Powered By Blogger

Minggu, 09 Oktober 2011

sebuah artikel



Generasi Qur’ani, Pahlawan untuk Memberantas Kemusyrikan Umat
(Analisis Singkat)
                Sebagai Negara yang mayoritas berpenduduk muslim, tidak nihil dari berbagai perselisihan pemahaman keagamaan. Islam yang dikenal memiliki berbagai macam aspek untuk menempuh kesempurnaan beragama, yaitu aspek syariat, thariqat dan hakikat, maka dari ke tiga aspek ini masing-masingnya melahirkan sendi pengaplikasian yaitu amaliah fiqh, ketauhidan dan tashawuf. Semua cabang ini memiliki sumber tuntunan dari Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam. Karena segala macam bentuk ajaran haruslah sesuai tuntunan yang diajarkan Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam. Yang menjadi permasalahan, berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam, pemahaman tentang ajaran maupun tuntunan beliau semakin meluas, sebab lain, islam menyebar pesat ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
                Awal masuk dan berkembangnya islam di Indonesia menempuh berbagai macam cara, melihat kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih erat dengan pengaruh hindu dan budha, oleh karenanya para muballigh islam mengakali semua itu dengan tetap menyampaikan dakwah kepada mereka dan  tetap menoleransi kegiatan berbau pengaruh hindu budha tersebut. Namun disayangkan, ritual-ritual itu begitu kental membudaya keibadahan mereka, sehingga mereka yang telah memeluk islam tetap saja mengerjakan ritual itu di samping melaksanakan  ajaran islam, bahkan mereka lebih suka mencampur adukan ritual ke duanya, antara kepercayaan mereka terdahulu dengan agama islam yang telah mereka anut. Hasilnya, turun temurun pencampur adukan itu masih mewarnai sifat-sifat keagamaan islam di Indonesia, bahkan mengakar menjadi kepercayaan yang wajib dilaksanakan walau sama sekali tidak bersumber dari islam sendiri.
                Menengok kembali sejarah perkembangan islam di Indonesia ini memang sangat mengagumkan, Para muballigh begitu cerdas dalam memasukkan islam ke tengah masyarakat yang sarat ritual mistik, mengingat islam adalah agama yang rasional dan melarang segala bau kemusyrikan, tapi para muballigh tetap tampil kreatif menuguhkan agama islam di hadapan masyarakat Indonesia. Namun masalah yang terjadi, nilai-nilai kemusyrikan itu masih menjamur di kegiatan islam sendiri akibat toleransi muballigh pada awalnya. Kesulitan ulama sekarang adalah dalam perdebatan antara ulama sendiri. Ada yang menerimanya dan mengakui keabsahan praktek relegi berbau budaya hindu budha ini, ulama jenis ini tetap menoleransi masyarakat untuk mempraktekannya. Sedangkan ulama selanjutnya begitu ekstrim dengan nilai-nilai pencampur adukan ini. Menjauh, menghina dan membentuk kelompok baru yang fanatisme terhadap golongan mereka sendiri.
                Sebagai penengah dari ke dua golongan tersebut, perlulah adanya pemikir-pemikir yang tetap bisa menyatukan umat namun menyingkirkan benang kusut. Permasalahn yang terjadi bukan harus dihindari maupun dibiarkan tetapi yang perlu dilakukan pemikir itu adalah mencari solusi, bukan juga ikut mengikuti salah satu dari dua pihak. Karena ke dua pihak tidak dapat disatukan selama adanya pemikiran yang tepat untuk suatu solusi jitu. Bukanlah perbedaan menjadi rahmat selama persatuan masih dapat dicapai.
                Untuk para penggelut Quran, baik penghafal, pengajar maupun pelajarnya. Merekalah pahlawan yang diharapkan mampu mengatasi dan menjawab solusi permasalahan ini. Jawaban bukan dari ucapan atau retorika dakwah saja, tetapi lebih mengarah kepada adanya aksi dakwah nyata melalui teladan konkrit untuk umat ini. Karena mungkin umat begitu haus dan mendambakan pengikut Rasulullah yang nyata. Dakwah aksi inilah yang diharapkan menjadi solusi permasalahan umat di antara celah perdebatan ulama. Umat tidak perlu banyak kata-kata, tetapi umat perlu amal nyata. Aplikasi.
                Generasi qurani harus mampu berpikir matang dalam pengarahkan umat kepada tuntunan sunah yang benar, di samping generasi qurani harus pandai untuk sedikit demi sedikit menghilangkan pengaruh-pengaruh yang berbau bidah dan syirik dari ritual umat. Bukan langsung menghalang-halangi atau mencemooh mereka, tetapi perlahan membelokkan mereka ke arah yang tepat. Kalau saja senantiasa terus menoleransi amaliah mereka yang berbau syirik itu, maka tidak aka nada perubahan dan selamanya dalam kesesatan yang diislamisasikan tersebut. Namun kalau saja langsung dirubah sepenuhnya gaya ritual mereka ke rtual tuntunan islam sebenarnya, maka akan memperbesar kobaran perselisihan  dan tangga kecongkakan akan semakin meninggi. Karena masyarakt tidak mudah menerima dan merubah, perlu proses namun tetap dalam tahapan perubahan.
Sebagai perbandingan bagi para penggelut quran yang hanya berani melihat dan menghindar, sungguh memilukan dan sangat memalukan bagi mereka yang hanya mencemooh tanpa memberikan solusi. Atau mereka hanya orang-orang yang pura-pura tidak tahu, menutup mata, hati, telinga dan mulut mereka untuk sebuah kenyataan yang Untuk itu, generasi quran harus berani dan merasa terpanggil untuk bergerak menyelamatkan umat ini, pandai bersikap, atur strategi, bulatkan tekad dan satukan niat. Sebagai pahlawan umat dan bertanggung jawab untuk mengemban misi dakwah menyelamatkan umat, menuntun kea rah yang tepat.menjadi tanggung jawab mereka.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Fakultas Impian Zulfa


Debar jantung yang semakin kencang, tinggal beberapa langkah lagi. Namun kaki seakan tak peduli dengan kerisauan hati bercampur rasa gugup yang keterlaluan. Panas dingin tubuhnya saat itu. Sedangkan mahasiswa-mahasiswi yang lain kian berlalu dan tak mempedulikannya, semuanya sibuk hanya untuk tujuan belajar. Zulfa kalut namun tetap berusaha tenang. Sekarang yang ada di hadapannya adalah sebuah bangunan yang fenomenal, angkuh namun sungguh berkharisma, di ujung atapnya terbentuk sebuah mushaf al-Quran yang terbentang menghadap langit dan alam sekitarnya. Sebuah gedung bertingkat tujuh, besar dan megah. Begitu kokoh dan gagah untuk sebuah  fakultas ternama, terkenal dengan Pencetak seribu Hafizh, STIQ, siapakah yang tak kenal dengan STIQ ini, pahlawan dan dambaan umat. Yang telah melahirkan tokoh-tokoh hebat bangsa. Decak kagum, pengakuan dan penghargaan dari berbagai cabang-cabang pendidikan internasional.
            Di sinilah Zulfa memilih untuk meneruskan pendidikannya, impiannya untuk kuliah di sini tercapai, walau STIQ tidak menuntut mahasiswa-mahasiswinya untuk mengeluarkan biaya yang tinggi untuk pendidikan mereka, STIQ malah tidak memungut biaya apapun. STIQ cukup menerima mahasiswa-mahasiswi yang berkualitas dan siap mental untuk berjuang meraih gelar hafizh Al-Quran dan alim ulama yang siap memimpin bangsa dan umat. Oleh karena itu seleksi masuk STIQ sungguh ketat, baik mahasiswa maupun dosen pengajarnya merupakan orang-orang pilihan. Seleksi yang diterapkan STIQ bukan hanya bertumpu pada kemampuan intelektual ataupun kecerdasan calon mahasiswa tapi lebih kepada seleksi spiritual mereka, STIQ mengukur kesungguhan, niat, tekad juang dan ibadah mereka.Seleksi itu hanya bisa dilakukan oleh pakar-pakar pilihan dan terpercaya yang mampu melaksanakannya, akhirnya yang mampu lulus tes seleksi gelombang pertama itu hanya 200 orang saja dari seribu peserta tes yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan banyak juga yang berasal dari negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand. Namun bagi peserta yang tidak lulus mendapat bimbingan intensif selama 6 bulan di mahad an-Najah yang diadakan oleh STIQ sendiri. Yang Zulfa bisa lakukan kemarin dengan mengikuti pelatihan singkat fisik dan rohani prakuliah STIQ selama enam bulan yang diadakan oleh sebuah ponpes dekat fakultas STIQ khusus untuk membina bagi santri yang ingin melanjutkan studinya ke STIQ. Tapi bagi Zulfa pelatihan itu saja tidak cukup, karena seleksi lebih membebankan tes bathin, spritualisme dan kesungguhan. Itu suatu yang sangat berat bagi Zulfa, karena masa lalunya selalu mebayang-bayanginya, masa lalu yang penuh aib. Ingin dia mengubur masa lalunya itu, tapi selalu saja menghantuinya. Itulah yang membuatnya merasa malu STIQ mengetahui masa lalunya, Zulfa merasa begitu kerdil dan tak pantas untuk menjadi mahasiswi STIQ. Walau beberapa pihak dan tokoh penting STIQ juga yang berjasa menyelamatkannya dari mimpi buruk masa lalu, STIQ telah bersedia memberinya kesempatan untuk ikut pelatihan dan bimbingan intensif 6 bulan untuk persiapan seleksi selanjutnya.
Awalnya Zulfa sudah hampir menyerah dan pasrah bahwa dirinya hanya bisa bertahan sampai pelatihan itu saja. Namun kenyataannya Zulfa mampu lulus tes di antara ribuan peserta itu, Dan sekarang merupakan hari pertamanya duduk di kursi di lokalnya sebagai mahasiswi STIQ. Orang-orang di sekelilingnya tidak mengetahui Zulfa dan masa lalunya. Zulfa semakin tertutup dengan mereka, walau Zulfa berdecak kagum dengan masing-masing mereka, baik dosen, mahasiswa maupun mahasiswinya. Mereka semua orang-orang yang luar biasa. Sopan, baik, terjaga, patuh, disiplin, ramah, pemalu juga penuh semangat dan menyemangati.
Suasana di STIQ adalah suasana ilmu, dalam satu gedung STIQ ada dua bangunan, untuk bangunan kiri khusus mahasiswa, dan bangunan kanannya khusus mahasiswi. Semuanya terjaga dan penuh aturan kedisiplinan. Di hari pertama ini, Zulfa sudah merasa begitu penat, otaknya yang terbiasa santai, sekarang harus terpaksa online untuk mengikuti seluruh program wajib mahasiswa baik di kampus maupun di asrama yang semuanya terpadu dan jelas dalam buku bersampul biru Qanun Thullab STIQ. Qanun itu sendiri berbahasa Arab, untuk memahaminya, Zulfa harus bertanya kepada kakak-kakak senior di asrama yang juga menjelaskan Qanun dengan berbahasa Arab. Zulfa merasa ingin meledak dengan kondisinya itu, segala apa yang dia dengar, baca, tulis dan ucapkan, semuanya harus berbahasa Arab. Belum lagi program rutinan tahfiz dan takrir Quran untuk setiap harinya, STIQ menuntut perjanjian bermaterai, kuliah program SI selama tujuh tahun dengan syarat harus hafizh Quran dan hapal seribu hadis Nabi. Setiap semesternya hapalan mahasiswa seluruhnya dipantau, siapa yang tidak memenuhi target siap-siap untuk menjalani sanksi, untuk hukuman terberatnya bisa-bisa dikeluarkan dari STIQ. Zulfa merasa tertekan luar biasa, tetapi dia sadar dia sudah berani masuk, pantang baginya sebelum lulus untuk keluar atau dikeluarkan. Toh, selama ini sudah beribu-ribu mahasiswa yang berhasil untuk menjalani program STIQ sampai lulus. Tentu dirinya pun sanggup untuk itu Pikir Zulfa.
Minggu-minggu melelahkan telah terlewati, seminggu lagi akan tiba bulan Ramadhan. Kuliah diliburkan selama setengah bulan dari minggu ini. Zulfa sudah bisa kembali bernafas lega, walau program asrama pun sedemikian membuatnya lelah tak kepalang, bayangkan saja dari bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya ada undang-undang atau qanunnya. Jatah tidur Zulfa yang biasanya 8 jam ke atas, kini berkurang 3 jam dan diberi waktu tidur qailulah siang maksimal 20 menit. Zulfa merasa hidup dalam batasan, cekikan dan beban yang menggelantungi lehernya. Tapi inilah resiko dari keinginannya kuliah di sini. Zulfa tidak bisa memberontak lagi.
            Ramadhan yang ditunggu-tunggu tiba juga, seluruhnya dalam persiapan. Ada program-program baru untuk Ramadhan ini, di antaranya seluruh mahasiswi wajib tarawih tiap malam 1 juz khusus mahasiswi saja di mushalla asrama, pembagian imam sudah ditentukan, buka puasa dan sahur wajib bersama-sama. Ustadzah-ustadzah Pembina asrama pun semakin ketat dengan aturan-aturan di asrama. Untungnya, seperti biasanya waktu hari jumat mereka full untuk hari kebebasan.. Zulfa menggunakan hari itu khusus untuk merelaksasikan tubuh dan pikirannya, biasanya dia mengunjungi salon muslimah yang dibangun di samping asrama untuk meremajakan seluruh anggota tubuhnya dari keramas, pemotongan kuku, mandi susu, manti uap, kolam renang, juga ada pemijatan tradisional. Tenaga kerjanya yang banyak, membuat klien-klien yang hampir dari seluruh mahasiswi STIQ betah dan mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Kampus pula yang mengadakan semua itu. Kenikmatan yang tiada terperi, Zulfa benar-benar tidak ingin melewatkan program yang satu ini.
            Ramadhan yang indah melipur lara hari-hari Zulfa, senandung membasahi lidahnya, musim kemarau tak membuatnya layu, namun menyuburkan semangatnya untuk bertahan. Walau sesekali teringat masa jahiliahnya, saat-saat hitam dalam hidupnya. Zulfa menangis lirih. Tak boleh siapapun yang tahu, pikirnya, Biarkan masa lalu itu terkubur dan hilang oleh jarak dan rentan waktu.
            Zulfa mengatur target ramadhannya, laporan pencapaian harus diserahkan melalui syahid dari Pembina masing-masing ruang kamar. Ustadzah Aminah, Zulfa telah menganggapnya seperti kakak kandungnya. Perhatian dan kepedulian ustadzah yang berasal dari Sumatera ini membuat mereka benar-benar saling mencintai dan menghargai. Melalui ustadzah ini juga Zulfa mengadu resahnya, masalahnya dan rasa sedih bahagianya. Setiap Pembina mahasiswa memang diberi tanggung jawab membimbing, mengarahkan, bahkan menjadi curhatan anggota bimbingannya dengan sepenuh hati, bukan karena tugas saja. Akhir bulan mereka harus melapor hasil bimbingan mereka kepada ketua bimbingan. Zulfa, maupun seluruh mahasiswa lainnya merasa tenang dan nyaman dengan semua itu. STIQ memberikan tekanan dan juga solusi. Indah nian pendidikan seperti ini.
            Tapi untuk masa lalunya, Zulfa tak ingin berbagi kepada siapa pun, tak ingin siapa pun tahu. Bahkan, Zulfa berharap Allah pun melupakan dan menghapus segala memori tentang masa lalunya itu. Zulfa tak berdaya, masa lalu sudah menjadi bagian yang tak bisa dihapus dari hidupnya. Allah jualah yang Maha Tahu apa yang terjadi untuk selanjutnya,.
            Malam-malam akhir ramadhan terasa damai, namun setiap hamba yang terpanggil akan ikut serta memeriahkan dan berburu malam lailatul qadr. Zulfa semakin tenggelam dalam kekhusukannya, sedu sedan bertaubat atas masa lalunya. Zulfa merasa mendapat kenikmatan baru, nikmatnya iman, nikmatnya berkumpul bersama orang-orang shaleh, nikmatnya kekhusyukan. Zulfa tak ingin lepas dari semua itu. Walau masa lalunya kembali menyeruak lagi.
            Di tengah Ramadhan yang lalu, telpon asrama berdering, panggilan untuk Zulfa, ternyata berasal dari ayah tirinya yang menyuruhnya untuk kembali ke Bandung. Kekacauan yang telah dibuat Zulfa di tahun sebelumnya masih menyisakan banyak masalah yang akhirnya ditinggalkannya ke Kalimantan untuk kuliah di STIQ. Zulfa telah mengikuti jaringan terorisme internasional cabang Aceh, awalnya Zulfa berhasil menemukan jaringan itu lewat blog tertutup milik salah seorang anggota teroris, jiwa mudanya yang ingin mencoba-coba dan mudah terpengaruh itu mengakibatkan dirinya berhasil dicuci otak dan dipengaruhi hanya lewat kata-kata di posting blog jaringan teroris atas nama jihad itu. Zulfa semakin akrab dengan mereka di berbagai mediator jejaring internasional. Zulfa sempat dibawa ke Aceh untuk kongres dan pelantikan anggota. Dia mendapatkan peran yang lumayan penting dalam tugasnya, sebagai pemantau gerakan nonlazim pemerintah, kerjaannya menghina dan menentang setiap program pemerintah wilayahnya. Akhirnya dia mendapat kecaman keras dari pemerintah bahkan masyarakat setempat. Zulfa disidang beberapa kali. Sang ibu tak tahan mendengar dan akhirnya meninggal dunia akibat tekanan darah tinggi. Ayah tirinya yang terpaksa menanggung kekacauan itu. Masalah kian rumit, saat gerakan teroris semakin gencar, walaupun pihak hukum belum bisa membuktikan keikut sertaan Zulfa di dalam gerakan teroris tapi Zulfa tetap mendapatkan pengawasan dan selalu dipantau gerak-geriknya. Belum puas juga dengan kesalahannya, Zulfa berani bertindak konyol dengan membantu menyebar luaskan gerakan ini ke pesantren-pesantren. Akhirnya Zulfa benar-benar tertangkap basah, kembali disidang, bahkan sempat ditahan di penjara beberapa bulan. Zulfa yang saat itu masih berumur 20an mendapat dispensasi, karena pihak hukum menganggap Zulfa hanya seorang gadis korban dan memang masih tergolong usia labil, mudah terpengaruh, apalagi pencucian otak itu begitu canggih, ada unsur hipnotis di dalamnya. Dalam keadaan yang begitu kalut, Zulfa depresi dan kian kacau. Dia bingung mana yang benar mana yang salah, Zulfa termakan dengan setiap kata-kata jihad yang dilontarkan teroris itu. Janji setia dan rela mati yang diikrarkannya sewaktu baiat anggota teroris dahulu membuatnya semakin sulit untuk memerangi pemikiran yang merasukinya itu. Zulfa yang semula adalah santri yang sangat cerdas, berakhir dengan pemikiran konyol dengan bergabung bersama jihad ala teroris tersebut. Zulfa hampir di masukkan ke rumah sakit gila saat itu.
Detik-detik yang mengerikan dalam hidupnya berakhir, saat dia menerima surat dari seorang tokoh ternama, surat khusus untuk dirinya, dari Kalimantan dengan sampul manis dan tulisan tangan orang hebat. Zulfa terpana, di era modern yang serba canggih ini, masih ada orang yang mau memfungsikan kesederhanaan namun itulah arti sebuah ketulusan. Surat itu dari Dekan STIQ, fakultas impiannya. Zulfa memang sering mengirimi STIQ pesan lewat email maupun komentar di setiap situs STIQ, informasi STIQ selalu up date  baginya. STIQ pun sering balas mengomentari setiap pesan yang dikirimnya. Itu karena STIQ juga membentuk staff khusus untuk koneksi sosial di dunia maya. Namun, otak terorisme itu sedemikian mengakar dan memperbudaknya jauh sebelum dia aktif mengikuti jaringan sosial STIQ. Ibaratnya Zulfa lebih dahulu mengambil jalur yang salah sebelum akhirnya dia tersadar lewat surat yang diterimanya dari STIQ, lembaga pendidikan yang berkualitas ini memahami dan telah mengenal karakter Zulfa sejak lama. STIQ terpanggil untuk menyelamatkan anak ini. Karena Zulfa tak lebih hanya sebagai seorang korban penganiaiaan mental oleh kelompok bejat yang mengatas namakan diri mereka penjihad itu. STIQ juga mengirim surat kepada pihak yang berwenang terhadap kasus Zulfa, agar mereka membiarkan STIQ menangani anak itu. STIQ mendapat kepercayaan penuh oleh seluruh lembaga hukum. Zulfa bisa keluar dengan jaminan dan tanggung jawab STIQ. Namun kasus Zulfa belum bisa diselesaikan, dia masih harus melalui proses hukum. Zulfa bersyukur identitasnya dirahasiakan, nama yang tertera di tayangan berita televisi, internet maupun Koran merupakan identitas samaran dan palsu. Pemerintah masih menyayanginya dan menganggapnya putri bangsa ini.
Saat dia sudah damai berada di lingkungan STIQ, Zulfa sudah kembali bisa menyadari kesalahannya dan kekonyolan masa lalunya. Bayang-bayang pahit itu seimbang dengan keindahan yang dirasakannya saat ini. Zulfa merasa bangga bisa kuliah di sini, dia merasa masa depan indah kian menghampirinya. Kasusnya belum selesai, ayah tirinya yang baik itu bersedia menangani setiap proses hukum. Walau terkadang dia tetap menyuruh Zulfa kembali ke Bandung, daerah asalnya untuk membantu ayahnya mengurus segala permintaan hukum. Zulfa sendiri kasihan dengan orang tua tirinya itu, ayah kandungnya benar-benar tak cari tahu dan tak ingin bertanggung jawab. Zulfa ditelantarkan bersama ibunya saat dia masih kecil. Masalahnya, jika dia kembali ke Bandung, segalanya tidak akan lebih membaik, Jaringan teroris masih mencari-cari dirinya. Dan itu sangat berbahaya bagi Zulfa.
Jingga di ufuk senja, menyelimuti keheningan sore itu, sore terakhir untuk Ramahdan yang terasa begitu singkat. Zulfa merasa berat untuk membayangkan setelah Ramadhan berlalu, akan ada kesibukan, perjuangan, tantangan dan masalah-masalah baru yang siap menghadangnya. Tapi bukankah dia telah mendapat bekal dan oleh-oleh dari Ramadhan berupa taqwa dan kekuatan baru. Segalanya akan membentuk sejarah, Zulfa lebih berhati-hati dalam memilih langkah. Kesalahan yang dia toreh di masa lalu akan dia gantikan dengan menciptakan sejarah yang lebih baik. Zulfa bertekad untuk bangkit.
Zulfa dipanggil untuk kembali ke Bandung, ada beberapa hal yang harus dia tangani sendiri. Setelah mendapat izin dari STIQ, sehari setelah idul fitri itu juga Zulfa pulang ke Bandung. Sedihnya tak kepalang karena dia harus menghadapi akibat dari kesalahan yang telah dilakukannya, belum lagi dia diminta menjadi saksi dan memberi tahu segala informasi gerakan radikal teroris yang pernah digelutinya itu. Zulfa terkadang merasa kesal, mengapa masalah ini masih diperpanjang dan malah diperumit, padahal jelas-jelas dia sudah berhenti dari tindakannya, proses hukum yang hampir dua tahun belum juga kelar. Zulfa memang sudah terbukti positif berhenti dari jaringan yang mengkelabui kehidupannya itu. Zulfa sedikit emosi untuk hal itu, yang bisa dia lakukan hanyalah menerima apa yang diperintahkan hukum kepadanya.
Jalur arus mudik lebaran masih sepi, Ramadhan masih menyisakan hangatnya. Di jalan menuju pulang ke Bandung membuatnya begitu hampa, rindu akan kesibukan al-Quran dan ilmu yang ditekuninya, canda tawa bersama pembina-pembina asrama, keluguannya bersama mahasiswa-mahasiswi baru. Ah, berharganya detik-detik itu, detik-detik ibadah dan nuansa ilmu. Zulfa terasa lahir di abad kejayaan islam, menjelajahi ilmu tanpa batas bersama-sama tokoh ilmuan islam.
Kursi pesawat banyak yang kosong, Zulfa memilih duduk dekat jendela. Zulfa lelah, matanya bengkak akibat tangisnya selama perjalanan. Zulfa mentaqrir surah baqarah yang telah dikuasainya di luar kepala itu. Seseorang yang berada di sampingnya terlihat juga tiduran dengan selembar Koran menutupi wajahnya. Zulfa mulai memejamkan matanya saat akhir surah baqarah selesai dibacanya. Dalam mimpinya segalanya begitu indah, sosoknya yang berubah menjadi sosok mungil, Zulfa kecil dalam gendongan laki-laki tua berjanggut putih, muallim, dekan STIQ itu menimangnya seakan cucunya sendiri. Tiba-tiba dari kejauhan sang ibunda Zulfa datang, lirih memanggilnya. Menangis dan meminta muallim untuk menyerahkan bayinya itu. Muallim dengan hormat menyerahkannya ke pangkuan ibunda. Setelah itu Zulfa semakin terlelap dan tak mampu sadar.
Laki-laki di sampingnya sewaktu di pesawat itu memapah Zulfa keluar bandara Malaysia, Zulfa dibawa ke Kuala Lumpur. Laki-laki itu temannya sewaktu masih dalam jaringan teroris. Hanif telah membius Zulfa sewaktu dia tidur di kursi pesawat. Ternyata panggilan dari Bandung itu cuma rekayasa oleh Hanif. Zulfa dibawa ke sebuah ruangan kosong.
Sesuatu yang tajam menusuk bagian kiri ujung limpa Zulfa, dalam dan begitu cepat membekukan segala aktifitas organ tubuhnya, Zulfa terperanjat, bayang ibunda dan muallim dekan lenyap dari mimpinya, yang dia rasakan adalah sakit di ulu hatinya, dan menyebar ke jantung, terus menerus menembus otaknya. Zulfa tersadar namun tak berdaya, perutnya nyeri, cairan merah nampak di bajunya yang berwarna krim. Zulfa terkulai layu, matanya berkunang-kunang, Hanif dengan pisau yang berkilau darah di genggaman kirinya kembali menusuk perutnya. Zulfa kian terperanjat, takbir lirih terbingkai di mulutnya, Allah Akbar. Seluruh aliran darah Zulfa membeku. Zulfa merasakan waktunya kian dekat, dia tahu sesadar-sadarnya inilah detik-detik akhir sakratul maut. Masih ada kesempatan untuk husnul khatimah. Sakit yang terabaikan. Syukurlah yang menyelimutinya saat itu, kalimat terakhir dari mulutnya adalah kalimat ikrar sejati, lantunan pengakuan uluhiyah Allah, lantunan tahlil. Mata Zulfa perlahan tertutup dan setetes air mata membasahi samping kanan matanya. Zulfa terlelap dalam keabadian sedangkan hatinya tersenyum.
TAMAT









Biodata Singkat Penulis
Nama                     :         Rosida
Nama Pena            :         Bintul Qalam
Semester                :         V b STIQ Amuntai

Keterangan Cerpen                                                                                                                         
Tema                      :         Tokoh Teladan Umat
Judul                      :         Fakultas Impian Zulfa
Sinopsis Singkat
     Zulfa tertekan dengan masa lalunya yang kelabu, mantan dari anggota teroris internasional, dan masalah tak kunjung selesai. Saat semuanya sudah semakin kacau. STIQ datang menjadi pahlawan hidupnya. STIQ bersedia menerima Zulfa walau beberapa tokoh penting STIQ harus menanggung resiko untuk mempertanggungjawabkan semua kekacauan yang telah diperbuat Zulfa.
Untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalunya, Zulfa bertekad untuk bangkit, di fakultas impiannya inilah, kesungguhan dan tekadnya dia perjuangkan. Akankah dia berhasil sampai akhir hayatnya?
Tentang Cerpen
       Ilustrasi yang menggebu-gebu, walau menggunakan nama tempat yang sebenarnya, diskripsi tempat total hanya fiktif. Sebagaimana judulnya, Fakultas Impian Zulfa. Fakultas ini masih menjadi impian. Dengan tokoh seorang mahasiswi yang penuh semangat walau dilatarbelakangi dengan kekacauan masa lalunya. Zulfalah yang  menjadi tokoh teladan sebagai mahasiswa yang bermasalah tapi tetap berjuang untuk memperbaiki kesalahannya

Minggu, 25 September 2011

cerpen : Pendidikan Bertaraf Jagat Raya



*Tema Tokoh Teladan Umat*
Judul : Pendidikan bertaraf Jagat Raya
            Musim kemarau tahun ini walaupun terlambat tapi membuat hari-hari semakin panas menggelorakan emosi, ah, melelahkan, menjemukan dan mengesalkan. Kesalku makin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, jangkrik-jangkrik yang susah-susahnya kucari dan berlarut-larut malam kuberanikan diri meletakan jangkrik-jangkrik itu ke sawah dan menyusupkkannya ke semak-semak bawah padi  dekat kuburan datu-datu, juga kuburan abahku[1], tetap tidak mampu mengusir tikus-tikus sawah. Belum lagi hama-hama yang lain yang sulit dibasmi. Akhirnya tanaman padi kami tetap rusak. Tanah ladang sawah juga tidak bersahabat tahun ini. Sulit ditanami. Musim kemarau, membuat tanah menjadi kering dan rumput liar semakin menjadi-jadi. Tanaman cabe, singkong, tebu, terong dan tomatku kurus dan layu seseumpama terkena isap buyu[2], kurang vitamin.
            Itik-itik[3] malas bertelur di musim ini. Semakin cerewet dan meninggi seleraMereka tak akan mau makan kalau gabuk[4] dan umpan campuran iwak karing[5] itu berganti-ganti, tidak teratur dan jika campurannya itu terlalu amis. Itik yang suka berenang dan mencucur juga semakin malas melihat kondisi tanah yang kering. Mereka lebih suka berada di kandang bermalas-malasan ketimbang kulepas ke padang[6].
Panas menggelora, hari-hariku di samping setiap hari mengayuh sepeda laki merk pollygon dari Alabio sekitar 10 km menuju pengajian Muallim Rahmat yang digelari guru Amat di Amuntai, karena aku di sana sebagai murid tetap dan mengabdi padanya. Juga yang menjadi rutinitas di musim kemarau yang sungguh menebalkan dekil di leher dan sikuku yaitu di hamparan sawah, pahumaanku[7], disinilah kantorku, kampusku dan tempat kerja lapanganku saat orang-orang yang berseragam berkerja dan memperoleh kantor atau kampus mereka di tempat yang berpetak-petak, bertembok, tertutup, terlindung dari panas, nyaman dan begitu berkelas. Maka disinilah tempatku. Sebagai petani yang mempunyai ladang yang cukup luas tapi apa daya sebagai anak tertua yang mempunyai 2 adik laki-laki dan 4 adik perempuan. 2 tahun yang lalu ayahku meninggal dunia. Sehingga 6 adik yang racap-racap[8] dan ibu yang makin beruban Sungguh membuatku membatalkan janji-janjiku dengan masa depan. Menepis dan mengubur impian-impian masa lalu. impianku menjadi pegawai apa saja tapi yang digajih tiap tahun, berseragam dan mempunyai jaminan pensiun. Bagiku, hebat nian impianku itu dan keren.
Adik-adikku harus lah menjadi pegawai. Mereka harus tamat sekolah, jangan sepertiku setelah 6 tahun di pesantren, tapi sedikit banyaknya aku merasa dipandang sebelah mata. Mungkin karena aku tersinggung dengan pernyataan orang kampung sini. Hidup itu perlu uang, ilmu saja mana cukup. Dan yang lebih parahnya, masyarakat kampung ini, sungguh gemar memperhatikan orang lain. Akhirnya mereka akan sambung-menyambung mulut menggosip si bujang, si pecundang, si tukang melamun, si tukang pacaran dan lain-lain. Padahal anak gadis meraka sendiri tak mengerti untuk menutup auratnya dan anak laki-laki mereka hanya tukang rayu gombal anak gadis kampung. Termasuk juga umurku yang mulai bertambah matang ini menjadi sorotan gadis ndeso, mungkin kalau aku menilai di depan cermin sendiri wajahku mempunyai garis dan bentuk yang berkarakter India dan lesung pipit yang dalam di pipi kiri. Oleh karena itu gadis di sini lumayan juga genitnya. Mandi di batang[9] dengan beralaskan sarung yang menempel di badan mereka, dada mereka terbuka dan semakin jelas lekukan tubuh mereka dengan sarung yang telah basah oleh air. Batang-batang itu berjejaran di pinggir-pinggir jalan. Untung aku berangkat ke pengajian sudah agak siang, jadi jarang-jarang di batang tapi sering juga aku melihat pemandangan syetan itu. Ah, andai aku jadi pembakal[10] kampung ini, ah tanggung. Pembakal sekarang juga masih lemah menghadapi orang kampung. Mungkin lebih baiknya menjadi bupati langsung, sudah pasti dengan tanganku sendiri ku hancur batang-batang ini atau ku buat batang yang tertutup dan ada spesial untuk laki-laki dan untuk perempuan. Ah suka mengandai-andai aku ini. Nanti yang kutemui juga kantor pahumaan.
Untuk tugasku selanjutnya adalah menjadi kaum[11] di Mesjid kampung ini, sekitar 5 meter dari rumahku. Oleh karena itu julukan untukku dari nama Syamsudin menjadi Udin ditambah kaum, jadinya Udin Kaum. Memang banyak nama Udin di kampung ini, parahnya lagi ada lagu Udin Sedunia yang lagi popular dinyanyikan penyanyi baru yang asalnya hanya iseng saja membawakannya, liriknya demikian membuatku tak kepalang menanggung malu, “Udin…Udin namamu norak tapi terkenal”. Betapa gemarnya  anak-anak dan pemuda yang brandal dan suka kekonyolan menyanyikan lagu ini. Dan penyanyi aslinya sama mengerikannya dengan lagunya.
 Alhamdulillah untuk yang lima waktu itu selalu kulaksanakan di mesjid Al-Bayan, tempat aku mengumandangkan azan. Sebagai orang NU[12] banyaklah macam-macam amalan yang bermuluk-muluk kubaca dari shalawat, dzikir, syair dan lain-lain. Berbeda dengan kampung seberang, ibadah mereka sederhana dan praktis. Sebenarnya aku lebih tertarik untuk mengamalkan tadarus quran, menghafalnya dan mempelajarinya. Aku tergugah dengan kata-kata al-quran, makna-maknanya dan menjadi lebih indah dan memelodi saat lidah melantunkannya. Yang kuhapal baru juz 30, tapi harapanku adalah 30 juz. Pandai nian aku berharap. Tapi inilah diriku, saat ku rebahkan diri ini di sebidang tanah yang kering mati, ku bentangkan tangan, ku tatap awan yang menyilaukan, ku biarkan alam mengenaliku dan membacaku, aku pun membaca alam. Seakan alam adalah kitab yang terbentang. Kutantang dan kuresapi sengit panas matahari, ku hurip udara yang berbau rumput kering dan untuk kesekalian kalinya. Ku tegaskan kepada diriku sendiri, kepada hidupku, kepada takdirku. Aku atas nama Syamsudin akan tetap bertahan menghadapi hidup yang tak tentu arah ini. Aku akan tetap berjuang untuk meningkatkan kehidupan yang layak bagiku. Aku meyakini doa dan seperti kata orang bijak, hidup adalah pilihan.
Seusai dari sawah, biasanya aku langsung menyiapkan dan membagi-bagi umpan itik untuk makan pagi, siang dan sore mereka. Bau kotoran itik sudah membaur alami di kampung kami. Rata-rata masyarakat kampung ini di samping bertani juga berternak itik. Dan rata-rata tempat di bawah rumah mereka yang tinggi itu yang dijadikan sebagai kandang itik. Hampir bisa dikatakan kami serumah dengan itik. Setiap senin pagi  aku pergi ke pasar Senin untuk membeli bici atau lipis[13] untuk umpan itik. Di pasar ini juga aku tidak lupa untuk singgah di samping pelabuhan kapal pasar hanya demi melihat seorang gadis penjual ikan sepat asin dengan pakaian yang sempurna, jilbabnya menjuntai dan bergerak-gerik karena geraknya ke sana kemari. Kian minggu kian membanyak pelanggan yang menyinggahi tumpukan ikan sepat asin dagangannya. Gadis itu manis walau matahari telah melibaskan cahaya eloknya. Tapi parasnya tetap alami, seandainya gadis ini sedikit dipoles sungguh tak kalah dengan gadis norak dengan bedak lebay dan parfum murahan di kampungku. Tapi gadis ini memang berbeda. Aku berharap dia juga memperhatikanku walau sedikit pun aku tak berani mendekatinya. Hanya dua tiga kali berlalu di hadapan dagangannya.
Aku tak mengalami pengalaman cinta seheboh, setragis, seromantis dan sedahsyat pengalaman cinta kawan-kawanku. Buktinya aku tak pernah berani menyatakan perasaan kepada gadis penjual ikan sepat asin itu maupun kepada gadis manapun yang pernah kusukai. Hanya kupendam, tapi sungguh dipendam itu mengasyikkan. Faktor lain karena aku juga tak memiliki HP, alat canggih yang mampu menyambungkan suara ke suara dari tempat sejauh manapun, alat ini bisa juga untuk menemukan jodoh seperti kebanyakan pemuda pemudi kampung ini yang menemukan jodoh atau pasangan mereka berawal dari nomor hape, lalu surat menyurat lewat aplikasi yang disediakan hp, lalu telpon telponan. Lalu mereka menjalin hubungan istilah akrabnya pacaran, Selanjutnya waktu yang menyatukan mereka di pelaminan. Tapi barang yang bernama handpone itu hanya sering kulihat, tak ingin kumiliki. Prinsibku sangat kuat mengenai hape ini, saat kuyakini punya hp lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, apalagi harus dimasukkan kartu yang menarik biaya berupa pulsa. Aku tak ingin tersentuh dengan barang modern ini. Lagipula selama ini aku tidak perlu hape dan mampu bertahan tanpa hape. Yang kebanyakan orang terjangkit virus tehnologi, sulit untuk tidak memiliki hape, bahkan katanya tukang sayur pun kudu punya hape. Ah, aku tak peduli, yang berani kulakukan hanya lalu lalang di depan dagangan gadis penjual ikan sepat asin yang namanya tak kutahu, meliriknya sesekali. Hanya itu saja.
Jika setiap aku berangkat ke pengajian Muallim Rahmat, jalanan 10 meter dari Alabio ke Amuntai dengan sepeda bergigi ini akan semakin dramatis bagiku, demi menuntut ilmu, belajar kitab gundul, kitab berbahasa Arab tanba baris dan tulisannya kecil dan rapat. Setelah tamat 6 tahun pesantren di Martapura kusambung pendidikanku lewat pengajian guru Amat yang sangat kuhormati ini. Hanya demi ilmu, setiap tanjakan sepeda yang kukayuh, setiap butir keringat kian mengalir membasahi bajuku, dan setiap aku membelok dan menghindari lubang-lubang yang menganga di jalanan. Aku terpukau dengan kalimat-kalimat ilmu, terpukau dengan pengorbanan Salman al Farisi, dengan semangat Imam Ghazali, kegigihan imam Bukhari, perjuangan imam Nawawi. Ilmulah yang memberikan efek dahsyat itu. Mereka menghabiskan umur mereka untuk ilmu.
Setiba di majlis, biasanya akulah murid yang paling awal datang, terkadang bisa juga Ijai temanku yang gendut itu yang paling awal datang, rumah Ijai memang juga di Amuntai sekampung dengan muallim Rahmat. Ijai adalah temanku yang teramat istemewa, cerdas dan mempunyai semangat menuntut ilmu yang tinggi. Pemuda sepertinyalah yang ingin kujadikan sebagai teman, andai pemuda-pemudi sekarang mempunyai semangat sepertinya, semangat yang positif. Tetapi kebanyakan pemuda sekarang lebih memilih untuk menghabiskan waktu emas mereka untuk main-main, bercanda, suka ikut-ikutan dan narsisme yang tinggi. Aku dan Ijailah yang menghidupkan suasana santri di majlis guru kami ini. Tapi Ijai lebih beruntung dariku. Ijai sudah beristri dan mempunyai 2 anak.
Saat orang-orang memilih pendidikan mereka di suatu lembaga bernama, bertampat di gedung-gedung bertingkat, mempunyai absent kehadiran, didatangi oleh pengajar-pengajar, ditest, dipilih, disediakan kursi-kursi, duduk dengan terhormat, pakaian yang licin dan rapi, serta bersepatu. Mereka menikmati penjelasan pengajar yang bervariasi, ada yang menggunakan papan tulis, ada juga dengan alat proyektor dengan gambar, music dan pemutaran movie, mereka tunduk dengan aturan-aturan formalitas. Maka di majlis ini, aku duduk di lantai, di depan meja kecil untuk kitab-kitabku yang usang, papan tulis hitam yang buram menggunakan kapur, di tempat bersudut empat yang pengap tanpa kipas angin, bersandal dan tanpa absent, setiap penjelasan Muallim kusimak dengan khidmat, tidak ada diskusi, konseling dan tugas makalah maupun persentasi. Hanya duduk dan tenang, syahdu.
Tapi aku tidak pernah membatasi pendidikanku di tempat bersudut empat, dan terpaku hanya dengan huruf-huruf di kitab, Aku menganggap apa-apa yang kuperoleh di tempat bersudut empat itu hanya sebagai pengenalan teori ilmiah. Lebih dari itu, aku memilih pendidikan berstandar jagat raya, menyatu dengan alam, menyelami kehidupan. Dari sinilah aku memperoleh pendidikan akan lika-liku kehidupan, hakikat segala sesuatu, teori akhir zaman, perubahan, dunia hanya permainan dan senda gurau. Madu, semanis itulah pendidikan yang kudapat dari alam.
Walau kenyataannya aku tetap iri dengan gaya mereka yang sedia diatur oleh formalitas kedisiplinan, digajih dan berseragam. Seakan kehidupan lebih memihak mereka yang berseragam. Aku merasa seperti bintang yang kalah sinar dan ditutupi oleh awan hitam dalam kegelapan. Tapi senandungku tetap sama, untuk selalu bertahan.
Hari-hari tetap berlalu, mengalir setenang air, kadang ada beriak-beriak masalah, dan buih-buih kejadian yang akhirnya berakhir juga. Masa depan masih menjadi misteri yang tak bisa diramalkan, apalagi untuk meramal surgakah yang menjadi akhir pilihanku atau neraka yang akhirnya menjadi takdirku. Aku menikmati dan memposisikan diriku sebagai makhluk yang biasa, bukan siapa-siapa dan tak tercatat di daftar manusia-manusia hebat dunia. Hanya petani dan peternak itik yang suka menyelami sari kehidupan dari pendidikan alam. Keinginanku untuk menjadi pegawai yang berseragam hanya keinginan tak bermakna, pikirku yang polos, jika aku berseragam dan digajih, aku akan lebih mudah mendekati gadis penjual ikan sepat asin di pasar senin yang tak kutahu namanya, dan akhirnya melamarnya dengan jujuran[14] melebihi standar kampung. Dan jika aku berseragam dan digajih aku akan bisa mendapat senyum bangga ibu dan adik-adikku, mereka tak perlu khawatir lagi aku akan menjadi si tukang khayal, si bujang atau sipecundang kampung. Tapi cukup menjadi Udin Kaum pun aku sudah bersyukur. Kehidupan tak selalu seperti yang diterka. Ada rahasia dibalik rahasia.
Akhir kemarau berlalu sampai keakar-akarnya, langit menjadi sendu, dan hujan mengguyur bertubi-tubi menjatuhi bubungan atap rumbia[15]. Dua tiga wadah air ditanai[16] untuk menampung air yang mentetes dari atap yang bocor. Listrik lebih sering padam pada musim hujan ini, ituk-itik berpesta pora dengan cucuran-cucuran yang menggelikan. Jalanan becek bercampur dengan kotoran itik yang memadukan aroma yang menusuk penciuman. Semangatku tak pernah luntur walau usia semakin berlalu dan musim seakan tak pernah mendukung semangatku. Aku akan tetap bertahan.
TAMAT



[1] ayah
[2] Penyakit kurang gizi
[3] Bebek ternak
[4] Makanan bebek
[5] Ikan asin
[6] Tanah yang ditumbuhi rumput liar tapi masih bisa ditanami sayur-sayuran
[7] ladang
[8] Banyak dan berdekatan
[9] Tempat mandi terbuka di sungai
[10] Kepala desa
[11] Bilal atau muadzin
[12] Nahdhatul Ulama, suatu kelompok persatuan ulama Indonesia untuk membidangi hukum syariah sesuai keyakinannya
[13] Jenis ikan laut, ketika kering dan menjadi ikan asin bisa dijadikan umpan itik
[14] Pemberian calon penganten pria untuk mempelai wanita sebelum akad, dapat disamakan dengan mahar atau maharnya ditentukan secara khusus sesuai kesepakatan
[15] Atap yang terbuat dari daun rumbia kering dan diayam
[16] ditadah

Minggu, 11 September 2011

sambungan cerpen kanker jg makhluk Allah


Setiap kulihat lagi keadaan paman, pamanku yang malang… kanker itu menimbulkan benjolan sebesar telur puyuh di samping kanan leher beliau, kanker itu sangat dekat dengan urat nadi penyambung nyawa beliau. Aku pernah menghayal kanker itu bersandiwara dengan si nyawa, semacam menipu daya… pernah juga aku berdialog dengan kanker tersebut,  ah kanker, aku mengusap benjolan kanker itu,, sambil ku berbisik…
“Kau juga makhluk tuhan kanker, sekarang kau berada di tempat yang menyakitkan hamba Allah yang lain…hadirmu sangat dibenci, wahai makhluk yang ganas,,, luluhlah… luluhlah, bukankah kau juga makhluk Allah yang tidak ingin menyakiti makhluk Allah yang lain… sungguh demi Allah Tuhan Semesta Alam yang menciptakan aku, dirimu, pamanku dan seluruh makhluk yang lain…. Luluhlah,, hilanglah,,, pergilah,,, enyahlah,,, lenyaplah dan biarkan hamba tuhanmu ini mempertahankan hidupnya..”
Aku berbisik kepada kanker itu, tapi hatiku lebih didominasi keraguan, ketakutan… aku berhalusinasi kanker itu berubah menjadi monster yang ingin memangsaku… aku ragu saat itu… dan takut. Makhluk itu kecil namun sungguh ganas… na’udzubillah min dzalik..
Sebenarnya aku juga sering berdoa “Allah begitu mudahnya bagimu untuk melumpuhkan kanker paman itu ya Allah. Sekejap tak perlu banyak alat seperti mereka maka ya Allah dengan kuasamu.. enyahkanlah makhlukmu yang bernama kanker itu dari tubuh paman..” kira-kira seperti itulah doaku kesekian kalinya, aku ingin membuktikan kepada seluruh dokter, perawat, diriku sendiri dan semua orang begitu gampangnya melumpuhkan kanker itu, mengapa orang-orang berfikir kanker adalah pembunuh yang ganas. Toh kanker juga makhluk tuhan. Mudah takluk, mungkin jika kubisikkan kepada kanker itu dengan takzim dan keyakinan.. “luluhlah kau kanker karena Allah…!” naluriah kanker tunduk dan patuh karena Allah dan dia akan menghilang. Tapi aku belum bisa menghilangkan keraguanku sebagaimana para dokter itu, kesembuhan paman sangat tipis. Keraguan itu yang membuatku pasrah dan tidak maksimal berdoa.
Pamanku sudah kehilangan total suaranya, yang terdengar setiap dia berbicara hanya suara angin dan desis..namun paman tak pernah berputus asa, semangat dan keyakinannya yang membuat kami masih bertahan. Sulitnya untuk merenungi sebuah nasib, itulah yang melanda hari-hari pasien di rumah sakit ini, termasuk keluarga penunggu. Kenapa ku bilang sulit,,, keadaan kami sangat memilukan, ada kata yang tepat menurutku saat itu,, sial… astagfirullah.. tapi itulah yang kurasakan saat itu ketika ku merasa begitu sesak dengan perasaan sedih dan tak kuasa,,, kenapa, mereka tetap tidak bisa sadar, di antara mereka ada yang menyumpah serapah, mengaduh-ngaduh dan kesakitan… masa lalu lah yang mengungkapkannya… mereka memang suka melaknat,,, Allah,, tolonglah mereka,, haruskah mereka menanggung dua derita… derita badan dan derita iman??? Allah penyakit ini bisa menjadikan dosa kami terhapus oleh-Mu seandainyua kami mnyadarinya dan bersabar,,, namun bisa juga menjadi bala, bencana bagi kami jika kami tak sabar… Allah, jangan bebankan sesuatu yang kami tak mampu menanggungnya… ya Allah, kepadamulah kami berlindung dan kembali….
Setelah kemo terakhir itu paman bertambah lemah, biasanya perlu kira-kira satu bulan dulu untuk memulihkan kekuatan tubuhnya setelah berkemo. Karena kemo di samping merontokan sel-sel kanker yang siap beranak piak, tapi juga menyerang ketahanan tubuh yang lain, kemo juga ikut membakar sel-sel yang baik. Akhirnya walau benjolan itu mengempes, tapi paman semakin kurus dan tak berdaya. Akhir kemo yang sangat melelahkan, kemo itulah yang berlahan menghilangkan  kekuatannya. Paman sama sekali tidak ingin makan, satu lagi efek pengaruh kemo, tak sebiji nasi yang diberikan perawat itu yang mau ditelannya. Paman sering meludah dan sangat lemah. Paman menjadi hilang keseimbangan untuk bangun, terkadang dia tejatuh sendiri di kasurnya dari duduknya. Kakinya tidak mampu lagi untuk menahan beban tubuhnya, lemah tak berdaya.
Pernah suatu ketika, paman tiba-tiba seperti kehilangan nafas, bola matanya terbalik ke atas. mulutnya meringis sambil meringsut seakan itulah detik sang izroil menarik nyawanya… Aku bingung tak kepalang, aku memanggil dan menepuk-nepuk punggungnya agar dia sadar.. Aku kalut, inilah akhir detik-detik paman yang sebenarnya akhir penantian kami.. Aku tak mampu menangis, aku berusaha bersikap bijak. Orang-orang mendekati ranjang paman. Paman tetap tak sadar dan tetap berusaha membantu Izroil menarik nyawanya. Hal yang ku lakukan,,, aku berbisik di telinganya mengucap dan menuntutnya mengucapkan kalimat tahlil, laa ilaaha illa Allah… sesering yang bisa kulakukan.. Mata paman seketika juga kembali normal menatapku , dan ringisan sakitnya menjadi ringisan tangis… paman menangis namun dia tetap kesulitan untuk mengembalikan ketenangannya. Paman menangis dan menatapku, pamanku yang malang tetap bertahan… aku kikuk saat itu, aku senang tapi malu, Dokter datang, paman berlahan menjadi stabil kembali. Ada perasaan baru di hatiku, mungkin malu dan merasa bersalah saat aku mengira dia sudah mengalami sakratul maut dan saat aku membacakan tahlil di telinganya.
Saat-saat terakhir itu semakin jelas, namun seperti dokter dan perawat-perawat itu, aku pun semakin memaklumi dan membiarkan segalanya berjalan hingga tiba sendiri keputusan akhir tentang diri paman. Ah, dokter-dokter itu kusebut mereka pahlawan berseragam malaikat. Mereka begitu bersih, rapi, harum dan bercahaya. Sungguh begitu berkelas. Oleh karena itulah aku sungguh malu dengan penampilanku yang serba sederhana. Salahku sendiri, hanya beberapa lembar pakaian yang kubawa, akhirnya terkadang 3 hari hanya satu pakaian yang kupakai. Sedangkan para dokter dan perawat itu begitu putih dan mereka semua terlihat jelita dan gagah. Makanya saat dokter cantik menyapaku dan memanggiku “mbak” ah betapa malunya. Mungkin penampilanku selain terlalu sederhana dan berantakan tapi terkesan keibuan. Aku setiap hari di sana memakai rok, baju panjang dan memakai jilbab panjang. Tapi lebih untung lagi aku tidak dipanggil ustadjah.
Ketika perawat datang untuk menyuntik paman atau mengganti botol infusnya, aku terdiam dan memerhatikan mereka. Sungguh eskotis… terkadang aku merasa menyesal kenapa aku tidak mengambil perkuliaan jurusan perawat. Ya, begitu mahal, selama ini aku kuliah di tempat yang tidak memungut biaya bahkan memberikan beasiswa. Tapi aku merasa iri dengan mereka. Mereka berjiwa pahlawan dan lembut bervisi mulia menyelamatkan nyawa-nyawa manusia. Sedangkan selama ini ilmuku belum mampu juga kumanfaatkan. Mereka memang pahlawan berseragam malaikat.
Tapi, ada satu hal yang aku tidak mengerti dari tindakan pahlawan berseragam malaikat itu. Mereka memang tulus dan berusaha untuk kesembuhan pasien, tapi pasien-pasien itu kebanyakan dari mereka satu persatu berakhir oleh kematian. Apakah mungkin di ruangan ini memang terkumpul penyakit-penyakit ganas. Sebagian memang ada yang bisa bertahan tapi mereka tidak mengalami kesembuhan total. Kasihan, tapi realitanya seperti yang dialami paman. Penyakit kankernya memang sangat ganas, sehingga dokter mem beri keputusan kanker itu dikemoterapi, salah satu alternatife mematikan sel-sel kanker itu, tapi akibatnya lebih fatal. Daya tahan tubuh paman nyaris hilang, lemah, mual, tak nafsu makan, gemetar dan lain-lain.  segitu kerasnya obat yang diberikan dokter itu sampai-sampai seluruh rambutnya rontok. Paman sangat memprihatinkan walau benjolan kanker sudah mengempes dan merata dengan kulit lain.
Ada satu hal juga yang tak kutemukan dalam pengobatan ini, pengobatan pengembalian naluriah penyakit menjadi netral sebagai sesama makhluk lain yang juga bertugas sebagai hamba Allah yang selalu bertasbih memuji-Nya, pemahamanku ini teramat sederhana dari firman yang teramat istemewa.
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”(al-Isra :44)
Banyak lagi ayat-ayat serupa seperti itu yang intinya aku memahami kanker juga makhluk Allah, sebagaimana aku yang bodoh ini juga manusia. Kanker berkembang biak sebagaimana manusia juga beranak pinak. Permasalahannya mungkin pemahamanku ini tepat, tapi dapatkan dimasukkan ke daftar menu pengobatan ala modern yang serba canggih dengan beribu alat tapi kenyataannya memang lumpuh hanya untuk memahami kanker juga makhluk Tuhan walaupun ganas. “kesembuhan semu” setiap aku melihat alat-alat yang tak kuhapal namanya dan tak kupaham fungsinya itu aku yang terlalu kerdil ini hanya berfikir “aha, doalah jawabannya” Doa adalah obat bagiku karena yang kubisa hanya berdoa. Oh, pahlawan berseragam malaikat…
Kutuliskan sebuah puisi untukmu wahai para dokter, perawat dan kalian yang berjiwa mulia pahlawan berseragam malaikat… teruntuk kalian dari si kerdil gadis yang berusaha memutar otaknya untuk memahami arti dari kesembuhan semu…
Si putih yang jelita
Si putih yang rupawan
Begitu suci, harum, semampai dan eksklusif
Rambut mereka bak sutra tipis
Merangkai bentuk penutup semacam kerudung
Berayun-ayun diikuti gerak ayu dengan symbol eskotis
Jejaran gigi yang berkilau sempurna
Gerak yang teratur dengan catatan-catatan penting
Erat di genggaman jemari yang lentik berujung kuku nan bening
Langkah yang pasti
Tawa mereka pun terdengar berkelas
Senyum dari seseorang yang berkarisma
Penuh keyakinan dan kelembutan
Mereka berseragam malaikat
Dengan visi dan misi yang suci
Menolong raga yang sakit
Tempat mengadu keluhan setelah Tuhan
Mereka berseragam malaikat
Orang-orang pilihan dan hidup memang pilihan
Merekalah dengan dengan formalitas bernama dokter dan perawat
Sepenuhnya untuk raga yang sakit, jiwakah juga?
Wahai pahlawan berseragam malaikat
Kami rasa raga ini hanya cidera
Derita yang dalam ada pada jiwa ini
Kanker jiwa yang semakin memakan usia bathin ini
Pedulikah wahai pahlawan berseragam malaikat….
Sentuhlah raga ini
Kemana akal kalian mengembara
Penyakit ini tak mungkin hilang
Bersembunyi di celah jiwa kami
Dan perkataan kalian tentang kesembuhan ini
Apakah sebuah kesembuhan semu…
Seakan jiwa telah lumpuh tuk menyadari
Betapa mulia hadir kalian
Namun jiwa kami tak butuh kesembuhan dari raga yang hanya cidera ini
Pertanyaan dari kami yang bodoh
kepada kalian yang cerdas dan mampu membayar mahal pendidikan kalian yang berkelas
kamikah yang bodoh…?
Atau kaliankah yang tertipu dengan sebenarnya penyakit yang mungkin sama-sama kita punya
walau, siapapun mengakui
Beribu manusia datang kepada kalian
Mengeluh bersedu sedan
Memohon kehidupan
Namun satu permohonan kami
Untuk sebuah harapan yang menuli butakan semua orang
Janganlah tambah kebodohan kami
Akan kesembuhan raga yang semu ini…
Kutulis puisi itu di kertas dengan tulisan ceker ayam ala cacing berjoget,,, sebelum paman keluar dari rumah sakit, kuletakkan puisi itu di atas meja pasien… Kuharap para dokter itu mengerti, walau aku sendiri masih belum puas dengan pemahamanku, selamat tinggal pahlawan berseragam malaikat.
Segala hal bisa berakhir penuh hikmah tergantung seberapa besar pemahaman mengenai hakikat segala hal tersebut. Sejuta misteri masih belum terpecahkan oleh tiap-tiap kejadian dalam hidupku, begitu juga peristiwa ini, selang dua hari setelah paman keluar dari rumah sakit paman meninggal dunia akibat kekurangan HB darahnya. Paman yang malang namun paman telah menjadi sosok yang begitu suci melebihi pahlawan berseragam malaikat. Karena paman telah mebuktikan arti dari kesembuhan semu, raga yang pasti mati ini tak perlulah sangat dikhawatirkan… karena tanpa penyakit pun raga bisa mati,,, sedangkan jiwa sekecil apapun penyakit yang ada padanya jika tidak segera ditangani dan disembuhkan, akan berubah menjadi kanker jiwa yang ganas membunuh karakter dan melumpuhkan keimanan. Akhirnya dia mati walau baru dimakamkan setelah raganya mati.
TAMAT