup
dengan mereka, walau Zulfa berdecak kagum dengan masing-masing mereka, baik
dosen, mahasiswa maupun mahasiswinya. Mereka semua orang-orang yang luar biasa.
Sopan, baik, terjaga, patuh, disiplin, ramah, pemalu juga penuh semangat dan
menyemangati.
Suasana di STIQ adalah suasana ilmu, dalam satu gedung
STIQ ada dua bangunan, untuk bangunan kiri khusus mahasiswa, dan bangunan kanannya
khusus mahasiswi. Semuanya terjaga dan penuh aturan kedisiplinan. Di hari
pertama ini, Zulfa sudah merasa begitu penat, otaknya yang terbiasa santai,
sekarang harus terpaksa online untuk mengikuti seluruh program wajib
mahasiswa baik di kampus maupun di asrama yang semuanya terpadu dan jelas dalam
buku bersampul biru Qanun Thullab STIQ. Qanun itu sendiri berbahasa Arab, untuk
memahaminya, Zulfa harus bertanya kepada kakak-kakak senior di asrama yang juga
menjelaskan Qanun dengan berbahasa Arab. Zulfa merasa ingin meledak dengan
kondisinya itu, segala apa yang dia dengar, baca, tulis dan ucapkan, semuanya
harus berbahasa Arab. Belum lagi program rutinan tahfiz dan takrir Quran untuk
setiap harinya, STIQ menuntut perjanjian bermaterai, kuliah program SI selama
tujuh tahun dengan syarat harus hafizh Quran dan hapal seribu hadis Nabi.
Setiap semesternya hapalan mahasiswa seluruhnya dipantau, siapa yang tidak
memenuhi target siap-siap untuk menjalani sanksi, untuk hukuman terberatnya
bisa-bisa dikeluarkan dari STIQ. Zulfa merasa tertekan luar biasa, tetapi dia
sadar dia sudah berani masuk, pantang baginya sebelum lulus untuk keluar atau
dikeluarkan. Toh, selama ini sudah beribu-ribu mahasiswa yang berhasil untuk
menjalani program STIQ sampai lulus. Tentu dirinya pun sanggup untuk itu
Pikir Zulfa.
Minggu-minggu melelahkan telah terlewati, seminggu
lagi akan tiba bulan Ramadhan. Kuliah diliburkan selama setengah bulan dari
minggu ini. Zulfa sudah bisa kembali bernafas lega, walau program asrama pun
sedemikian membuatnya lelah tak kepalang, bayangkan saja dari bangun tidur
sampai tidur lagi, semuanya ada undang-undang atau qanunnya. Jatah tidur Zulfa
yang biasanya 8 jam ke atas, kini berkurang 3 jam dan diberi waktu tidur
qailulah siang maksimal 20 menit. Zulfa merasa hidup dalam batasan, cekikan dan
beban yang menggelantungi lehernya. Tapi inilah resiko dari keinginannya kuliah
di sini. Zulfa tidak bisa memberontak lagi.
Ramadhan
yang ditunggu-tunggu tiba juga, seluruhnya dalam persiapan. Ada program-program
baru untuk Ramadhan ini, di antaranya seluruh mahasiswi wajib tarawih tiap
malam 1 juz khusus mahasiswi saja di mushalla asrama, pembagian imam sudah
ditentukan, buka puasa dan sahur wajib bersama-sama. Ustadzah-ustadzah Pembina
asrama pun semakin ketat dengan aturan-aturan di asrama. Untungnya, seperti
biasanya waktu hari jumat mereka full untuk hari kebebasan.. Zulfa menggunakan
hari itu khusus untuk merelaksasikan tubuh dan pikirannya, biasanya dia
mengunjungi salon muslimah yang dibangun di samping asrama untuk meremajakan
seluruh anggota tubuhnya dari keramas, pemotongan kuku, mandi susu, manti uap,
kolam renang, juga ada pemijatan tradisional. Tenaga kerjanya yang banyak,
membuat klien-klien yang hampir dari seluruh mahasiswi STIQ betah dan
mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Kampus pula yang mengadakan semua itu.
Kenikmatan yang tiada terperi, Zulfa benar-benar tidak ingin melewatkan program
yang satu ini.
Ramadhan
yang indah melipur lara hari-hari Zulfa, senandung membasahi lidahnya, musim
kemarau tak membuatnya layu, namun menyuburkan semangatnya untuk bertahan.
Walau sesekali teringat masa jahiliahnya, saat-saat hitam dalam hidupnya. Zulfa
menangis lirih. Tak boleh siapapun yang tahu, pikirnya, Biarkan masa lalu itu
terkubur dan hilang oleh jarak dan rentan waktu.
Zulfa
mengatur target ramadhannya, laporan pencapaian harus diserahkan melalui syahid
dari Pembina masing-masing ruang kamar. Ustadzah Aminah, Zulfa telah
menganggapnya seperti kakak kandungnya. Perhatian dan kepedulian ustadzah yang
berasal dari Sumatera ini membuat mereka benar-benar saling mencintai dan
menghargai. Melalui ustadzah ini juga Zulfa mengadu resahnya, masalahnya dan
rasa sedih bahagianya. Setiap Pembina mahasiswa memang diberi tanggung jawab
membimbing, mengarahkan, bahkan menjadi curhatan anggota bimbingannya dengan
sepenuh hati, bukan karena tugas saja. Akhir bulan mereka harus melapor hasil
bimbingan mereka kepada ketua bimbingan. Zulfa, maupun seluruh mahasiswa
lainnya merasa tenang dan nyaman dengan semua itu. STIQ memberikan tekanan dan
juga solusi. Indah nian pendidikan seperti ini.
Tapi
untuk masa lalunya, Zulfa tak ingin berbagi kepada siapa pun, tak ingin siapa
pun tahu. Bahkan, Zulfa berharap Allah pun melupakan dan menghapus segala
memori tentang masa lalunya itu. Zulfa tak berdaya, masa lalu sudah menjadi
bagian yang tak bisa dihapus dari hidupnya. Allah jualah yang Maha Tahu apa
yang terjadi untuk selanjutnya,.
Malam-malam
akhir ramadhan terasa damai, namun setiap hamba yang terpanggil akan ikut serta
memeriahkan dan berburu malam lailatul qadr. Zulfa semakin tenggelam dalam
kekhusukannya, sedu sedan bertaubat atas masa lalunya. Zulfa merasa mendapat kenikmatan
baru, nikmatnya iman, nikmatnya berkumpul bersama orang-orang shaleh, nikmatnya
kekhusyukan. Zulfa tak ingin lepas dari semua itu. Walau masa lalunya kembali
menyeruak lagi.
Di
tengah Ramadhan yang lalu, telpon asrama berdering, panggilan untuk Zulfa,
ternyata berasal dari ayah tirinya yang menyuruhnya untuk kembali ke Bandung.
Kekacauan yang telah dibuat Zulfa di tahun sebelumnya masih menyisakan banyak
masalah yang akhirnya ditinggalkannya ke Kalimantan untuk kuliah di STIQ. Zulfa
telah mengikuti jaringan terorisme internasional cabang Aceh, awalnya Zulfa
berhasil menemukan jaringan itu lewat blog tertutup milik salah seorang anggota
teroris, jiwa mudanya yang ingin mencoba-coba dan mudah terpengaruh itu
mengakibatkan dirinya berhasil dicuci otak dan dipengaruhi hanya lewat
kata-kata di posting blog jaringan teroris atas nama jihad itu. Zulfa semakin
akrab dengan mereka di berbagai mediator jejaring internasional. Zulfa sempat
dibawa ke Aceh untuk kongres dan pelantikan anggota. Dia mendapatkan peran yang
lumayan penting dalam tugasnya, sebagai pemantau gerakan nonlazim pemerintah, kerjaannya
menghina dan menentang setiap program pemerintah wilayahnya. Akhirnya dia
mendapat kecaman keras dari pemerintah bahkan masyarakat setempat. Zulfa
disidang beberapa kali. Sang ibu tak tahan mendengar dan akhirnya meninggal
dunia akibat tekanan darah tinggi. Ayah tirinya yang terpaksa menanggung
kekacauan itu. Masalah kian rumit, saat gerakan teroris semakin gencar,
walaupun pihak hukum belum bisa membuktikan keikut sertaan Zulfa di dalam
gerakan teroris tapi Zulfa tetap mendapatkan pengawasan dan selalu dipantau
gerak-geriknya. Belum puas juga dengan kesalahannya, Zulfa berani bertindak
konyol dengan membantu menyebar luaskan gerakan ini ke pesantren-pesantren.
Akhirnya Zulfa benar-benar tertangkap basah, kembali disidang, bahkan sempat ditahan
di penjara beberapa bulan. Zulfa yang saat itu masih berumur 20an mendapat
dispensasi, karena pihak hukum menganggap Zulfa hanya seorang gadis korban dan
memang masih tergolong usia labil, mudah terpengaruh, apalagi pencucian otak
itu begitu canggih, ada unsur hipnotis di dalamnya. Dalam keadaan yang begitu
kalut, Zulfa depresi dan kian kacau. Dia bingung mana yang benar mana yang
salah, Zulfa termakan dengan setiap kata-kata jihad yang dilontarkan teroris
itu. Janji setia dan rela mati yang diikrarkannya sewaktu baiat anggota teroris
dahulu membuatnya semakin sulit untuk memerangi pemikiran yang merasukinya itu.
Zulfa yang semula adalah santri yang sangat cerdas, berakhir dengan pemikiran
konyol dengan bergabung bersama jihad ala teroris tersebut. Zulfa hampir di
masukkan ke rumah sakit gila saat itu.
Detik-detik yang mengerikan dalam hidupnya berakhir,
saat dia menerima surat dari seorang tokoh ternama, surat khusus untuk dirinya,
dari Kalimantan dengan sampul manis dan tulisan tangan orang hebat. Zulfa
terpana, di era modern yang serba canggih ini, masih ada orang yang mau
memfungsikan kesederhanaan namun itulah arti sebuah ketulusan. Surat itu dari
Dekan STIQ, fakultas impiannya. Zulfa memang sering mengirimi STIQ pesan lewat
email maupun komentar di setiap situs STIQ, informasi STIQ selalu up
date baginya. STIQ pun sering balas
mengomentari setiap pesan yang dikirimnya. Itu karena STIQ juga membentuk staff
khusus untuk koneksi sosial di dunia maya. Namun, otak terorisme itu sedemikian
mengakar dan memperbudaknya jauh sebelum dia aktif mengikuti jaringan sosial
STIQ. Ibaratnya Zulfa lebih dahulu mengambil jalur yang salah sebelum akhirnya
dia tersadar lewat surat yang diterimanya dari STIQ, lembaga pendidikan yang
berkualitas ini memahami dan telah mengenal karakter Zulfa sejak lama. STIQ
terpanggil untuk menyelamatkan anak ini. Karena Zulfa tak lebih hanya sebagai
seorang korban penganiaiaan mental oleh kelompok bejat yang mengatas namakan
diri mereka penjihad itu. STIQ juga mengirim surat kepada pihak yang berwenang
terhadap kasus Zulfa, agar mereka membiarkan STIQ menangani anak itu. STIQ
mendapat kepercayaan penuh oleh seluruh lembaga hukum. Zulfa bisa keluar dengan
jaminan dan tanggung jawab STIQ. Namun kasus Zulfa belum bisa diselesaikan, dia
masih harus melalui proses hukum. Zulfa bersyukur identitasnya dirahasiakan,
nama yang tertera di tayangan berita televisi, internet maupun Koran merupakan
identitas samaran dan palsu. Pemerintah masih menyayanginya dan menganggapnya
putri bangsa ini.
Saat dia sudah damai berada di lingkungan STIQ, Zulfa
sudah kembali bisa menyadari kesalahannya dan kekonyolan masa lalunya.
Bayang-bayang pahit itu seimbang dengan keindahan yang dirasakannya saat ini.
Zulfa merasa bangga bisa kuliah di sini, dia merasa masa depan indah kian
menghampirinya. Kasusnya belum selesai, ayah tirinya yang baik itu bersedia menangani
setiap proses hukum. Walau terkadang dia tetap menyuruh Zulfa kembali ke
Bandung, daerah asalnya untuk membantu ayahnya mengurus segala permintaan
hukum. Zulfa sendiri kasihan dengan orang tua tirinya itu, ayah kandungnya
benar-benar tak cari tahu dan tak ingin bertanggung jawab. Zulfa ditelantarkan
bersama ibunya saat dia masih kecil. Masalahnya, jika dia kembali ke Bandung,
segalanya tidak akan lebih membaik, Jaringan teroris masih mencari-cari
dirinya. Dan itu sangat berbahaya bagi Zulfa.
Jingga di ufuk senja, menyelimuti keheningan sore itu,
sore terakhir untuk Ramahdan yang terasa begitu singkat. Zulfa merasa berat
untuk membayangkan setelah Ramadhan berlalu, akan ada kesibukan, perjuangan,
tantangan dan masalah-masalah baru yang siap menghadangnya. Tapi bukankah dia
telah mendapat bekal dan oleh-oleh dari Ramadhan berupa taqwa dan kekuatan
baru. Segalanya akan membentuk sejarah, Zulfa lebih berhati-hati dalam memilih
langkah. Kesalahan yang dia toreh di masa lalu akan dia gantikan dengan
menciptakan sejarah yang lebih baik. Zulfa bertekad untuk bangkit.
Zulfa dipanggil untuk kembali ke Bandung, ada beberapa
hal yang harus dia tangani sendiri. Setelah mendapat izin dari STIQ, sehari
setelah idul fitri itu juga Zulfa pulang ke Bandung. Sedihnya tak kepalang
karena dia harus menghadapi akibat dari kesalahan yang telah dilakukannya,
belum lagi dia diminta menjadi saksi dan memberi tahu segala informasi gerakan
radikal teroris yang pernah digelutinya itu. Zulfa terkadang merasa kesal,
mengapa masalah ini masih diperpanjang dan malah diperumit, padahal jelas-jelas
dia sudah berhenti dari tindakannya, proses hukum yang hampir dua tahun belum
juga kelar. Zulfa memang sudah terbukti positif berhenti dari jaringan yang
mengkelabui kehidupannya itu. Zulfa sedikit emosi untuk hal itu, yang bisa dia
lakukan hanyalah menerima apa yang diperintahkan hukum kepadanya.
Jalur arus mudik lebaran masih sepi, Ramadhan masih
menyisakan hangatnya. Di jalan menuju pulang ke Bandung membuatnya begitu
hampa, rindu akan kesibukan al-Quran dan ilmu yang ditekuninya, canda tawa
bersama pembina-pembina asrama, keluguannya bersama mahasiswa-mahasiswi baru. Ah,
berharganya detik-detik itu, detik-detik ibadah dan nuansa ilmu. Zulfa terasa
lahir di abad kejayaan islam, menjelajahi ilmu tanpa batas bersama-sama tokoh
ilmuan islam.
Kursi pesawat banyak yang kosong, Zulfa memilih duduk
dekat jendela. Zulfa lelah, matanya bengkak akibat tangisnya selama perjalanan.
Zulfa mentaqrir surah baqarah yang telah dikuasainya di luar kepala itu. Seseorang
yang berada di sampingnya terlihat juga tiduran dengan selembar Koran menutupi
wajahnya. Zulfa mulai memejamkan matanya saat akhir surah baqarah selesai
dibacanya. Dalam mimpinya segalanya begitu indah, sosoknya yang berubah menjadi
sosok mungil, Zulfa kecil dalam gendongan laki-laki tua berjanggut putih,
muallim, dekan STIQ itu menimangnya seakan cucunya sendiri. Tiba-tiba dari
kejauhan sang ibunda Zulfa datang, lirih memanggilnya. Menangis dan meminta
muallim untuk menyerahkan bayinya itu. Muallim dengan hormat menyerahkannya ke
pangkuan ibunda. Setelah itu Zulfa semakin terlelap dan tak mampu sadar.
Laki-laki di sampingnya sewaktu di pesawat itu memapah
Zulfa keluar bandara Malaysia, Zulfa dibawa ke Kuala Lumpur. Laki-laki itu
temannya sewaktu masih dalam jaringan teroris. Hanif telah membius Zulfa
sewaktu dia tidur di kursi pesawat. Ternyata panggilan dari Bandung itu cuma
rekayasa oleh Hanif. Zulfa dibawa ke sebuah ruangan kosong.
Sesuatu yang tajam menusuk bagian kiri ujung limpa
Zulfa, dalam dan begitu cepat membekukan segala aktifitas organ tubuhnya, Zulfa
terperanjat, bayang ibunda dan muallim dekan lenyap dari mimpinya, yang dia
rasakan adalah sakit di ulu hatinya, dan menyebar ke jantung, terus menerus
menembus otaknya. Zulfa tersadar namun tak berdaya, perutnya nyeri, cairan
merah nampak di bajunya yang berwarna krim. Zulfa terkulai layu, matanya berkunang-kunang,
Hanif dengan pisau yang berkilau darah di genggaman kirinya kembali menusuk
perutnya. Zulfa kian terperanjat, takbir lirih terbingkai di mulutnya, Allah
Akbar. Seluruh aliran darah Zulfa membeku. Zulfa merasakan waktunya kian
dekat, dia tahu sesadar-sadarnya inilah detik-detik akhir sakratul maut. Masih
ada kesempatan untuk husnul khatimah. Sakit yang terabaikan. Syukurlah yang
menyelimutinya saat itu, kalimat terakhir dari mulutnya adalah kalimat ikrar sejati,
lantunan pengakuan uluhiyah Allah, lantunan tahlil. Mata Zulfa perlahan
tertutup dan setetes air mata membasahi samping kanan matanya. Zulfa terlelap
dalam keabadian sedangkan hatinya tersenyum.
TAMAT
Biodata Singkat Penulis
Nama : Rosida
Nama Pena : Bintul
Qalam
Semester : V b STIQ Amuntai
Keterangan
Cerpen
Tema : Tokoh Teladan Umat
Judul : Fakultas Impian Zulfa
Sinopsis
Singkat
Zulfa tertekan dengan masa lalunya yang
kelabu, mantan dari anggota teroris internasional, dan masalah tak kunjung
selesai. Saat semuanya sudah semakin kacau. STIQ datang menjadi pahlawan
hidupnya. STIQ bersedia menerima Zulfa walau beberapa tokoh penting STIQ harus
menanggung resiko untuk mempertanggungjawabkan semua kekacauan yang telah
diperbuat Zulfa.
Untuk
memperbaiki semua kesalahan di masa lalunya, Zulfa bertekad untuk bangkit, di
fakultas impiannya inilah, kesungguhan dan tekadnya dia perjuangkan. Akankah
dia berhasil sampai akhir hayatnya?
Tentang Cerpen
Ilustrasi yang menggebu-gebu, walau
menggunakan nama tempat yang sebenarnya, diskripsi tempat total hanya fiktif.
Sebagaimana judulnya, Fakultas Impian Zulfa. Fakultas ini masih menjadi impian.
Dengan tokoh seorang mahasiswi yang penuh semangat walau dilatarbelakangi
dengan kekacauan masa lalunya. Zulfalah yang menjadi tokoh teladan sebagai mahasiswa yang
bermasalah tapi tetap berjuang untuk memperbaiki kesalahannya