Generasi Qur’ani, Pahlawan untuk Memberantas
Kemusyrikan Umat
(Analisis Singkat)
Sebagai
Negara yang mayoritas berpenduduk muslim, tidak nihil dari berbagai
perselisihan pemahaman keagamaan. Islam yang dikenal memiliki berbagai macam
aspek untuk menempuh kesempurnaan beragama, yaitu aspek syariat, thariqat dan
hakikat, maka dari ke tiga aspek ini masing-masingnya melahirkan sendi
pengaplikasian yaitu amaliah fiqh, ketauhidan dan tashawuf. Semua cabang ini
memiliki sumber tuntunan dari Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam. Karena
segala macam bentuk ajaran haruslah sesuai tuntunan yang diajarkan Rasulullah sallallaahu
alaihi wa sallam. Yang menjadi permasalahan, berabad-abad setelah wafatnya
Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam, pemahaman tentang ajaran maupun
tuntunan beliau semakin meluas, sebab lain, islam menyebar pesat ke seluruh
penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Awal
masuk dan berkembangnya islam di Indonesia menempuh berbagai macam cara,
melihat kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih erat dengan
pengaruh hindu dan budha, oleh karenanya para muballigh islam mengakali semua
itu dengan tetap menyampaikan dakwah kepada mereka dan tetap menoleransi kegiatan berbau pengaruh
hindu budha tersebut. Namun disayangkan, ritual-ritual itu begitu kental
membudaya keibadahan mereka, sehingga mereka yang telah memeluk islam tetap saja
mengerjakan ritual itu di samping melaksanakanajaran islam, bahkan mereka lebih suka mencampur adukan ritual ke
duanya, antara kepercayaan mereka terdahulu dengan agama islam yang telah
mereka anut. Hasilnya, turun temurun pencampur adukan itu masih mewarnai
sifat-sifat keagamaan islam di Indonesia, bahkan mengakar menjadi kepercayaan
yang wajib dilaksanakan walau sama sekali tidak bersumber dari islam sendiri.
Menengok
kembali sejarah perkembangan islam di Indonesia ini memang sangat mengagumkan,
Para muballigh begitu cerdas dalam memasukkan islam ke tengah masyarakat yang
sarat ritual mistik, mengingat islam adalah agama yang rasional dan melarang
segala bau kemusyrikan, tapi para muballigh tetap tampil kreatif menuguhkan
agama islam di hadapan masyarakat Indonesia. Namun masalah yang terjadi,
nilai-nilai kemusyrikan itu masih menjamur di kegiatan islam sendiri akibat toleransi
muballigh pada awalnya. Kesulitan ulama sekarang adalah dalam perdebatan antara
ulama sendiri. Ada yang menerimanya dan mengakui keabsahan praktek relegi
berbau budaya hindu budha ini, ulama jenis ini tetap menoleransi masyarakat
untuk mempraktekannya. Sedangkan ulama selanjutnya begitu ekstrim dengan
nilai-nilai pencampur adukan ini. Menjauh, menghina dan membentuk kelompok baru
yang fanatisme terhadap golongan mereka sendiri.
Sebagai
penengah dari ke dua golongan tersebut, perlulah adanya pemikir-pemikir yang
tetap bisa menyatukan umat namun menyingkirkan benang kusut. Permasalahn yang
terjadi bukan harus dihindari maupun dibiarkan tetapi yang perlu dilakukan
pemikir itu adalah mencari solusi, bukan juga ikut mengikuti salah satu dari
dua pihak. Karena ke dua pihak tidak dapat disatukan selama adanya pemikiran
yang tepat untuk suatu solusi jitu. Bukanlah perbedaan menjadi rahmat selama
persatuan masih dapat dicapai.
Untuk
para penggelut Quran, baik penghafal, pengajar maupun pelajarnya. Merekalah
pahlawan yang diharapkan mampu mengatasi dan menjawab solusi permasalahan ini.
Jawaban bukan dari ucapan atau retorika dakwah saja, tetapi lebih mengarah
kepada adanya aksi dakwah nyata melalui teladan konkrit untuk umat ini. Karena
mungkin umat begitu haus dan mendambakan pengikut Rasulullah yang nyata. Dakwah
aksi inilah yang diharapkan menjadi solusi permasalahan umat di antara celah
perdebatan ulama. Umat tidak perlu banyak kata-kata, tetapi umat perlu amal
nyata. Aplikasi.
Generasi
qurani harus mampu berpikir matang dalam pengarahkan umat kepada tuntunan sunah
yang benar, di samping generasi qurani harus pandai untuk sedikit demi sedikit
menghilangkan pengaruh-pengaruh yang berbau bidah dan syirik dari ritual umat. Bukan
langsung menghalang-halangi atau mencemooh mereka, tetapi perlahan membelokkan
mereka ke arah yang tepat. Kalau saja senantiasa terus menoleransi amaliah
mereka yang berbau syirik itu, maka tidak aka nada perubahan dan selamanya
dalam kesesatan yang diislamisasikan tersebut. Namun kalau saja langsung
dirubah sepenuhnya gaya ritual mereka ke rtual tuntunan islam sebenarnya, maka
akan memperbesar kobaran perselisihan dan tangga kecongkakan akan semakin meninggi.
Karena masyarakt tidak mudah menerima dan merubah, perlu proses namun tetap
dalam tahapan perubahan.
Sebagai
perbandingan bagi para penggelut quran yang hanya berani melihat dan
menghindar, sungguh memilukan dan sangat memalukan bagi mereka yang hanya
mencemooh tanpa memberikan solusi. Atau mereka hanya orang-orang yang pura-pura
tidak tahu, menutup mata, hati, telinga dan mulut mereka untuk sebuah kenyataan
yang Untuk itu, generasi quran harus berani dan merasa terpanggil untuk
bergerak menyelamatkan umat ini, pandai bersikap, atur strategi, bulatkan tekad
dan satukan niat. Sebagai pahlawan umat dan bertanggung jawab untuk mengemban
misi dakwah menyelamatkan umat, menuntun kea rah yang tepat.menjadi tanggung
jawab mereka.
Debar jantung yang semakin kencang, tinggal beberapa
langkah lagi. Namun kaki seakan tak peduli dengan kerisauan hati bercampur rasa
gugup yang keterlaluan. Panas dingin tubuhnya saat itu. Sedangkan mahasiswa-mahasiswi
yang lain kian berlalu dan tak mempedulikannya, semuanya sibuk hanya untuk
tujuan belajar. Zulfa kalut namun tetap berusaha tenang. Sekarang yang ada di
hadapannya adalah sebuah bangunan yang fenomenal, angkuh namun sungguh
berkharisma, di ujung atapnya terbentuk sebuah mushaf al-Quran yang terbentang
menghadap langit dan alam sekitarnya. Sebuah gedung bertingkat tujuh, besar dan
megah. Begitu kokoh dan gagah untuk sebuah
fakultas ternama, terkenal dengan Pencetak seribu Hafizh, STIQ, siapakah
yang tak kenal dengan STIQ ini, pahlawan dan dambaan umat. Yang telah
melahirkan tokoh-tokoh hebat bangsa. Decak kagum, pengakuan dan penghargaan
dari berbagai cabang-cabang pendidikan internasional.
Di
sinilah Zulfa memilih untuk meneruskan pendidikannya, impiannya untuk kuliah di
sini tercapai, walau STIQ tidak menuntut mahasiswa-mahasiswinya untuk
mengeluarkan biaya yang tinggi untuk pendidikan mereka, STIQ malah tidak
memungut biaya apapun. STIQ cukup menerima mahasiswa-mahasiswi yang berkualitas
dan siap mental untuk berjuang meraih gelar hafizh Al-Quran dan alim ulama yang
siap memimpin bangsa dan umat. Oleh karena itu seleksi masuk STIQ sungguh
ketat, baik mahasiswa maupun dosen pengajarnya merupakan orang-orang pilihan.
Seleksi yang diterapkan STIQ bukan hanya bertumpu pada kemampuan intelektual
ataupun kecerdasan calon mahasiswa tapi lebih kepada seleksi spiritual mereka,
STIQ mengukur kesungguhan, niat, tekad juang dan ibadah mereka.Seleksi itu
hanya bisa dilakukan oleh pakar-pakar pilihan dan terpercaya yang mampu
melaksanakannya, akhirnya yang mampu lulus tes seleksi gelombang pertama itu
hanya 200 orang saja dari seribu peserta tes yang berasal dari berbagai penjuru
Indonesia, bahkan banyak juga yang berasal dari negara-negara tetangga, seperti
Malaysia dan Thailand. Namun bagi peserta yang tidak lulus mendapat bimbingan
intensif selama 6 bulan di mahad an-Najah yang diadakan oleh STIQ sendiri. Yang
Zulfa bisa lakukan kemarin dengan mengikuti pelatihan singkat fisik dan
rohani prakuliah STIQ selama enam bulan yang diadakan oleh sebuah ponpes dekat
fakultas STIQ khusus untuk membina bagi santri yang ingin melanjutkan studinya
ke STIQ. Tapi bagi Zulfa pelatihan itu saja tidak cukup, karena seleksi lebih
membebankan tes bathin, spritualisme dan kesungguhan. Itu suatu yang sangat
berat bagi Zulfa, karena masa lalunya selalu mebayang-bayanginya, masa lalu
yang penuh aib. Ingin dia mengubur masa lalunya itu, tapi selalu saja
menghantuinya. Itulah yang membuatnya merasa malu STIQ mengetahui masa lalunya,
Zulfa merasa begitu kerdil dan tak pantas untuk menjadi mahasiswi STIQ. Walau
beberapa pihak dan tokoh penting STIQ juga yang berjasa menyelamatkannya dari
mimpi buruk masa lalu, STIQ telah bersedia memberinya kesempatan untuk ikut
pelatihan dan bimbingan intensif 6 bulan untuk persiapan seleksi selanjutnya.
Awalnya Zulfa sudah hampir menyerah dan pasrah bahwa
dirinya hanya bisa bertahan sampai pelatihan itu saja. Namun kenyataannya Zulfa
mampu lulus tes di antara ribuan peserta itu, Dan sekarang merupakan hari
pertamanya duduk di kursi di lokalnya sebagai mahasiswi STIQ. Orang-orang di
sekelilingnya tidak mengetahui Zulfa dan masa lalunya. Zulfa semakin tertutup
dengan mereka, walau Zulfa berdecak kagum dengan masing-masing mereka, baik
dosen, mahasiswa maupun mahasiswinya. Mereka semua orang-orang yang luar biasa.
Sopan, baik, terjaga, patuh, disiplin, ramah, pemalu juga penuh semangat dan
menyemangati.
Suasana di STIQ adalah suasana ilmu, dalam satu gedung
STIQ ada dua bangunan, untuk bangunan kiri khusus mahasiswa, dan bangunan kanannya
khusus mahasiswi. Semuanya terjaga dan penuh aturan kedisiplinan. Di hari
pertama ini, Zulfa sudah merasa begitu penat, otaknya yang terbiasa santai,
sekarang harus terpaksa online untuk mengikuti seluruh program wajib
mahasiswa baik di kampus maupun di asrama yang semuanya terpadu dan jelas dalam
buku bersampul biru Qanun Thullab STIQ. Qanun itu sendiri berbahasa Arab, untuk
memahaminya, Zulfa harus bertanya kepada kakak-kakak senior di asrama yang juga
menjelaskan Qanun dengan berbahasa Arab. Zulfa merasa ingin meledak dengan
kondisinya itu, segala apa yang dia dengar, baca, tulis dan ucapkan, semuanya
harus berbahasa Arab. Belum lagi program rutinan tahfiz dan takrir Quran untuk
setiap harinya, STIQ menuntut perjanjian bermaterai, kuliah program SI selama
tujuh tahun dengan syarat harus hafizh Quran dan hapal seribu hadis Nabi.
Setiap semesternya hapalan mahasiswa seluruhnya dipantau, siapa yang tidak
memenuhi target siap-siap untuk menjalani sanksi, untuk hukuman terberatnya
bisa-bisa dikeluarkan dari STIQ. Zulfa merasa tertekan luar biasa, tetapi dia
sadar dia sudah berani masuk, pantang baginya sebelum lulus untuk keluar atau
dikeluarkan. Toh, selama ini sudah beribu-ribu mahasiswa yang berhasil untuk
menjalani program STIQ sampai lulus. Tentu dirinya pun sanggup untuk itu
Pikir Zulfa.
Minggu-minggu melelahkan telah terlewati, seminggu
lagi akan tiba bulan Ramadhan. Kuliah diliburkan selama setengah bulan dari
minggu ini. Zulfa sudah bisa kembali bernafas lega, walau program asrama pun
sedemikian membuatnya lelah tak kepalang, bayangkan saja dari bangun tidur
sampai tidur lagi, semuanya ada undang-undang atau qanunnya. Jatah tidur Zulfa
yang biasanya 8 jam ke atas, kini berkurang 3 jam dan diberi waktu tidur
qailulah siang maksimal 20 menit. Zulfa merasa hidup dalam batasan, cekikan dan
beban yang menggelantungi lehernya. Tapi inilah resiko dari keinginannya kuliah
di sini. Zulfa tidak bisa memberontak lagi.
Ramadhan
yang ditunggu-tunggu tiba juga, seluruhnya dalam persiapan. Ada program-program
baru untuk Ramadhan ini, di antaranya seluruh mahasiswi wajib tarawih tiap
malam 1 juz khusus mahasiswi saja di mushalla asrama, pembagian imam sudah
ditentukan, buka puasa dan sahur wajib bersama-sama. Ustadzah-ustadzah Pembina
asrama pun semakin ketat dengan aturan-aturan di asrama. Untungnya, seperti
biasanya waktu hari jumat mereka full untuk hari kebebasan.. Zulfa menggunakan
hari itu khusus untuk merelaksasikan tubuh dan pikirannya, biasanya dia
mengunjungi salon muslimah yang dibangun di samping asrama untuk meremajakan
seluruh anggota tubuhnya dari keramas, pemotongan kuku, mandi susu, manti uap,
kolam renang, juga ada pemijatan tradisional. Tenaga kerjanya yang banyak,
membuat klien-klien yang hampir dari seluruh mahasiswi STIQ betah dan
mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Kampus pula yang mengadakan semua itu.
Kenikmatan yang tiada terperi, Zulfa benar-benar tidak ingin melewatkan program
yang satu ini.
Ramadhan
yang indah melipur lara hari-hari Zulfa, senandung membasahi lidahnya, musim
kemarau tak membuatnya layu, namun menyuburkan semangatnya untuk bertahan.
Walau sesekali teringat masa jahiliahnya, saat-saat hitam dalam hidupnya. Zulfa
menangis lirih. Tak boleh siapapun yang tahu, pikirnya, Biarkan masa lalu itu
terkubur dan hilang oleh jarak dan rentan waktu.
Zulfa
mengatur target ramadhannya, laporan pencapaian harus diserahkan melalui syahid
dari Pembina masing-masing ruang kamar. Ustadzah Aminah, Zulfa telah
menganggapnya seperti kakak kandungnya. Perhatian dan kepedulian ustadzah yang
berasal dari Sumatera ini membuat mereka benar-benar saling mencintai dan
menghargai. Melalui ustadzah ini juga Zulfa mengadu resahnya, masalahnya dan
rasa sedih bahagianya. Setiap Pembina mahasiswa memang diberi tanggung jawab
membimbing, mengarahkan, bahkan menjadi curhatan anggota bimbingannya dengan
sepenuh hati, bukan karena tugas saja. Akhir bulan mereka harus melapor hasil
bimbingan mereka kepada ketua bimbingan. Zulfa, maupun seluruh mahasiswa
lainnya merasa tenang dan nyaman dengan semua itu. STIQ memberikan tekanan dan
juga solusi. Indah nian pendidikan seperti ini.
Tapi
untuk masa lalunya, Zulfa tak ingin berbagi kepada siapa pun, tak ingin siapa
pun tahu. Bahkan, Zulfa berharap Allah pun melupakan dan menghapus segala
memori tentang masa lalunya itu. Zulfa tak berdaya, masa lalu sudah menjadi
bagian yang tak bisa dihapus dari hidupnya. Allah jualah yang Maha Tahu apa
yang terjadi untuk selanjutnya,.
Malam-malam
akhir ramadhan terasa damai, namun setiap hamba yang terpanggil akan ikut serta
memeriahkan dan berburu malam lailatul qadr. Zulfa semakin tenggelam dalam
kekhusukannya, sedu sedan bertaubat atas masa lalunya. Zulfa merasa mendapat kenikmatan
baru, nikmatnya iman, nikmatnya berkumpul bersama orang-orang shaleh, nikmatnya
kekhusyukan. Zulfa tak ingin lepas dari semua itu. Walau masa lalunya kembali
menyeruak lagi.
Di
tengah Ramadhan yang lalu, telpon asrama berdering, panggilan untuk Zulfa,
ternyata berasal dari ayah tirinya yang menyuruhnya untuk kembali ke Bandung.
Kekacauan yang telah dibuat Zulfa di tahun sebelumnya masih menyisakan banyak
masalah yang akhirnya ditinggalkannya ke Kalimantan untuk kuliah di STIQ. Zulfa
telah mengikuti jaringan terorisme internasional cabang Aceh, awalnya Zulfa
berhasil menemukan jaringan itu lewat blog tertutup milik salah seorang anggota
teroris, jiwa mudanya yang ingin mencoba-coba dan mudah terpengaruh itu
mengakibatkan dirinya berhasil dicuci otak dan dipengaruhi hanya lewat
kata-kata di posting blog jaringan teroris atas nama jihad itu. Zulfa semakin
akrab dengan mereka di berbagai mediator jejaring internasional. Zulfa sempat
dibawa ke Aceh untuk kongres dan pelantikan anggota. Dia mendapatkan peran yang
lumayan penting dalam tugasnya, sebagai pemantau gerakan nonlazim pemerintah, kerjaannya
menghina dan menentang setiap program pemerintah wilayahnya. Akhirnya dia
mendapat kecaman keras dari pemerintah bahkan masyarakat setempat. Zulfa
disidang beberapa kali. Sang ibu tak tahan mendengar dan akhirnya meninggal
dunia akibat tekanan darah tinggi. Ayah tirinya yang terpaksa menanggung
kekacauan itu. Masalah kian rumit, saat gerakan teroris semakin gencar,
walaupun pihak hukum belum bisa membuktikan keikut sertaan Zulfa di dalam
gerakan teroris tapi Zulfa tetap mendapatkan pengawasan dan selalu dipantau
gerak-geriknya. Belum puas juga dengan kesalahannya, Zulfa berani bertindak
konyol dengan membantu menyebar luaskan gerakan ini ke pesantren-pesantren.
Akhirnya Zulfa benar-benar tertangkap basah, kembali disidang, bahkan sempat ditahan
di penjara beberapa bulan. Zulfa yang saat itu masih berumur 20an mendapat
dispensasi, karena pihak hukum menganggap Zulfa hanya seorang gadis korban dan
memang masih tergolong usia labil, mudah terpengaruh, apalagi pencucian otak
itu begitu canggih, ada unsur hipnotis di dalamnya. Dalam keadaan yang begitu
kalut, Zulfa depresi dan kian kacau. Dia bingung mana yang benar mana yang
salah, Zulfa termakan dengan setiap kata-kata jihad yang dilontarkan teroris
itu. Janji setia dan rela mati yang diikrarkannya sewaktu baiat anggota teroris
dahulu membuatnya semakin sulit untuk memerangi pemikiran yang merasukinya itu.
Zulfa yang semula adalah santri yang sangat cerdas, berakhir dengan pemikiran
konyol dengan bergabung bersama jihad ala teroris tersebut. Zulfa hampir di
masukkan ke rumah sakit gila saat itu.
Detik-detik yang mengerikan dalam hidupnya berakhir,
saat dia menerima surat dari seorang tokoh ternama, surat khusus untuk dirinya,
dari Kalimantan dengan sampul manis dan tulisan tangan orang hebat. Zulfa
terpana, di era modern yang serba canggih ini, masih ada orang yang mau
memfungsikan kesederhanaan namun itulah arti sebuah ketulusan. Surat itu dari
Dekan STIQ, fakultas impiannya. Zulfa memang sering mengirimi STIQ pesan lewat
email maupun komentar di setiap situs STIQ, informasi STIQ selalu up
date baginya. STIQ pun sering balas
mengomentari setiap pesan yang dikirimnya. Itu karena STIQ juga membentuk staff
khusus untuk koneksi sosial di dunia maya. Namun, otak terorisme itu sedemikian
mengakar dan memperbudaknya jauh sebelum dia aktif mengikuti jaringan sosial
STIQ. Ibaratnya Zulfa lebih dahulu mengambil jalur yang salah sebelum akhirnya
dia tersadar lewat surat yang diterimanya dari STIQ, lembaga pendidikan yang
berkualitas ini memahami dan telah mengenal karakter Zulfa sejak lama. STIQ
terpanggil untuk menyelamatkan anak ini. Karena Zulfa tak lebih hanya sebagai
seorang korban penganiaiaan mental oleh kelompok bejat yang mengatas namakan
diri mereka penjihad itu. STIQ juga mengirim surat kepada pihak yang berwenang
terhadap kasus Zulfa, agar mereka membiarkan STIQ menangani anak itu. STIQ
mendapat kepercayaan penuh oleh seluruh lembaga hukum. Zulfa bisa keluar dengan
jaminan dan tanggung jawab STIQ. Namun kasus Zulfa belum bisa diselesaikan, dia
masih harus melalui proses hukum. Zulfa bersyukur identitasnya dirahasiakan,
nama yang tertera di tayangan berita televisi, internet maupun Koran merupakan
identitas samaran dan palsu. Pemerintah masih menyayanginya dan menganggapnya
putri bangsa ini.
Saat dia sudah damai berada di lingkungan STIQ, Zulfa
sudah kembali bisa menyadari kesalahannya dan kekonyolan masa lalunya.
Bayang-bayang pahit itu seimbang dengan keindahan yang dirasakannya saat ini.
Zulfa merasa bangga bisa kuliah di sini, dia merasa masa depan indah kian
menghampirinya. Kasusnya belum selesai, ayah tirinya yang baik itu bersedia menangani
setiap proses hukum. Walau terkadang dia tetap menyuruh Zulfa kembali ke
Bandung, daerah asalnya untuk membantu ayahnya mengurus segala permintaan
hukum. Zulfa sendiri kasihan dengan orang tua tirinya itu, ayah kandungnya
benar-benar tak cari tahu dan tak ingin bertanggung jawab. Zulfa ditelantarkan
bersama ibunya saat dia masih kecil. Masalahnya, jika dia kembali ke Bandung,
segalanya tidak akan lebih membaik, Jaringan teroris masih mencari-cari
dirinya. Dan itu sangat berbahaya bagi Zulfa.
Jingga di ufuk senja, menyelimuti keheningan sore itu,
sore terakhir untuk Ramahdan yang terasa begitu singkat. Zulfa merasa berat
untuk membayangkan setelah Ramadhan berlalu, akan ada kesibukan, perjuangan,
tantangan dan masalah-masalah baru yang siap menghadangnya. Tapi bukankah dia
telah mendapat bekal dan oleh-oleh dari Ramadhan berupa taqwa dan kekuatan
baru. Segalanya akan membentuk sejarah, Zulfa lebih berhati-hati dalam memilih
langkah. Kesalahan yang dia toreh di masa lalu akan dia gantikan dengan
menciptakan sejarah yang lebih baik. Zulfa bertekad untuk bangkit.
Zulfa dipanggil untuk kembali ke Bandung, ada beberapa
hal yang harus dia tangani sendiri. Setelah mendapat izin dari STIQ, sehari
setelah idul fitri itu juga Zulfa pulang ke Bandung. Sedihnya tak kepalang
karena dia harus menghadapi akibat dari kesalahan yang telah dilakukannya,
belum lagi dia diminta menjadi saksi dan memberi tahu segala informasi gerakan
radikal teroris yang pernah digelutinya itu. Zulfa terkadang merasa kesal,
mengapa masalah ini masih diperpanjang dan malah diperumit, padahal jelas-jelas
dia sudah berhenti dari tindakannya, proses hukum yang hampir dua tahun belum
juga kelar. Zulfa memang sudah terbukti positif berhenti dari jaringan yang
mengkelabui kehidupannya itu. Zulfa sedikit emosi untuk hal itu, yang bisa dia
lakukan hanyalah menerima apa yang diperintahkan hukum kepadanya.
Jalur arus mudik lebaran masih sepi, Ramadhan masih
menyisakan hangatnya. Di jalan menuju pulang ke Bandung membuatnya begitu
hampa, rindu akan kesibukan al-Quran dan ilmu yang ditekuninya, canda tawa
bersama pembina-pembina asrama, keluguannya bersama mahasiswa-mahasiswi baru. Ah,
berharganya detik-detik itu, detik-detik ibadah dan nuansa ilmu. Zulfa terasa
lahir di abad kejayaan islam, menjelajahi ilmu tanpa batas bersama-sama tokoh
ilmuan islam.
Kursi pesawat banyak yang kosong, Zulfa memilih duduk
dekat jendela. Zulfa lelah, matanya bengkak akibat tangisnya selama perjalanan.
Zulfa mentaqrir surah baqarah yang telah dikuasainya di luar kepala itu. Seseorang
yang berada di sampingnya terlihat juga tiduran dengan selembar Koran menutupi
wajahnya. Zulfa mulai memejamkan matanya saat akhir surah baqarah selesai
dibacanya. Dalam mimpinya segalanya begitu indah, sosoknya yang berubah menjadi
sosok mungil, Zulfa kecil dalam gendongan laki-laki tua berjanggut putih,
muallim, dekan STIQ itu menimangnya seakan cucunya sendiri. Tiba-tiba dari
kejauhan sang ibunda Zulfa datang, lirih memanggilnya. Menangis dan meminta
muallim untuk menyerahkan bayinya itu. Muallim dengan hormat menyerahkannya ke
pangkuan ibunda. Setelah itu Zulfa semakin terlelap dan tak mampu sadar.
Laki-laki di sampingnya sewaktu di pesawat itu memapah
Zulfa keluar bandara Malaysia, Zulfa dibawa ke Kuala Lumpur. Laki-laki itu
temannya sewaktu masih dalam jaringan teroris. Hanif telah membius Zulfa
sewaktu dia tidur di kursi pesawat. Ternyata panggilan dari Bandung itu cuma
rekayasa oleh Hanif. Zulfa dibawa ke sebuah ruangan kosong.
Sesuatu yang tajam menusuk bagian kiri ujung limpa
Zulfa, dalam dan begitu cepat membekukan segala aktifitas organ tubuhnya, Zulfa
terperanjat, bayang ibunda dan muallim dekan lenyap dari mimpinya, yang dia
rasakan adalah sakit di ulu hatinya, dan menyebar ke jantung, terus menerus
menembus otaknya. Zulfa tersadar namun tak berdaya, perutnya nyeri, cairan
merah nampak di bajunya yang berwarna krim. Zulfa terkulai layu, matanya berkunang-kunang,
Hanif dengan pisau yang berkilau darah di genggaman kirinya kembali menusuk
perutnya. Zulfa kian terperanjat, takbir lirih terbingkai di mulutnya, Allah
Akbar. Seluruh aliran darah Zulfa membeku. Zulfa merasakan waktunya kian
dekat, dia tahu sesadar-sadarnya inilah detik-detik akhir sakratul maut. Masih
ada kesempatan untuk husnul khatimah. Sakit yang terabaikan. Syukurlah yang
menyelimutinya saat itu, kalimat terakhir dari mulutnya adalah kalimat ikrar sejati,
lantunan pengakuan uluhiyah Allah, lantunan tahlil. Mata Zulfa perlahan
tertutup dan setetes air mata membasahi samping kanan matanya. Zulfa terlelap
dalam keabadian sedangkan hatinya tersenyum.
TAMAT
Biodata Singkat Penulis
Nama : Rosida
Nama Pena : Bintul
Qalam
Semester : V b STIQ Amuntai
Keterangan
Cerpen
Tema : Tokoh Teladan Umat
Judul : Fakultas Impian Zulfa
Sinopsis
Singkat
Zulfa tertekan dengan masa lalunya yang
kelabu, mantan dari anggota teroris internasional, dan masalah tak kunjung
selesai. Saat semuanya sudah semakin kacau. STIQ datang menjadi pahlawan
hidupnya. STIQ bersedia menerima Zulfa walau beberapa tokoh penting STIQ harus
menanggung resiko untuk mempertanggungjawabkan semua kekacauan yang telah
diperbuat Zulfa.
Untuk
memperbaiki semua kesalahan di masa lalunya, Zulfa bertekad untuk bangkit, di
fakultas impiannya inilah, kesungguhan dan tekadnya dia perjuangkan. Akankah
dia berhasil sampai akhir hayatnya?
Tentang Cerpen
Ilustrasi yang menggebu-gebu, walau
menggunakan nama tempat yang sebenarnya, diskripsi tempat total hanya fiktif.
Sebagaimana judulnya, Fakultas Impian Zulfa. Fakultas ini masih menjadi impian.
Dengan tokoh seorang mahasiswi yang penuh semangat walau dilatarbelakangi
dengan kekacauan masa lalunya. Zulfalah yang menjadi tokoh teladan sebagai mahasiswa yang
bermasalah tapi tetap berjuang untuk memperbaiki kesalahannya
Musim
kemarau tahun ini walaupun terlambat tapi membuat hari-hari semakin panas
menggelorakan emosi, ah, melelahkan, menjemukan dan mengesalkan. Kesalku makin
menjadi-jadi. Bagaimana tidak, jangkrik-jangkrik yang susah-susahnya kucari dan
berlarut-larut malam kuberanikan diri meletakan jangkrik-jangkrik itu ke sawah
dan menyusupkkannya ke semak-semak bawah padi dekat kuburan datu-datu, juga kuburan abahku[1], tetap tidak mampu
mengusir tikus-tikus sawah. Belum lagi hama-hama yang lain yang sulit dibasmi.
Akhirnya tanaman padi kami tetap rusak. Tanah ladang sawah juga tidak
bersahabat tahun ini. Sulit ditanami. Musim kemarau, membuat tanah menjadi
kering dan rumput liar semakin menjadi-jadi. Tanaman cabe, singkong, tebu,
terong dan tomatku kurus dan layu seseumpama terkena isap buyu[2], kurang vitamin.
Itik-itik[3] malas bertelur di musim
ini. Semakin cerewet dan meninggi seleraMereka tak akan mau makan kalau gabuk[4] dan umpan campuran iwak
karing[5] itu berganti-ganti, tidak
teratur dan jika campurannya itu terlalu amis. Itik yang suka berenang dan
mencucur juga semakin malas melihat kondisi tanah yang kering. Mereka lebih
suka berada di kandang bermalas-malasan ketimbang kulepas ke padang[6].
Panas menggelora, hari-hariku di samping
setiap hari mengayuh sepeda laki merk pollygon dari Alabio sekitar 10 km menuju
pengajian Muallim Rahmat yang digelari guru Amat di Amuntai, karena aku di sana
sebagai murid tetap dan mengabdi padanya. Juga yang menjadi rutinitas di musim
kemarau yang sungguh menebalkan dekil di leher dan sikuku yaitu di hamparan
sawah, pahumaanku[7],
disinilah kantorku, kampusku dan tempat kerja lapanganku saat orang-orang yang
berseragam berkerja dan memperoleh kantor atau kampus mereka di tempat yang
berpetak-petak, bertembok, tertutup, terlindung dari panas, nyaman dan begitu
berkelas. Maka disinilah tempatku. Sebagai petani yang mempunyai ladang yang
cukup luas tapi apa daya sebagai anak tertua yang mempunyai 2 adik laki-laki
dan 4 adik perempuan. 2 tahun yang lalu ayahku meninggal dunia. Sehingga 6 adik
yang racap-racap[8]
dan ibu yang makin beruban Sungguh membuatku membatalkan janji-janjiku dengan
masa depan. Menepis dan mengubur impian-impian masa lalu. impianku menjadi
pegawai apa saja tapi yang digajih tiap tahun, berseragam dan mempunyai jaminan
pensiun. Bagiku, hebat nian impianku itu dan keren.
Adik-adikku harus lah menjadi pegawai.
Mereka harus tamat sekolah, jangan sepertiku setelah 6 tahun di pesantren, tapi
sedikit banyaknya aku merasa dipandang sebelah mata. Mungkin karena aku
tersinggung dengan pernyataan orang kampung sini. Hidup itu perlu uang, ilmu
saja mana cukup. Dan yang lebih parahnya, masyarakat kampung ini, sungguh
gemar memperhatikan orang lain. Akhirnya mereka akan sambung-menyambung mulut
menggosip si bujang, si pecundang, si tukang melamun, si tukang pacaran dan
lain-lain. Padahal anak gadis meraka sendiri tak mengerti untuk menutup
auratnya dan anak laki-laki mereka hanya tukang rayu gombal anak gadis kampung.
Termasuk juga umurku yang mulai bertambah matang ini menjadi sorotan gadis
ndeso, mungkin kalau aku menilai di depan cermin sendiri wajahku mempunyai
garis dan bentuk yang berkarakter India dan lesung pipit yang dalam di pipi
kiri. Oleh karena itu gadis di sini lumayan juga genitnya. Mandi di batang[9] dengan beralaskan sarung
yang menempel di badan mereka, dada mereka terbuka dan semakin jelas lekukan
tubuh mereka dengan sarung yang telah basah oleh air. Batang-batang itu
berjejaran di pinggir-pinggir jalan. Untung aku berangkat ke pengajian sudah
agak siang, jadi jarang-jarang di batang tapi sering juga aku melihat
pemandangan syetan itu. Ah, andai aku jadi pembakal[10] kampung ini, ah tanggung.
Pembakal sekarang juga masih lemah menghadapi orang kampung. Mungkin lebih
baiknya menjadi bupati langsung, sudah pasti dengan tanganku sendiri ku hancur
batang-batang ini atau ku buat batang yang tertutup dan ada spesial untuk
laki-laki dan untuk perempuan. Ah suka mengandai-andai aku ini. Nanti yang
kutemui juga kantor pahumaan.
Untuk tugasku selanjutnya adalah menjadi
kaum[11] di Mesjid kampung ini,
sekitar 5 meter dari rumahku. Oleh karena itu julukan untukku dari nama
Syamsudin menjadi Udin ditambah kaum, jadinya Udin Kaum. Memang banyak nama
Udin di kampung ini, parahnya lagi ada lagu Udin Sedunia yang lagi popular
dinyanyikan penyanyi baru yang asalnya hanya iseng saja membawakannya, liriknya
demikian membuatku tak kepalang menanggung malu, “Udin…Udin namamu norak
tapi terkenal”. Betapa gemarnya
anak-anak dan pemuda yang brandal dan suka kekonyolan menyanyikan lagu
ini. Dan penyanyi aslinya sama mengerikannya dengan lagunya.
Alhamdulillah untuk yang lima waktu itu
selalu kulaksanakan di mesjid Al-Bayan, tempat aku mengumandangkan azan.
Sebagai orang NU[12]
banyaklah macam-macam amalan yang bermuluk-muluk kubaca dari shalawat, dzikir,
syair dan lain-lain. Berbeda dengan kampung seberang, ibadah mereka sederhana
dan praktis. Sebenarnya aku lebih tertarik untuk mengamalkan tadarus quran,
menghafalnya dan mempelajarinya. Aku tergugah dengan kata-kata al-quran,
makna-maknanya dan menjadi lebih indah dan memelodi saat lidah melantunkannya.
Yang kuhapal baru juz 30, tapi harapanku adalah 30 juz. Pandai nian aku
berharap. Tapi inilah diriku, saat ku rebahkan diri ini di sebidang tanah yang
kering mati, ku bentangkan tangan, ku tatap awan yang menyilaukan, ku biarkan
alam mengenaliku dan membacaku, aku pun membaca alam. Seakan alam adalah kitab
yang terbentang. Kutantang dan kuresapi sengit panas matahari, ku hurip udara
yang berbau rumput kering dan untuk kesekalian kalinya. Ku tegaskan kepada
diriku sendiri, kepada hidupku, kepada takdirku. Aku atas nama Syamsudin akan
tetap bertahan menghadapi hidup yang tak tentu arah ini. Aku akan tetap
berjuang untuk meningkatkan kehidupan yang layak bagiku. Aku meyakini doa dan
seperti kata orang bijak, hidup adalah pilihan.
Seusai dari sawah, biasanya aku langsung
menyiapkan dan membagi-bagi umpan itik untuk makan pagi, siang dan sore mereka.
Bau kotoran itik sudah membaur alami di kampung kami. Rata-rata masyarakat
kampung ini di samping bertani juga berternak itik. Dan rata-rata tempat di
bawah rumah mereka yang tinggi itu yang dijadikan sebagai kandang itik. Hampir
bisa dikatakan kami serumah dengan itik. Setiap senin pagi aku pergi ke pasar Senin untuk membeli bici
atau lipis[13]
untuk umpan itik. Di pasar ini juga aku tidak lupa untuk singgah di samping
pelabuhan kapal pasar hanya demi melihat seorang gadis penjual ikan sepat asin
dengan pakaian yang sempurna, jilbabnya menjuntai dan bergerak-gerik karena
geraknya ke sana kemari. Kian minggu kian membanyak pelanggan yang menyinggahi
tumpukan ikan sepat asin dagangannya. Gadis itu manis walau matahari telah
melibaskan cahaya eloknya. Tapi parasnya tetap alami, seandainya gadis ini
sedikit dipoles sungguh tak kalah dengan gadis norak dengan bedak lebay dan
parfum murahan di kampungku. Tapi gadis ini memang berbeda. Aku berharap dia
juga memperhatikanku walau sedikit pun aku tak berani mendekatinya. Hanya dua
tiga kali berlalu di hadapan dagangannya.
Aku tak mengalami pengalaman cinta
seheboh, setragis, seromantis dan sedahsyat pengalaman cinta kawan-kawanku.
Buktinya aku tak pernah berani menyatakan perasaan kepada gadis penjual ikan
sepat asin itu maupun kepada gadis manapun yang pernah kusukai. Hanya kupendam,
tapi sungguh dipendam itu mengasyikkan. Faktor lain karena aku juga tak
memiliki HP, alat canggih yang mampu menyambungkan suara ke suara dari tempat
sejauh manapun, alat ini bisa juga untuk menemukan jodoh seperti kebanyakan
pemuda pemudi kampung ini yang menemukan jodoh atau pasangan mereka berawal
dari nomor hape, lalu surat menyurat lewat aplikasi yang disediakan hp, lalu
telpon telponan. Lalu mereka menjalin hubungan istilah akrabnya pacaran, Selanjutnya
waktu yang menyatukan mereka di pelaminan. Tapi barang yang bernama handpone
itu hanya sering kulihat, tak ingin kumiliki. Prinsibku sangat kuat mengenai
hape ini, saat kuyakini punya hp lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya,
apalagi harus dimasukkan kartu yang menarik biaya berupa pulsa. Aku tak ingin
tersentuh dengan barang modern ini. Lagipula selama ini aku tidak perlu hape
dan mampu bertahan tanpa hape. Yang kebanyakan orang terjangkit virus
tehnologi, sulit untuk tidak memiliki hape, bahkan katanya tukang sayur pun
kudu punya hape. Ah, aku tak peduli, yang berani kulakukan hanya lalu lalang di
depan dagangan gadis penjual ikan sepat asin yang namanya tak kutahu,
meliriknya sesekali. Hanya itu saja.
Jika setiap aku berangkat ke pengajian
Muallim Rahmat, jalanan 10 meter dari Alabio ke Amuntai dengan sepeda bergigi
ini akan semakin dramatis bagiku, demi menuntut ilmu, belajar kitab gundul,
kitab berbahasa Arab tanba baris dan tulisannya kecil dan rapat. Setelah tamat
6 tahun pesantren di Martapura kusambung pendidikanku lewat pengajian guru Amat
yang sangat kuhormati ini. Hanya demi ilmu, setiap tanjakan sepeda yang
kukayuh, setiap butir keringat kian mengalir membasahi bajuku, dan setiap aku
membelok dan menghindari lubang-lubang yang menganga di jalanan. Aku terpukau
dengan kalimat-kalimat ilmu, terpukau dengan pengorbanan Salman al Farisi,
dengan semangat Imam Ghazali, kegigihan imam Bukhari, perjuangan imam Nawawi.
Ilmulah yang memberikan efek dahsyat itu. Mereka menghabiskan umur mereka untuk
ilmu.
Setiba di majlis, biasanya akulah murid
yang paling awal datang, terkadang bisa juga Ijai temanku yang gendut itu yang
paling awal datang, rumah Ijai memang juga di Amuntai sekampung dengan muallim
Rahmat. Ijai adalah temanku yang teramat istemewa, cerdas dan mempunyai
semangat menuntut ilmu yang tinggi. Pemuda sepertinyalah yang ingin kujadikan
sebagai teman, andai pemuda-pemudi sekarang mempunyai semangat sepertinya,
semangat yang positif. Tetapi kebanyakan pemuda sekarang lebih memilih untuk
menghabiskan waktu emas mereka untuk main-main, bercanda, suka ikut-ikutan dan
narsisme yang tinggi. Aku dan Ijailah yang menghidupkan suasana santri di
majlis guru kami ini. Tapi Ijai lebih beruntung dariku. Ijai sudah beristri dan
mempunyai 2 anak.
Saat orang-orang memilih pendidikan
mereka di suatu lembaga bernama, bertampat di gedung-gedung bertingkat,
mempunyai absent kehadiran, didatangi oleh pengajar-pengajar, ditest, dipilih,
disediakan kursi-kursi, duduk dengan terhormat, pakaian yang licin dan rapi,
serta bersepatu. Mereka menikmati penjelasan pengajar yang bervariasi, ada yang
menggunakan papan tulis, ada juga dengan alat proyektor dengan gambar, music
dan pemutaran movie, mereka tunduk dengan aturan-aturan formalitas. Maka di
majlis ini, aku duduk di lantai, di depan meja kecil untuk kitab-kitabku yang
usang, papan tulis hitam yang buram menggunakan kapur, di tempat bersudut empat
yang pengap tanpa kipas angin, bersandal dan tanpa absent, setiap penjelasan
Muallim kusimak dengan khidmat, tidak ada diskusi, konseling dan tugas makalah
maupun persentasi. Hanya duduk dan tenang, syahdu.
Tapi aku tidak pernah membatasi
pendidikanku di tempat bersudut empat, dan terpaku hanya dengan huruf-huruf di
kitab, Aku menganggap apa-apa yang kuperoleh di tempat bersudut empat itu hanya
sebagai pengenalan teori ilmiah. Lebih dari itu, aku memilih pendidikan
berstandar jagat raya, menyatu dengan alam, menyelami kehidupan. Dari sinilah
aku memperoleh pendidikan akan lika-liku kehidupan, hakikat segala sesuatu,
teori akhir zaman, perubahan, dunia hanya permainan dan senda gurau. Madu,
semanis itulah pendidikan yang kudapat dari alam.
Walau kenyataannya aku tetap iri dengan
gaya mereka yang sedia diatur oleh formalitas kedisiplinan, digajih dan
berseragam. Seakan kehidupan lebih memihak mereka yang berseragam. Aku merasa
seperti bintang yang kalah sinar dan ditutupi oleh awan hitam dalam kegelapan.
Tapi senandungku tetap sama, untuk selalu bertahan.
Hari-hari tetap berlalu, mengalir
setenang air, kadang ada beriak-beriak masalah, dan buih-buih kejadian yang
akhirnya berakhir juga. Masa depan masih menjadi misteri yang tak bisa
diramalkan, apalagi untuk meramal surgakah yang menjadi akhir pilihanku atau
neraka yang akhirnya menjadi takdirku. Aku menikmati dan memposisikan diriku
sebagai makhluk yang biasa, bukan siapa-siapa dan tak tercatat di daftar
manusia-manusia hebat dunia. Hanya petani dan peternak itik yang suka menyelami
sari kehidupan dari pendidikan alam. Keinginanku untuk menjadi pegawai yang
berseragam hanya keinginan tak bermakna, pikirku yang polos, jika aku
berseragam dan digajih, aku akan lebih mudah mendekati gadis penjual ikan sepat
asin di pasar senin yang tak kutahu namanya, dan akhirnya melamarnya dengan
jujuran[14] melebihi standar kampung.
Dan jika aku berseragam dan digajih aku akan bisa mendapat senyum bangga ibu
dan adik-adikku, mereka tak perlu khawatir lagi aku akan menjadi si tukang
khayal, si bujang atau sipecundang kampung. Tapi cukup menjadi Udin Kaum pun
aku sudah bersyukur. Kehidupan tak selalu seperti yang diterka. Ada rahasia
dibalik rahasia.
Akhir kemarau berlalu sampai
keakar-akarnya, langit menjadi sendu, dan hujan mengguyur bertubi-tubi
menjatuhi bubungan atap rumbia[15]. Dua tiga wadah air
ditanai[16] untuk menampung air yang
mentetes dari atap yang bocor. Listrik lebih sering padam pada musim hujan ini,
ituk-itik berpesta pora dengan cucuran-cucuran yang menggelikan. Jalanan becek
bercampur dengan kotoran itik yang memadukan aroma yang menusuk penciuman.
Semangatku tak pernah luntur walau usia semakin berlalu dan musim seakan tak
pernah mendukung semangatku. Aku akan tetap bertahan.
[12]Nahdhatul Ulama, suatu
kelompok persatuan ulama Indonesia untuk membidangi hukum syariah sesuai keyakinannya
[13]Jenis ikan laut, ketika
kering dan menjadi ikan asin bisa dijadikan umpan itik
[14]Pemberian calon penganten
pria untuk mempelai wanita sebelum akad, dapat disamakan dengan mahar atau
maharnya ditentukan secara khusus sesuai kesepakatan
[15]Atap yang terbuat dari
daun rumbia kering dan diayam
Setiap kulihat lagi keadaan
paman, pamanku yang malang… kanker itu menimbulkan benjolan sebesar telur puyuh
di samping kanan leher beliau, kanker itu sangat dekat dengan urat nadi
penyambung nyawa beliau. Aku pernah menghayal kanker itu bersandiwara dengan si
nyawa, semacam menipu daya… pernah juga aku berdialog dengan kanker
tersebut,ah kanker, aku mengusap
benjolan kanker itu,, sambil ku berbisik…
“Kau juga makhluk tuhan
kanker, sekarang kau berada di tempat yang menyakitkan hamba Allah yang
lain…hadirmu sangat dibenci, wahai makhluk yang ganas,,, luluhlah… luluhlah,
bukankah kau juga makhluk Allah yang tidak ingin menyakiti makhluk Allah yang
lain… sungguh demi Allah Tuhan Semesta Alam yang menciptakan aku, dirimu,
pamanku dan seluruh makhluk yang lain…. Luluhlah,, hilanglah,,, pergilah,,,
enyahlah,,, lenyaplah dan biarkan hamba tuhanmu ini mempertahankan hidupnya..”
Aku berbisik kepada kanker
itu, tapi hatiku lebih didominasi keraguan, ketakutan… aku berhalusinasi kanker
itu berubah menjadi monster yang ingin memangsaku… aku ragu saat itu… dan
takut. Makhluk itu kecil namun sungguh ganas… na’udzubillah min dzalik..
Sebenarnya aku juga sering
berdoa “Allah begitu mudahnya bagimu untuk melumpuhkan kanker paman itu ya
Allah. Sekejap tak perlu banyak alat seperti mereka maka ya Allah dengan
kuasamu.. enyahkanlah makhlukmu yang bernama kanker itu dari tubuh paman..”
kira-kira seperti itulah doaku kesekian kalinya, aku ingin membuktikan kepada
seluruh dokter, perawat, diriku sendiri dan semua orang begitu gampangnya
melumpuhkan kanker itu, mengapa orang-orang berfikir kanker adalah pembunuh
yang ganas. Toh kanker juga makhluk tuhan. Mudah takluk, mungkin jika
kubisikkan kepada kanker itu dengan takzim dan keyakinan.. “luluhlah kau kanker
karena Allah…!” naluriah kanker tunduk dan patuh karena Allah dan dia akan
menghilang. Tapi aku belum bisa menghilangkan keraguanku sebagaimana para dokter
itu, kesembuhan paman sangat tipis. Keraguan itu yang membuatku pasrah dan
tidak maksimal berdoa.
Pamanku sudah kehilangan
total suaranya, yang terdengar setiap dia berbicara hanya suara angin dan
desis..namun paman tak pernah berputus asa, semangat dan keyakinannya yang
membuat kami masih bertahan. Sulitnya untuk merenungi sebuah nasib, itulah yang
melanda hari-hari pasien di rumah sakit ini, termasuk keluarga penunggu. Kenapa
ku bilang sulit,,, keadaan kami sangat memilukan, ada kata yang tepat menurutku
saat itu,, sial… astagfirullah.. tapi itulah yang kurasakan saat itu ketika ku
merasa begitu sesak dengan perasaan sedih dan tak kuasa,,, kenapa, mereka tetap
tidak bisa sadar, di antara mereka ada yang menyumpah serapah, mengaduh-ngaduh
dan kesakitan… masa lalu lah yang mengungkapkannya… mereka memang suka melaknat,,,
Allah,, tolonglah mereka,, haruskah mereka menanggung dua derita… derita badan
dan derita iman??? Allah penyakit ini bisa menjadikan dosa kami terhapus
oleh-Mu seandainyua kami mnyadarinya dan bersabar,,, namun bisa juga menjadi
bala, bencana bagi kami jika kami tak sabar… Allah, jangan bebankan sesuatu
yang kami tak mampu menanggungnya… ya Allah, kepadamulah kami berlindung dan
kembali….
Setelah kemo terakhir itu
paman bertambah lemah, biasanya perlu kira-kira satu bulan dulu untuk
memulihkan kekuatan tubuhnya setelah berkemo. Karena kemo di samping merontokan
sel-sel kanker yang siap beranak piak, tapi juga menyerang ketahanan tubuh yang
lain, kemo juga ikut membakar sel-sel yang baik. Akhirnya walau benjolan itu
mengempes, tapi paman semakin kurus dan tak berdaya. Akhir kemo yang sangat
melelahkan, kemo itulah yang berlahan menghilangkankekuatannya. Paman sama sekali tidak ingin
makan, satu lagi efek pengaruh kemo, tak sebiji nasi yang diberikan perawat itu
yang mau ditelannya. Paman sering meludah dan sangat lemah. Paman menjadi
hilang keseimbangan untuk bangun, terkadang dia tejatuh sendiri di kasurnya
dari duduknya. Kakinya tidak mampu lagi untuk menahan beban tubuhnya, lemah tak
berdaya.
Pernah suatu ketika, paman
tiba-tiba seperti kehilangan nafas, bola matanya terbalik ke atas. mulutnya
meringis sambil meringsut seakan itulah detik sang izroil menarik nyawanya… Aku
bingung tak kepalang, aku memanggil dan menepuk-nepuk punggungnya agar dia
sadar.. Aku kalut, inilah akhir detik-detik paman yang sebenarnya akhir
penantian kami.. Aku tak mampu menangis, aku berusaha bersikap bijak.
Orang-orang mendekati ranjang paman. Paman tetap tak sadar dan tetap berusaha
membantu Izroil menarik nyawanya. Hal yang ku lakukan,,, aku berbisik di
telinganya mengucap dan menuntutnya mengucapkan kalimat tahlil, laa ilaaha illa
Allah… sesering yang bisa kulakukan.. Mata paman seketika juga kembali normal
menatapku , dan ringisan sakitnya menjadi ringisan tangis… paman menangis namun
dia tetap kesulitan untuk mengembalikan ketenangannya. Paman menangis dan
menatapku, pamanku yang malang tetap bertahan… aku kikuk saat itu, aku senang
tapi malu, Dokter datang, paman berlahan menjadi stabil kembali. Ada perasaan baru
di hatiku, mungkin malu dan merasa bersalah saat aku mengira dia sudah
mengalami sakratul maut dan saat aku membacakan tahlil di telinganya.
Saat-saat terakhir itu
semakin jelas, namun seperti dokter dan perawat-perawat itu, aku pun semakin
memaklumi dan membiarkan segalanya berjalan hingga tiba sendiri keputusan akhir
tentang diri paman. Ah, dokter-dokter itu kusebut mereka pahlawan berseragam
malaikat. Mereka begitu bersih, rapi, harum dan bercahaya. Sungguh begitu
berkelas. Oleh karena itulah aku sungguh malu dengan penampilanku yang serba
sederhana. Salahku sendiri, hanya beberapa lembar pakaian yang kubawa, akhirnya
terkadang 3 hari hanya satu pakaian yang kupakai. Sedangkan para dokter dan
perawat itu begitu putih dan mereka semua terlihat jelita dan gagah. Makanya
saat dokter cantik menyapaku dan memanggiku “mbak” ah betapa malunya. Mungkin
penampilanku selain terlalu sederhana dan berantakan tapi terkesan keibuan. Aku
setiap hari di sana memakai rok, baju panjang dan memakai jilbab panjang. Tapi lebih
untung lagi aku tidak dipanggil ustadjah.
Ketika perawat datang untuk
menyuntik paman atau mengganti botol infusnya, aku terdiam dan memerhatikan
mereka. Sungguh eskotis… terkadang aku merasa menyesal kenapa aku tidak
mengambil perkuliaan jurusan perawat. Ya, begitu mahal, selama ini aku kuliah
di tempat yang tidak memungut biaya bahkan memberikan beasiswa. Tapi aku merasa
iri dengan mereka. Mereka berjiwa pahlawan dan lembut bervisi mulia
menyelamatkan nyawa-nyawa manusia. Sedangkan selama ini ilmuku belum mampu juga
kumanfaatkan. Mereka memang pahlawan berseragam malaikat.
Tapi, ada satu hal yang aku
tidak mengerti dari tindakan pahlawan berseragam malaikat itu. Mereka memang
tulus dan berusaha untuk kesembuhan pasien, tapi pasien-pasien itu kebanyakan
dari mereka satu persatu berakhir oleh kematian. Apakah mungkin di ruangan ini
memang terkumpul penyakit-penyakit ganas. Sebagian memang ada yang bisa
bertahan tapi mereka tidak mengalami kesembuhan total. Kasihan, tapi realitanya
seperti yang dialami paman. Penyakit kankernya memang sangat ganas, sehingga
dokter mem beri keputusan kanker itu dikemoterapi, salah satu alternatife
mematikan sel-sel kanker itu, tapi akibatnya lebih fatal. Daya tahan tubuh
paman nyaris hilang, lemah, mual, tak nafsu makan, gemetar dan lain-lain.segitu kerasnya obat yang diberikan dokter
itu sampai-sampai seluruh rambutnya rontok. Paman sangat memprihatinkan walau
benjolan kanker sudah mengempes dan merata dengan kulit lain.
Ada
satu hal juga yang tak kutemukan dalam pengobatan ini, pengobatan pengembalian
naluriah penyakit menjadi netral sebagai sesama makhluk lain yang juga bertugas
sebagai hamba Allah yang selalu bertasbih memuji-Nya, pemahamanku ini teramat
sederhana dari firman yang teramat istemewa.
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada
Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu
sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun
lagi Maha Pengampun.”(al-Isra :44)
Banyak lagi ayat-ayat serupa seperti itu yang intinya
aku memahami kanker juga makhluk Allah, sebagaimana aku yang bodoh ini juga
manusia. Kanker berkembang biak sebagaimana manusia juga beranak pinak.
Permasalahannya mungkin pemahamanku ini tepat, tapi dapatkan dimasukkan ke
daftar menu pengobatan ala modern yang serba canggih dengan beribu alat tapi
kenyataannya memang lumpuh hanya untuk memahami kanker juga makhluk Tuhan
walaupun ganas. “kesembuhan semu” setiap aku melihat alat-alat yang tak kuhapal
namanya dan tak kupaham fungsinya itu aku yang terlalu kerdil ini hanya
berfikir “aha, doalah jawabannya” Doa adalah obat bagiku karena yang kubisa
hanya berdoa. Oh, pahlawan berseragam malaikat…
Kutuliskan sebuah puisi untukmu wahai para dokter,
perawat dan kalian yang berjiwa mulia pahlawan berseragam malaikat… teruntuk
kalian dari si kerdil gadis yang berusaha memutar otaknya untuk memahami arti
dari kesembuhan semu…
Si putih yang jelita
Si putih yang rupawan
Begitu suci, harum, semampai dan eksklusif
Rambut mereka bak sutra tipis
Merangkai bentuk penutup semacam kerudung
Berayun-ayun diikuti gerak ayu dengan symbol eskotis
Jejaran gigi yang berkilau sempurna
Gerak yang teratur dengan catatan-catatan penting
Erat di genggaman jemari yang lentik berujung kuku nan
bening
Langkah yang pasti
Tawa mereka pun terdengar berkelas
Senyum dari seseorang yang berkarisma
Penuh keyakinan dan kelembutan
Mereka berseragam malaikat
Dengan visi dan misi yang suci
Menolong raga yang sakit
Tempat mengadu keluhan setelah Tuhan
Mereka berseragam malaikat
Orang-orang pilihan dan hidup memang pilihan
Merekalah dengan dengan formalitas bernama dokter dan
perawat
Sepenuhnya untuk raga yang sakit, jiwakah juga?
Wahai pahlawan berseragam malaikat
Kami rasa raga ini hanya cidera
Derita yang dalam ada pada jiwa ini
Kanker jiwa yang semakin memakan usia bathin ini
Pedulikah wahai pahlawan berseragam malaikat….
Sentuhlah raga ini
Kemana akal kalian mengembara
Penyakit ini tak mungkin hilang
Bersembunyi di celah jiwa kami
Dan perkataan kalian tentang kesembuhan ini
Apakah sebuah kesembuhan semu…
Seakan jiwa telah lumpuh tuk menyadari
Betapa mulia hadir kalian
Namun jiwa kami tak butuh kesembuhan dari raga yang
hanya cidera ini
Pertanyaan dari kami yang bodoh
kepada kalian yang cerdas dan mampu membayar mahal
pendidikan kalian yang berkelas
kamikah yang bodoh…?
Atau kaliankah yang tertipu dengan sebenarnya penyakit
yang mungkin sama-sama kita punya
walau, siapapun mengakui
Beribu manusia datang kepada kalian
Mengeluh bersedu sedan
Memohon kehidupan
Namun satu permohonan kami
Untuk sebuah harapan yang menuli butakan semua orang
Janganlah tambah kebodohan kami
Akan kesembuhan raga yang semu ini…
Kutulis puisi itu di kertas dengan tulisan ceker ayam
ala cacing berjoget,,, sebelum paman keluar dari rumah sakit, kuletakkan puisi
itu di atas meja pasien… Kuharap para dokter itu mengerti, walau aku sendiri
masih belum puas dengan pemahamanku, selamat tinggal pahlawan berseragam
malaikat.
Segala hal bisa berakhir penuh hikmah tergantung
seberapa besar pemahaman mengenai hakikat segala hal tersebut. Sejuta misteri
masih belum terpecahkan oleh tiap-tiap kejadian dalam hidupku, begitu juga
peristiwa ini, selang dua hari setelah paman keluar dari rumah sakit paman
meninggal dunia akibat kekurangan HB darahnya. Paman yang malang namun paman
telah menjadi sosok yang begitu suci melebihi pahlawan berseragam malaikat. Karena
paman telah mebuktikan arti dari kesembuhan semu, raga yang pasti mati ini tak
perlulah sangat dikhawatirkan… karena tanpa penyakit pun raga bisa mati,,,
sedangkan jiwa sekecil apapun penyakit yang ada padanya jika tidak segera
ditangani dan disembuhkan, akan berubah menjadi kanker jiwa yang ganas membunuh
karakter dan melumpuhkan keimanan. Akhirnya dia mati walau baru dimakamkan
setelah raganya mati.