Powered By Blogger

Minggu, 09 Oktober 2011

sebuah artikel



Generasi Qur’ani, Pahlawan untuk Memberantas Kemusyrikan Umat
(Analisis Singkat)
                Sebagai Negara yang mayoritas berpenduduk muslim, tidak nihil dari berbagai perselisihan pemahaman keagamaan. Islam yang dikenal memiliki berbagai macam aspek untuk menempuh kesempurnaan beragama, yaitu aspek syariat, thariqat dan hakikat, maka dari ke tiga aspek ini masing-masingnya melahirkan sendi pengaplikasian yaitu amaliah fiqh, ketauhidan dan tashawuf. Semua cabang ini memiliki sumber tuntunan dari Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam. Karena segala macam bentuk ajaran haruslah sesuai tuntunan yang diajarkan Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam. Yang menjadi permasalahan, berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam, pemahaman tentang ajaran maupun tuntunan beliau semakin meluas, sebab lain, islam menyebar pesat ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
                Awal masuk dan berkembangnya islam di Indonesia menempuh berbagai macam cara, melihat kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih erat dengan pengaruh hindu dan budha, oleh karenanya para muballigh islam mengakali semua itu dengan tetap menyampaikan dakwah kepada mereka dan  tetap menoleransi kegiatan berbau pengaruh hindu budha tersebut. Namun disayangkan, ritual-ritual itu begitu kental membudaya keibadahan mereka, sehingga mereka yang telah memeluk islam tetap saja mengerjakan ritual itu di samping melaksanakan  ajaran islam, bahkan mereka lebih suka mencampur adukan ritual ke duanya, antara kepercayaan mereka terdahulu dengan agama islam yang telah mereka anut. Hasilnya, turun temurun pencampur adukan itu masih mewarnai sifat-sifat keagamaan islam di Indonesia, bahkan mengakar menjadi kepercayaan yang wajib dilaksanakan walau sama sekali tidak bersumber dari islam sendiri.
                Menengok kembali sejarah perkembangan islam di Indonesia ini memang sangat mengagumkan, Para muballigh begitu cerdas dalam memasukkan islam ke tengah masyarakat yang sarat ritual mistik, mengingat islam adalah agama yang rasional dan melarang segala bau kemusyrikan, tapi para muballigh tetap tampil kreatif menuguhkan agama islam di hadapan masyarakat Indonesia. Namun masalah yang terjadi, nilai-nilai kemusyrikan itu masih menjamur di kegiatan islam sendiri akibat toleransi muballigh pada awalnya. Kesulitan ulama sekarang adalah dalam perdebatan antara ulama sendiri. Ada yang menerimanya dan mengakui keabsahan praktek relegi berbau budaya hindu budha ini, ulama jenis ini tetap menoleransi masyarakat untuk mempraktekannya. Sedangkan ulama selanjutnya begitu ekstrim dengan nilai-nilai pencampur adukan ini. Menjauh, menghina dan membentuk kelompok baru yang fanatisme terhadap golongan mereka sendiri.
                Sebagai penengah dari ke dua golongan tersebut, perlulah adanya pemikir-pemikir yang tetap bisa menyatukan umat namun menyingkirkan benang kusut. Permasalahn yang terjadi bukan harus dihindari maupun dibiarkan tetapi yang perlu dilakukan pemikir itu adalah mencari solusi, bukan juga ikut mengikuti salah satu dari dua pihak. Karena ke dua pihak tidak dapat disatukan selama adanya pemikiran yang tepat untuk suatu solusi jitu. Bukanlah perbedaan menjadi rahmat selama persatuan masih dapat dicapai.
                Untuk para penggelut Quran, baik penghafal, pengajar maupun pelajarnya. Merekalah pahlawan yang diharapkan mampu mengatasi dan menjawab solusi permasalahan ini. Jawaban bukan dari ucapan atau retorika dakwah saja, tetapi lebih mengarah kepada adanya aksi dakwah nyata melalui teladan konkrit untuk umat ini. Karena mungkin umat begitu haus dan mendambakan pengikut Rasulullah yang nyata. Dakwah aksi inilah yang diharapkan menjadi solusi permasalahan umat di antara celah perdebatan ulama. Umat tidak perlu banyak kata-kata, tetapi umat perlu amal nyata. Aplikasi.
                Generasi qurani harus mampu berpikir matang dalam pengarahkan umat kepada tuntunan sunah yang benar, di samping generasi qurani harus pandai untuk sedikit demi sedikit menghilangkan pengaruh-pengaruh yang berbau bidah dan syirik dari ritual umat. Bukan langsung menghalang-halangi atau mencemooh mereka, tetapi perlahan membelokkan mereka ke arah yang tepat. Kalau saja senantiasa terus menoleransi amaliah mereka yang berbau syirik itu, maka tidak aka nada perubahan dan selamanya dalam kesesatan yang diislamisasikan tersebut. Namun kalau saja langsung dirubah sepenuhnya gaya ritual mereka ke rtual tuntunan islam sebenarnya, maka akan memperbesar kobaran perselisihan  dan tangga kecongkakan akan semakin meninggi. Karena masyarakt tidak mudah menerima dan merubah, perlu proses namun tetap dalam tahapan perubahan.
Sebagai perbandingan bagi para penggelut quran yang hanya berani melihat dan menghindar, sungguh memilukan dan sangat memalukan bagi mereka yang hanya mencemooh tanpa memberikan solusi. Atau mereka hanya orang-orang yang pura-pura tidak tahu, menutup mata, hati, telinga dan mulut mereka untuk sebuah kenyataan yang Untuk itu, generasi quran harus berani dan merasa terpanggil untuk bergerak menyelamatkan umat ini, pandai bersikap, atur strategi, bulatkan tekad dan satukan niat. Sebagai pahlawan umat dan bertanggung jawab untuk mengemban misi dakwah menyelamatkan umat, menuntun kea rah yang tepat.menjadi tanggung jawab mereka.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Fakultas Impian Zulfa


Debar jantung yang semakin kencang, tinggal beberapa langkah lagi. Namun kaki seakan tak peduli dengan kerisauan hati bercampur rasa gugup yang keterlaluan. Panas dingin tubuhnya saat itu. Sedangkan mahasiswa-mahasiswi yang lain kian berlalu dan tak mempedulikannya, semuanya sibuk hanya untuk tujuan belajar. Zulfa kalut namun tetap berusaha tenang. Sekarang yang ada di hadapannya adalah sebuah bangunan yang fenomenal, angkuh namun sungguh berkharisma, di ujung atapnya terbentuk sebuah mushaf al-Quran yang terbentang menghadap langit dan alam sekitarnya. Sebuah gedung bertingkat tujuh, besar dan megah. Begitu kokoh dan gagah untuk sebuah  fakultas ternama, terkenal dengan Pencetak seribu Hafizh, STIQ, siapakah yang tak kenal dengan STIQ ini, pahlawan dan dambaan umat. Yang telah melahirkan tokoh-tokoh hebat bangsa. Decak kagum, pengakuan dan penghargaan dari berbagai cabang-cabang pendidikan internasional.
            Di sinilah Zulfa memilih untuk meneruskan pendidikannya, impiannya untuk kuliah di sini tercapai, walau STIQ tidak menuntut mahasiswa-mahasiswinya untuk mengeluarkan biaya yang tinggi untuk pendidikan mereka, STIQ malah tidak memungut biaya apapun. STIQ cukup menerima mahasiswa-mahasiswi yang berkualitas dan siap mental untuk berjuang meraih gelar hafizh Al-Quran dan alim ulama yang siap memimpin bangsa dan umat. Oleh karena itu seleksi masuk STIQ sungguh ketat, baik mahasiswa maupun dosen pengajarnya merupakan orang-orang pilihan. Seleksi yang diterapkan STIQ bukan hanya bertumpu pada kemampuan intelektual ataupun kecerdasan calon mahasiswa tapi lebih kepada seleksi spiritual mereka, STIQ mengukur kesungguhan, niat, tekad juang dan ibadah mereka.Seleksi itu hanya bisa dilakukan oleh pakar-pakar pilihan dan terpercaya yang mampu melaksanakannya, akhirnya yang mampu lulus tes seleksi gelombang pertama itu hanya 200 orang saja dari seribu peserta tes yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan banyak juga yang berasal dari negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand. Namun bagi peserta yang tidak lulus mendapat bimbingan intensif selama 6 bulan di mahad an-Najah yang diadakan oleh STIQ sendiri. Yang Zulfa bisa lakukan kemarin dengan mengikuti pelatihan singkat fisik dan rohani prakuliah STIQ selama enam bulan yang diadakan oleh sebuah ponpes dekat fakultas STIQ khusus untuk membina bagi santri yang ingin melanjutkan studinya ke STIQ. Tapi bagi Zulfa pelatihan itu saja tidak cukup, karena seleksi lebih membebankan tes bathin, spritualisme dan kesungguhan. Itu suatu yang sangat berat bagi Zulfa, karena masa lalunya selalu mebayang-bayanginya, masa lalu yang penuh aib. Ingin dia mengubur masa lalunya itu, tapi selalu saja menghantuinya. Itulah yang membuatnya merasa malu STIQ mengetahui masa lalunya, Zulfa merasa begitu kerdil dan tak pantas untuk menjadi mahasiswi STIQ. Walau beberapa pihak dan tokoh penting STIQ juga yang berjasa menyelamatkannya dari mimpi buruk masa lalu, STIQ telah bersedia memberinya kesempatan untuk ikut pelatihan dan bimbingan intensif 6 bulan untuk persiapan seleksi selanjutnya.
Awalnya Zulfa sudah hampir menyerah dan pasrah bahwa dirinya hanya bisa bertahan sampai pelatihan itu saja. Namun kenyataannya Zulfa mampu lulus tes di antara ribuan peserta itu, Dan sekarang merupakan hari pertamanya duduk di kursi di lokalnya sebagai mahasiswi STIQ. Orang-orang di sekelilingnya tidak mengetahui Zulfa dan masa lalunya. Zulfa semakin tertutup dengan mereka, walau Zulfa berdecak kagum dengan masing-masing mereka, baik dosen, mahasiswa maupun mahasiswinya. Mereka semua orang-orang yang luar biasa. Sopan, baik, terjaga, patuh, disiplin, ramah, pemalu juga penuh semangat dan menyemangati.
Suasana di STIQ adalah suasana ilmu, dalam satu gedung STIQ ada dua bangunan, untuk bangunan kiri khusus mahasiswa, dan bangunan kanannya khusus mahasiswi. Semuanya terjaga dan penuh aturan kedisiplinan. Di hari pertama ini, Zulfa sudah merasa begitu penat, otaknya yang terbiasa santai, sekarang harus terpaksa online untuk mengikuti seluruh program wajib mahasiswa baik di kampus maupun di asrama yang semuanya terpadu dan jelas dalam buku bersampul biru Qanun Thullab STIQ. Qanun itu sendiri berbahasa Arab, untuk memahaminya, Zulfa harus bertanya kepada kakak-kakak senior di asrama yang juga menjelaskan Qanun dengan berbahasa Arab. Zulfa merasa ingin meledak dengan kondisinya itu, segala apa yang dia dengar, baca, tulis dan ucapkan, semuanya harus berbahasa Arab. Belum lagi program rutinan tahfiz dan takrir Quran untuk setiap harinya, STIQ menuntut perjanjian bermaterai, kuliah program SI selama tujuh tahun dengan syarat harus hafizh Quran dan hapal seribu hadis Nabi. Setiap semesternya hapalan mahasiswa seluruhnya dipantau, siapa yang tidak memenuhi target siap-siap untuk menjalani sanksi, untuk hukuman terberatnya bisa-bisa dikeluarkan dari STIQ. Zulfa merasa tertekan luar biasa, tetapi dia sadar dia sudah berani masuk, pantang baginya sebelum lulus untuk keluar atau dikeluarkan. Toh, selama ini sudah beribu-ribu mahasiswa yang berhasil untuk menjalani program STIQ sampai lulus. Tentu dirinya pun sanggup untuk itu Pikir Zulfa.
Minggu-minggu melelahkan telah terlewati, seminggu lagi akan tiba bulan Ramadhan. Kuliah diliburkan selama setengah bulan dari minggu ini. Zulfa sudah bisa kembali bernafas lega, walau program asrama pun sedemikian membuatnya lelah tak kepalang, bayangkan saja dari bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya ada undang-undang atau qanunnya. Jatah tidur Zulfa yang biasanya 8 jam ke atas, kini berkurang 3 jam dan diberi waktu tidur qailulah siang maksimal 20 menit. Zulfa merasa hidup dalam batasan, cekikan dan beban yang menggelantungi lehernya. Tapi inilah resiko dari keinginannya kuliah di sini. Zulfa tidak bisa memberontak lagi.
            Ramadhan yang ditunggu-tunggu tiba juga, seluruhnya dalam persiapan. Ada program-program baru untuk Ramadhan ini, di antaranya seluruh mahasiswi wajib tarawih tiap malam 1 juz khusus mahasiswi saja di mushalla asrama, pembagian imam sudah ditentukan, buka puasa dan sahur wajib bersama-sama. Ustadzah-ustadzah Pembina asrama pun semakin ketat dengan aturan-aturan di asrama. Untungnya, seperti biasanya waktu hari jumat mereka full untuk hari kebebasan.. Zulfa menggunakan hari itu khusus untuk merelaksasikan tubuh dan pikirannya, biasanya dia mengunjungi salon muslimah yang dibangun di samping asrama untuk meremajakan seluruh anggota tubuhnya dari keramas, pemotongan kuku, mandi susu, manti uap, kolam renang, juga ada pemijatan tradisional. Tenaga kerjanya yang banyak, membuat klien-klien yang hampir dari seluruh mahasiswi STIQ betah dan mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Kampus pula yang mengadakan semua itu. Kenikmatan yang tiada terperi, Zulfa benar-benar tidak ingin melewatkan program yang satu ini.
            Ramadhan yang indah melipur lara hari-hari Zulfa, senandung membasahi lidahnya, musim kemarau tak membuatnya layu, namun menyuburkan semangatnya untuk bertahan. Walau sesekali teringat masa jahiliahnya, saat-saat hitam dalam hidupnya. Zulfa menangis lirih. Tak boleh siapapun yang tahu, pikirnya, Biarkan masa lalu itu terkubur dan hilang oleh jarak dan rentan waktu.
            Zulfa mengatur target ramadhannya, laporan pencapaian harus diserahkan melalui syahid dari Pembina masing-masing ruang kamar. Ustadzah Aminah, Zulfa telah menganggapnya seperti kakak kandungnya. Perhatian dan kepedulian ustadzah yang berasal dari Sumatera ini membuat mereka benar-benar saling mencintai dan menghargai. Melalui ustadzah ini juga Zulfa mengadu resahnya, masalahnya dan rasa sedih bahagianya. Setiap Pembina mahasiswa memang diberi tanggung jawab membimbing, mengarahkan, bahkan menjadi curhatan anggota bimbingannya dengan sepenuh hati, bukan karena tugas saja. Akhir bulan mereka harus melapor hasil bimbingan mereka kepada ketua bimbingan. Zulfa, maupun seluruh mahasiswa lainnya merasa tenang dan nyaman dengan semua itu. STIQ memberikan tekanan dan juga solusi. Indah nian pendidikan seperti ini.
            Tapi untuk masa lalunya, Zulfa tak ingin berbagi kepada siapa pun, tak ingin siapa pun tahu. Bahkan, Zulfa berharap Allah pun melupakan dan menghapus segala memori tentang masa lalunya itu. Zulfa tak berdaya, masa lalu sudah menjadi bagian yang tak bisa dihapus dari hidupnya. Allah jualah yang Maha Tahu apa yang terjadi untuk selanjutnya,.
            Malam-malam akhir ramadhan terasa damai, namun setiap hamba yang terpanggil akan ikut serta memeriahkan dan berburu malam lailatul qadr. Zulfa semakin tenggelam dalam kekhusukannya, sedu sedan bertaubat atas masa lalunya. Zulfa merasa mendapat kenikmatan baru, nikmatnya iman, nikmatnya berkumpul bersama orang-orang shaleh, nikmatnya kekhusyukan. Zulfa tak ingin lepas dari semua itu. Walau masa lalunya kembali menyeruak lagi.
            Di tengah Ramadhan yang lalu, telpon asrama berdering, panggilan untuk Zulfa, ternyata berasal dari ayah tirinya yang menyuruhnya untuk kembali ke Bandung. Kekacauan yang telah dibuat Zulfa di tahun sebelumnya masih menyisakan banyak masalah yang akhirnya ditinggalkannya ke Kalimantan untuk kuliah di STIQ. Zulfa telah mengikuti jaringan terorisme internasional cabang Aceh, awalnya Zulfa berhasil menemukan jaringan itu lewat blog tertutup milik salah seorang anggota teroris, jiwa mudanya yang ingin mencoba-coba dan mudah terpengaruh itu mengakibatkan dirinya berhasil dicuci otak dan dipengaruhi hanya lewat kata-kata di posting blog jaringan teroris atas nama jihad itu. Zulfa semakin akrab dengan mereka di berbagai mediator jejaring internasional. Zulfa sempat dibawa ke Aceh untuk kongres dan pelantikan anggota. Dia mendapatkan peran yang lumayan penting dalam tugasnya, sebagai pemantau gerakan nonlazim pemerintah, kerjaannya menghina dan menentang setiap program pemerintah wilayahnya. Akhirnya dia mendapat kecaman keras dari pemerintah bahkan masyarakat setempat. Zulfa disidang beberapa kali. Sang ibu tak tahan mendengar dan akhirnya meninggal dunia akibat tekanan darah tinggi. Ayah tirinya yang terpaksa menanggung kekacauan itu. Masalah kian rumit, saat gerakan teroris semakin gencar, walaupun pihak hukum belum bisa membuktikan keikut sertaan Zulfa di dalam gerakan teroris tapi Zulfa tetap mendapatkan pengawasan dan selalu dipantau gerak-geriknya. Belum puas juga dengan kesalahannya, Zulfa berani bertindak konyol dengan membantu menyebar luaskan gerakan ini ke pesantren-pesantren. Akhirnya Zulfa benar-benar tertangkap basah, kembali disidang, bahkan sempat ditahan di penjara beberapa bulan. Zulfa yang saat itu masih berumur 20an mendapat dispensasi, karena pihak hukum menganggap Zulfa hanya seorang gadis korban dan memang masih tergolong usia labil, mudah terpengaruh, apalagi pencucian otak itu begitu canggih, ada unsur hipnotis di dalamnya. Dalam keadaan yang begitu kalut, Zulfa depresi dan kian kacau. Dia bingung mana yang benar mana yang salah, Zulfa termakan dengan setiap kata-kata jihad yang dilontarkan teroris itu. Janji setia dan rela mati yang diikrarkannya sewaktu baiat anggota teroris dahulu membuatnya semakin sulit untuk memerangi pemikiran yang merasukinya itu. Zulfa yang semula adalah santri yang sangat cerdas, berakhir dengan pemikiran konyol dengan bergabung bersama jihad ala teroris tersebut. Zulfa hampir di masukkan ke rumah sakit gila saat itu.
Detik-detik yang mengerikan dalam hidupnya berakhir, saat dia menerima surat dari seorang tokoh ternama, surat khusus untuk dirinya, dari Kalimantan dengan sampul manis dan tulisan tangan orang hebat. Zulfa terpana, di era modern yang serba canggih ini, masih ada orang yang mau memfungsikan kesederhanaan namun itulah arti sebuah ketulusan. Surat itu dari Dekan STIQ, fakultas impiannya. Zulfa memang sering mengirimi STIQ pesan lewat email maupun komentar di setiap situs STIQ, informasi STIQ selalu up date  baginya. STIQ pun sering balas mengomentari setiap pesan yang dikirimnya. Itu karena STIQ juga membentuk staff khusus untuk koneksi sosial di dunia maya. Namun, otak terorisme itu sedemikian mengakar dan memperbudaknya jauh sebelum dia aktif mengikuti jaringan sosial STIQ. Ibaratnya Zulfa lebih dahulu mengambil jalur yang salah sebelum akhirnya dia tersadar lewat surat yang diterimanya dari STIQ, lembaga pendidikan yang berkualitas ini memahami dan telah mengenal karakter Zulfa sejak lama. STIQ terpanggil untuk menyelamatkan anak ini. Karena Zulfa tak lebih hanya sebagai seorang korban penganiaiaan mental oleh kelompok bejat yang mengatas namakan diri mereka penjihad itu. STIQ juga mengirim surat kepada pihak yang berwenang terhadap kasus Zulfa, agar mereka membiarkan STIQ menangani anak itu. STIQ mendapat kepercayaan penuh oleh seluruh lembaga hukum. Zulfa bisa keluar dengan jaminan dan tanggung jawab STIQ. Namun kasus Zulfa belum bisa diselesaikan, dia masih harus melalui proses hukum. Zulfa bersyukur identitasnya dirahasiakan, nama yang tertera di tayangan berita televisi, internet maupun Koran merupakan identitas samaran dan palsu. Pemerintah masih menyayanginya dan menganggapnya putri bangsa ini.
Saat dia sudah damai berada di lingkungan STIQ, Zulfa sudah kembali bisa menyadari kesalahannya dan kekonyolan masa lalunya. Bayang-bayang pahit itu seimbang dengan keindahan yang dirasakannya saat ini. Zulfa merasa bangga bisa kuliah di sini, dia merasa masa depan indah kian menghampirinya. Kasusnya belum selesai, ayah tirinya yang baik itu bersedia menangani setiap proses hukum. Walau terkadang dia tetap menyuruh Zulfa kembali ke Bandung, daerah asalnya untuk membantu ayahnya mengurus segala permintaan hukum. Zulfa sendiri kasihan dengan orang tua tirinya itu, ayah kandungnya benar-benar tak cari tahu dan tak ingin bertanggung jawab. Zulfa ditelantarkan bersama ibunya saat dia masih kecil. Masalahnya, jika dia kembali ke Bandung, segalanya tidak akan lebih membaik, Jaringan teroris masih mencari-cari dirinya. Dan itu sangat berbahaya bagi Zulfa.
Jingga di ufuk senja, menyelimuti keheningan sore itu, sore terakhir untuk Ramahdan yang terasa begitu singkat. Zulfa merasa berat untuk membayangkan setelah Ramadhan berlalu, akan ada kesibukan, perjuangan, tantangan dan masalah-masalah baru yang siap menghadangnya. Tapi bukankah dia telah mendapat bekal dan oleh-oleh dari Ramadhan berupa taqwa dan kekuatan baru. Segalanya akan membentuk sejarah, Zulfa lebih berhati-hati dalam memilih langkah. Kesalahan yang dia toreh di masa lalu akan dia gantikan dengan menciptakan sejarah yang lebih baik. Zulfa bertekad untuk bangkit.
Zulfa dipanggil untuk kembali ke Bandung, ada beberapa hal yang harus dia tangani sendiri. Setelah mendapat izin dari STIQ, sehari setelah idul fitri itu juga Zulfa pulang ke Bandung. Sedihnya tak kepalang karena dia harus menghadapi akibat dari kesalahan yang telah dilakukannya, belum lagi dia diminta menjadi saksi dan memberi tahu segala informasi gerakan radikal teroris yang pernah digelutinya itu. Zulfa terkadang merasa kesal, mengapa masalah ini masih diperpanjang dan malah diperumit, padahal jelas-jelas dia sudah berhenti dari tindakannya, proses hukum yang hampir dua tahun belum juga kelar. Zulfa memang sudah terbukti positif berhenti dari jaringan yang mengkelabui kehidupannya itu. Zulfa sedikit emosi untuk hal itu, yang bisa dia lakukan hanyalah menerima apa yang diperintahkan hukum kepadanya.
Jalur arus mudik lebaran masih sepi, Ramadhan masih menyisakan hangatnya. Di jalan menuju pulang ke Bandung membuatnya begitu hampa, rindu akan kesibukan al-Quran dan ilmu yang ditekuninya, canda tawa bersama pembina-pembina asrama, keluguannya bersama mahasiswa-mahasiswi baru. Ah, berharganya detik-detik itu, detik-detik ibadah dan nuansa ilmu. Zulfa terasa lahir di abad kejayaan islam, menjelajahi ilmu tanpa batas bersama-sama tokoh ilmuan islam.
Kursi pesawat banyak yang kosong, Zulfa memilih duduk dekat jendela. Zulfa lelah, matanya bengkak akibat tangisnya selama perjalanan. Zulfa mentaqrir surah baqarah yang telah dikuasainya di luar kepala itu. Seseorang yang berada di sampingnya terlihat juga tiduran dengan selembar Koran menutupi wajahnya. Zulfa mulai memejamkan matanya saat akhir surah baqarah selesai dibacanya. Dalam mimpinya segalanya begitu indah, sosoknya yang berubah menjadi sosok mungil, Zulfa kecil dalam gendongan laki-laki tua berjanggut putih, muallim, dekan STIQ itu menimangnya seakan cucunya sendiri. Tiba-tiba dari kejauhan sang ibunda Zulfa datang, lirih memanggilnya. Menangis dan meminta muallim untuk menyerahkan bayinya itu. Muallim dengan hormat menyerahkannya ke pangkuan ibunda. Setelah itu Zulfa semakin terlelap dan tak mampu sadar.
Laki-laki di sampingnya sewaktu di pesawat itu memapah Zulfa keluar bandara Malaysia, Zulfa dibawa ke Kuala Lumpur. Laki-laki itu temannya sewaktu masih dalam jaringan teroris. Hanif telah membius Zulfa sewaktu dia tidur di kursi pesawat. Ternyata panggilan dari Bandung itu cuma rekayasa oleh Hanif. Zulfa dibawa ke sebuah ruangan kosong.
Sesuatu yang tajam menusuk bagian kiri ujung limpa Zulfa, dalam dan begitu cepat membekukan segala aktifitas organ tubuhnya, Zulfa terperanjat, bayang ibunda dan muallim dekan lenyap dari mimpinya, yang dia rasakan adalah sakit di ulu hatinya, dan menyebar ke jantung, terus menerus menembus otaknya. Zulfa tersadar namun tak berdaya, perutnya nyeri, cairan merah nampak di bajunya yang berwarna krim. Zulfa terkulai layu, matanya berkunang-kunang, Hanif dengan pisau yang berkilau darah di genggaman kirinya kembali menusuk perutnya. Zulfa kian terperanjat, takbir lirih terbingkai di mulutnya, Allah Akbar. Seluruh aliran darah Zulfa membeku. Zulfa merasakan waktunya kian dekat, dia tahu sesadar-sadarnya inilah detik-detik akhir sakratul maut. Masih ada kesempatan untuk husnul khatimah. Sakit yang terabaikan. Syukurlah yang menyelimutinya saat itu, kalimat terakhir dari mulutnya adalah kalimat ikrar sejati, lantunan pengakuan uluhiyah Allah, lantunan tahlil. Mata Zulfa perlahan tertutup dan setetes air mata membasahi samping kanan matanya. Zulfa terlelap dalam keabadian sedangkan hatinya tersenyum.
TAMAT









Biodata Singkat Penulis
Nama                     :         Rosida
Nama Pena            :         Bintul Qalam
Semester                :         V b STIQ Amuntai

Keterangan Cerpen                                                                                                                         
Tema                      :         Tokoh Teladan Umat
Judul                      :         Fakultas Impian Zulfa
Sinopsis Singkat
     Zulfa tertekan dengan masa lalunya yang kelabu, mantan dari anggota teroris internasional, dan masalah tak kunjung selesai. Saat semuanya sudah semakin kacau. STIQ datang menjadi pahlawan hidupnya. STIQ bersedia menerima Zulfa walau beberapa tokoh penting STIQ harus menanggung resiko untuk mempertanggungjawabkan semua kekacauan yang telah diperbuat Zulfa.
Untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalunya, Zulfa bertekad untuk bangkit, di fakultas impiannya inilah, kesungguhan dan tekadnya dia perjuangkan. Akankah dia berhasil sampai akhir hayatnya?
Tentang Cerpen
       Ilustrasi yang menggebu-gebu, walau menggunakan nama tempat yang sebenarnya, diskripsi tempat total hanya fiktif. Sebagaimana judulnya, Fakultas Impian Zulfa. Fakultas ini masih menjadi impian. Dengan tokoh seorang mahasiswi yang penuh semangat walau dilatarbelakangi dengan kekacauan masa lalunya. Zulfalah yang  menjadi tokoh teladan sebagai mahasiswa yang bermasalah tapi tetap berjuang untuk memperbaiki kesalahannya